Showing posts with label Brendan Gleeson. Show all posts
Showing posts with label Brendan Gleeson. Show all posts

Review: Live by Night (2016)


"We’re all going to hell."

Jika kamu masih ingat salah satu topik menarik di antara moviegoers pada tiga tahun yang lalu mengandung sutradara film ini di dalamnya, yaitu Ben Affleck. Saat itu Ben terpilih untuk memerankan Batman pada rencana besar DC membangun universe mereka dan kemudian hadir pertanyaan apakah Ben layak untuk memerankan tokoh ikonik tersebut. Tapi hal lain yang juga tidak kalah menarik adalah dengan terpilihnya dia sebagai Batman lalu bagaimana dengan kiprah karir Ben Affleck yang kala itu sedang mekar sebagai sutradara mengingat setahun sebelumnya ia memproduksi Argo. Now he’s back with ‘Live by Night’, but, yeah, he’s back.

Movie Review: Assassin's Creed [2016]



"We work in the dark to serve the light."

Mengadaptasi karya Shakespeare ke cinema bukan sebuah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan tapi tahun lalu Justin Kurzel berhasil mengeksekusi 'Macbeth' dengan sangat baik. Kali ini ia kembali mencoba melakukan sebuah proyek yang dapat dikatakan menantang meskipun telah menjadi pemandangan yang familiar belakangan ini yaitu mengadaptasi sebuah video game dan membawanya menuju cinema. Apa yang Justin Kurzel tampilkan di Macbeth tidak serta merta membuat calon penonton merasa sepenuhnya yakin untuk menaruh ekspektasi tinggi pada 'Assassin's Creed' karena ini merupakan adaptasi dari sebuah video game series, something yang hingga kini selalu lebih akrab dengan kata gagal.

Movie Review: Harry Potter and the Goblet of Fire (2005)


"Lord Voldemort has returned!"

Lewat ‘Harry Potter and the Prisoner of Azkaban’ sutradara Alfonso Cuaron berhasil melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam “perkenalan” tone yang lebih darker ke dalam petualangan Harry Potter dan teman-temannya di dunia sihir, sebuah start yang kini coba diekspansi pada film keempat, menaruh fokus pada isu terkait adolescence dan tentu saja menjadi arena bagi perkenalan dari the one and only, Lord Voldemort. Berikut adalah film keempat dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Goblet of Fire, a good welcome to dark and difficulty.

Review: In The Heart Of The Sea (2015)


"The tragedy of the Essex is the story of men. And a Demon."

In the Heart of the Sea merupakan sebuah film yang mengejutkan, dan sumbernya adalah sang sutradara Ron Howard. Salah satu keahlian dari Ron Howard sebagai seorang sutradara adalah ia akan membawa kamu sebagai penonton untuk tidak hanya sebatas berkenalan dan tahu terhadap konflik dan karakter, kamu dibawa masuk kedalam cerita dan merasa dekat dengan karakter, paham dengan taruhan dari konflik dan semakin menarik karena merasa ikut terjebak bersama karakter di dalam konflik. Hal positif tadi menjadi sumber dari kejutan yang diberikan oleh film ini, maksi di aksi, mini di hati.

Review: Song of The Sea (2014)


Salah satu hal paling menghebohkan dari acara pengumuman nominasi Oscar dua minggu yang lalu adalah tidak masuknya The Lego Movie didalam calon film animasi terbaik, film yang notabene sejak jauh hari sebelumnya seperti one to beat di kategori animasi. Song of the Sea adalah kejutan lain dibalik menghilangnya The Lego Movie tadi, yang bersama The Boxtrolls seolah menjadi kandidat “tersisa” dibalik tiga nominasi lain yang seperti sudah pasti mendapatkan tempat. But believe it or not animasi asal Irlandia ini tidak layak menyandang status “tersisa” tadi, ini manis, ini cantik, dan saya tidak akan terkejut jika di acara puncak nanti ia akan memberikan kejutan seperti yang dilakukan oleh Wallace & Gromit sembilan tahun lalu. This is magic.

Movie Review: Calvary (2014)


"Not everyone can carry the weight of the world!"

Selalu ada keunikan dari sebuah film yang di awal melemparkan sebuah konflik utama dan kemudian memberikan penontonnya banyak masalah-masalah skala kecil baru untuk datang menyokong atau menemani main issue tadi. Menjadi variatif dan berwarna, film ini mampu menghadirkan hal tersebut dalam sebuah petualangan sederhana yang sayangnya terasa sedikit “gemuk”. Calvary, haunting soul and faith destruction in a good & weird way.

Movie Review: Edge of Tomorrow (2014)


"Come find me when you wake up!"

Sebenarnya Edge of Tomorrow punya dua faktor yang dapat membuat calon penonton merasa skeptis padanya, pertama adalah ia hadir pada rentang waktu pertengahan tahun atau lebih dikenal sebagai summertime yang identik dengan status blockbuster pengeruk keuntungan, dan kedua ia punya Tom Cruise, bankable star yang mulai menjauh dari status most powerful actor yang pernah ia sandang. Tapi ini yang menarik ketika anda menaruh ekspektasi pada level normal, peluang hadirnya rasa puas itu akan semakin besar. Edge of Tomorrow, a smart and efficient puzzle between Halo and Groundhog Day with Monaco Grand Prix speed.    

Movie Review: The Smurfs 2 (2013)


"It doesn't matter where you came from. What matters is who you choose to be."

Jika ada pertanyaan film rilisan tahun 2013 mana yang punya trailer paling datar, garing, dan unimpressive, salah satu kandidat terkuatnya adalah The Smurfs 2. Kesempatan singkat itu bukannya digunakan menjadi media untuk menunjukkan potensi dari kualitas yang mereka miliki, trailer The Smurfs 2 justru menjadi sebuah parody show-off yang mencoba memaksa penontonnya untuk tertarik. Hal tersebut juga terjadi ketika ia telah melakukan ekspansi menjadi paket yang lebih besar, a deeply disappointing experiment.