"I will help my friends, no matter what."
Di tahun 2010 Tim Burton menciptakan versinya dari
kisah klasik karya Lewis Carroll yang
telah berulang kali diadaptasi ke dalam bentuk hiburan visual, Alice in Wonderland, sebuah petualangan
fantasi dengan presentasi visual dan kostum yang begitu memikat meskipun terasa
"biasa" di bagian cerita. Menghasilkan lebih dari $1 Milyar yang
sempat membawanya menempati peringkat kelima highest-grossing film of all time kehadiran sekuel bukan merupakan
sebuah kejutan. Pertanyaannya kembali sama, apakah ini mampu mengulangi
kesuksesan sembari memperbaiki minus yang dihasilkan oleh film pertamanya? Visually enchanting, Alice Through the
Looking Glass is a needless sequel, a tasteless candy.



%2Bposter.jpg)
+poster.jpg)

