01 July 2013

Movie Review: 42 (2013)

 

"Dollars aren't black and white, they're green."

"You want a player who doesn't have the guts, to fight back?" "No, I want a player who's got the guts not to fight back." Ini dia, salah satu cara yang sebenarnya paling baik dalam menghadapi masalah, dimana tekanan terus datang silih berganti tanpa henti, namun hanya dengan confident serta kemampuan dalam mengontrol diri sendiri semua akan berakhir indah. Yap, seperti sebuah quote dari Yaira N, “Haters don't really hate you, they hate themselves, because you're a reflection of what they wish to be.”

42, sebuah biopic yang bercerita tentang kisah seorang pria bernama Jackie Robinson (Chadwick Boseman) yang membuka sejarah terbukanya kesempatan dari masyarakat berkulit hitam tampil pada salah satu olahraga paling digemari di USA, Baseball. Semua berawal dari sebuah ide kontroversial yang dicetuskan oleh Branch Rickey (Harrison Ford), pria tua yang menjabat sebagai tim eksekutif Brooklyn Dodgers, dimana ia hendak merekrut Jackie dan menjadikannya sebagai pion untuk menghancurkan dinding pembatas yang begitu tinggi antara hitam dan putih di USA pada tahun 1945, tepat ketika perang dunia ke-2 berakhir.

Berawal dari Kansas City Monarki, sempat singgah di Montreal Royals, dan berakhir di Brooklyn Dodgers, permasalahan yang dihadapi Jackie justru bertumpu pada dirinya sendiri, ketika sikapnya yang temperamental dan suka berdebat dengan umpire hingga dijuluki sebagai seorang troublemaker, dan harus berhadapan dengan hujatan serta cemooh dari para penonton, bahkan tekanan dari pelatih lawan, wasit, hingga pihak keamanan dan rekan satu timnya, kemampuan Jackie diuji yang menjadikannya seperti sebuah balon yang siap meledak.


42 berhasil menjalankan tugas utamanya sebagai sebuah film biography dengan sangat baik. Apa yang ingin anda dapatkan dari sebuah biopic berhasil dihantarkan oleh Brian Helgeland secara tepat guna, dimana ia mampu mengolah tema utama yaitu rasisme yang masih sangat kental di akhir perang dunia kedua menjadi sebuah perjalanan penuh pelajaran menarik dalam membangun perjuangan hidup dalam balutan kisah nyata di dunia olahraga. Tidak dapat dipungkiri ini adalah kemasan yang sangat inspiratif, yang bahkan menjadikan durasinya yang begitu panjang itu tidak menjadi sebuah beban.

Penyebab utamanya berasal dari cara film ini bercerita, simple, namun efektif. Sebut saja di sepertiga pertama film, dimana karakter Jackie masih coba dibangun. Bagaimana kejamnya rasisme kala itu di kombinasikan dengan baik bersama porsi yang diberikan kepada karakter utama, sehingga setiap ketegaran dan kesuksesan yang ia peroleh dapat divisualisasikan dengan baik. Alur cerita juga bergerak mulus, dengan perpindahan antar konflik yang terasa apik dan saling membantu tanpa menjatuhkan pendahulunya. Hal ini menjadikan apa yang telah ia bangun diawal menjadi tidak terlupakan begitu saja.

Apa yang menjadi hal paling menarik dari 42 adalah dimana ia tidak berupaya untuk menjadi sebuah biopic yang megah. Helgeland mencoba untuk menjadikan film tampil sederhana dengan teknik penceritaan yang akan terasa sedikit kaku dibeberapa bagian, namun sukses dalam menghindari sesuatu yang mungkin dibenci beberapa orang dari sebuah film biopic. Yak, 42 tidak terkesan menggurui, tidak mencoba menjadikan dirinya tampak pintar, namun sebaliknya membentuk kisah yang ia bawa menjadi pintar. Hal lain yang menjadikan film ini menarik adalah kemampuan dari Helgeland dalam mengontrol tiap adegan agar tidak ditekan begitu keras, stabil.

Tapi disini justru muncul resiko dari keputusan tadi, sebuah titik balik yang sebenarnya sangat implisit dampaknya pada film, namun terasa cukup mengganggu. Ketika anda sudah mendapatkan semua hal terbaik yang dimiliki film ini, anda akan masuk kedalam sebuah ruang cerita yang anehnya terasa baru dimana ia mulai tampak bingung harus berbuat apa. Mulai hadir beberapa bagian yang diekskusi tidak begitu baik, menurunkan dengan frontal daya tarik cerita terutama dari sisi heroik karakter utama, mulai membosankan, dan tidak berakhir pada puncak tertinggi. Tidak begitu merusak, namun jelas menghilangkan potensi yang ia tampilkan sejak awal.

Meskipun begitu Helgeland patut berterima kasih pada cast ia miliki karena mampu membangun karakter yang mereka miliki dengan baik. Bukan hanya Chadwick Boseman yang tampil baik dalam menghadirkan sosok penuh ketegaran, serta Harrison Ford dengan misi utama membawa optimisme dalam cerita, namun para pemeran pendukung lainnya juga tampil memikat. Ada Andre Holland yang berperan sebagai Wendell Smith, menjadi supporter yang baik dalam menjaga kasus rasisme, Christopher Meloni dan Alan Tudyk yang mampu menjadi scene stealer, serta Nicole Beharie sebagai istri Jackie.


Overall, 42 adalah film yang cukup memuaskan. Ia punya tekanan layaknya The King's Speech, namun disisi lain mampu menghadirkan sebuah perjuangan bertemakan kaum minoritas yang dikemas lembut seperti apa yang ditampilkan oleh The Blind Side. Sederhana, efektif, tidak menggurui, dan penuh dengan pelajaran hidup yang menarik. 42 mampu menjalankan tugas utamanya sebagai sebuah film yang inspiratif.



0 komentar :

Post a Comment