First of all kita sepertinya harus mengucapkan terima kasih kepada Deadpool karena berkat kesuksesan yang ia capai tahun lalu film superhero dengan R-rating kini tampak menjanjikan dan menarik. Mass appeal tentu akan memperoleh "dampak" signifikan namun di sisi lain hal tersebut juga membuat filmmakers semakin “bebas bernafas” dalam menyajikan para superhero. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab mengapa film yang (mungkin) akan menjadi akhir dari era salah satu karakter paling ikonik di Marvel Universe’s ini seperti menjadi sebuah angin segar bagi film-film superhero yang kini terasa semakin generic. Logan: the ultimate Wolverine film with lovely heat and heart.
Showing posts with label Boyd Holbrook. Show all posts
Showing posts with label Boyd Holbrook. Show all posts
Review: Morgan (2016)
Sebuah science fiction psychological thriller
berjudul ‘Ex Machina’ berhasil
menjadi salah satu kejutan terbesar di industri film tahun lalu, memainkan isu
klasik tentang teknologi yang digunakan untuk mencoba memprovokasi dan
“mempermainkan” penontonnya lalu in the
end will leave you breathless. Isu yang sama coba dihadirkan kembali oleh
film ini, Morgan, sebuah science
fiction horror dengan fokus utama pada sebuah eksperimen “manusia menciptakan
manusia” yang sedang terancam gagal. It’s
an alike-but-not-alike imitation and an action-horror version of Ex Machina.
Review: Jane Got a Gun (2016)
"I will kill you."
Sejak pertama kali diumumkan
akan diproduksi pada tahun 2012 yang lalu film ini telah mengalami banyak
masalah dengan Natalie Portman
sebagai anggota asli yang bertahan di posisi aslinya hingga akhir. Dari Michael Fassbender, lalu Jude Law, hingga Bradley Cooper, kemudian ditinggal oleh sutradara, hingga kasus
bangkrut rumah produksi, Relativity
Media, akhirnya proyek bermasalah dengan judul Jane Got a Gun ini sukses menemukan senjata yang akan ia gunakan
dan berhasil menyapa penonton. Pertanyaan berikutnya adalah apakah senjata itu
punya peluru yang cukup atau tidak? Jane masih butuh Thor!
Movie Review: Run All Night (2015)
“One night, and you’ll
never have to see me again.”
Film action terbaru
dari Liam Neeson setelah menyatakan
pensiun sebagai pria yang berulang kali kehilangan anggota keluarganya ini
merupakan kemasan yang ambigu. Diawal ia akan mampu menaikkan ekspektasi anda
padanya, membuat anda bergumam “wah, ternyata cukup menarik,” sebuah perpaduan
berbagai elemen klasik action thriller
dan membentuk kekacauan yang cukup menyenangkan, a good enough mess. Namun
sayangnya perlahan ia justru berubah dan menampilkan hasil yang kontradiktif
sajian di bagian pembuka itu. Run All
Night: like Joker trying to
look thoughtful but ends quite dull.
Movie Review: A Walk Among the Tombstones (2014)
"People are afraid of all the wrong things."
Apa yang pertama kali melintas di pikiran anda ketika
melihat poster diatas mungkin adalah sebuah film yang mencoba memberikan
sensasi misteri kejahatan dengan menebar ketegangan menggunakan adegan aksi
bersama limpahan peluru yang mendominasi. Pistol dan peluru itu memang ada,
namun ternyata hanya sebagai pemanis dari sebuah action drama yang bergerak
tenang untuk mempermainkan penontonnya. A
Walk Among the Tombstones, an effective thriller package, which seriously like
walking among the tombstones.




%2Bposter.jpg)
%2Bimage%2Bposter.jpg)