08 May 2013

Movie Review: Future Weather (2012)


Sangat senang melihat sebuah film yang mengusung sesuatu yang ambisius, dimana ia secara tersirat menjadikan anda merasakan sebuah rasa percaya diri yang begitu tinggi dari apa yang akan ia berikan. Wanita muda sebagai karakter utama, brokenhome, digabungkan dengan sebuah riset science yang kompleks dan terkesan brilliant, Future Weather seperti sebuah paket yang menjanjikan.

Lauduree (Perla Haney-Jardine), punya sebuah keistimewaan yang luar biasa dibalik penampilannya yang sederhana. Wanita muda berusia 13 tahun yang tinggal bersama ibunya Tanya (Marin Ireland) di sebuah kompartemen sewaan ini memiliki pengetahuan yang luar biasa di bidang science. Gemar menyendiri dengan gaya cuek yang ia miliki, diam-diam Lauduree sedang membangun sebuah research yang mecoba untuk mencari tahu tumbuhan apa yang paling besar menkonsumsi karbondioksida untuk membantu mengurangi pemanasan global.

Namun sayangnya, semua upaya mengumpulkan data selama enam bulan menghadapi cobaan ketika ibunya Tanya memutuskan untuk mengejar impiannya menjadi seorang make-up artist, menuju California dan meninggalkan Lauduree seorang diri. Akibatnya, Lauduree dipaksa tinggal bersama neneknya, Greta (Amy Madigan), yang ternyata juga punya sifat keras seperti dirinya, serta permasalahan personal dengan ibunya Tanya, yang ikut memberikan dampak pada riset yang sedang ia bangun.


Hal utama yang Jenny Deller ingin hadirkan sebenarnya cukup menarik. Deller mencoba mengangkat tema pemanasan global lewat karakter utama, dan sebuah research yang rumit dan menarik untuk menambah kompleksitas cerita. Sayangnya semua berubah menjadi runyam ketika ia gagal mengeksekusi dengan manis beberapa sub-plot yang sesungguhnya punya potensi untuk menambah warna dan daya tarik dari konflik utama, berawal dari sedikit unsur drama, dan berakhir pada gagalnya permainan konflik emosional yang ia hadirkan melalui tiga generasi yang berbeda.

Jika disusun secara urut, Future Weather tampil cemerlang diawal cerita, dimana ketika itu karakter Lauduree masih dominan bergerak bebas seorang diri membawa misteri yang ia punya, riset ambisius hingga konflik internal dirinya dengan sang ibu. Film ini mulai kehilangan daya tariknya ketika Lauduree mulai terperangkap bersama Greta. Bukan karena Amy Madigan tidak memberikan performa yang menarik (bahkan performanya sejajar dengan Haney-Jardine yang notabene adalah karakter utama), namun karena Deller yang tidak mampu menjaga agar Lauduree tetap berada di posisi terdepan untuk menuntun penontonnya berjalan bersama cerita.

Yak, sejujurnya setalah bagian pembuka berakhir film ini mulai mengalami stuck, baik dari segi cerita, daya tarik, hingga karakter. Anda tahu ada sebuah konflik utama yang menjanjikan, namun cerita tidak mengalami perkembangan yang menarik. Berputar-putar bersama sebuah misteri utama yang celakanya di tempatkan sejajar dengan dua konflik pendukung yang tidak mampu menaikkan tensi cerita. Sejak posisi itu film ini bergerak datar, yang dibeberapa titik bahkan cukup membosankan akibat kehilangan control pada fokus utama yang ia bawa sejak awal.

Harus diakui Future Weather punya beberapa dialog cerdas yang berisikan pesan yang sangat sangat menarik tentang betapa pentingnya menjaga lingkungan hidup beserta ancaman yang mungkin terjadi, yang hebatnya disampaikan secara singkat dan jelas, meskipun tidak memiliki power yang begitu kuat sebagai sebuah kritik tajam. Sayangnya, beberapa punch yang ia berikan lewat dialog-dialog tadi tidak cukup untuk mendongkrak cerita akibat cara familiar yang ia gunakan sudah terlanjur terbaca oleh penontonnya.

Perla Haney-Jardine mungkin adalah bagian lain yang menjadikan film ini begitu memorable. Penampilan sangat manis, dari cara ia membangun karaternya menjadi sangat menjanjikan sebagai seorang wanita muda yang cinta mati dengan science, tertekan akibat ulah dari ibunya, sampai upaya gigih untuk menyelamatkan bumi dengan riset ambisius yang ia miliki. Andai saja Deller memilih untuk lebih fokus kepada konflik yang Haney-Jardine miliki, film ini pasti akan menjadi sangat menarik, karena dua konflik pendukung yang dihadirkan seolah hanya sebagai pemanis karena impact yang ia berikan kepada konflik utama tidak begitu besar.


Overall, Future Weather adalah film yang cukup memuaskan. Ya, ini mungkin akan begitu cepat berubah menjadi paket yang membosankan, namun pesan utama yang dia olah dengan begitu baik sepanjang film sangat mampu tampil impresif, meskipun diluar hal itu ia kurang punya hal istimewa lainnya dalam jumlah yang besar. Yap, ini adalah film guilty pleasure terbaru saya, kurang menarik dan cenderung membosankan, namun sulit untuk menampik bahwa saya tidak merasakan sedikitpun rasa puas ketika ia berakhir.



0 komentar :

Post a Comment