Showing posts with label Chris Columbus. Show all posts
Showing posts with label Chris Columbus. Show all posts

Movie Review: Harry Potter and the Chamber of Secrets (2002)


"You shall not harm Harry Potter!"

Setelah pembuka yang faithful dan berhasil membangun dasar yang baik bagi karakter dan juga konflik, Harry Potter and the Philosopher's Stone, kini Harry kembali harus berhadapan dengan masalah yang berasal dari sebuah terror terkait kamar rahasia di Hogwarts. Mencoba melanjutkan excitement yang telah terbentuk itu sutradara dan writer menunjukkan bahwa mereka semakin confident ketika bermain dengan materi, menghasilkan berbagai pertumbuhan yang menarik meskipun tidak bersifat menyeluruh dan menjangkau semua bagian. Berikut adalah film kedua dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Chamber of Secrets, a safely landing flight.

Movie Review: Harry Potter and the Philosopher's Stone (2001)


"Bless my soul. It's Harry Potter!"

Satu setengah dekade yang lalu tepatnya tanggal 16 November 2001 titik awal dari salah satu film series terbesar yang pernah diciptakan oleh industri perfilman, Harry Potter, lahir. Untuk mencoba merayakan hal tersebut sembari menjadi semacam intro bagi ‘Fantastic Beasts and Where to Find Them’ rorypnm mencoba untuk mereview delapan buah film yang menjadi bagian dari Harry Potter film series. Berikut adalah film pertama, Harry Potter and the Philosopher's Stone (Harry Potter and the Sorcerer's Stone), sebuah pembuka yang faithful and fluffy.

Review: Pixels [2015]


"He's a loser, and he'll always be a loser." 

Apakah sebuah film yang mengandung “Adam Sandler” didalamnya masih layak mendapat atensi dari kamu? Apakah film dengan pemain utama seorang pria berekspresi lesu bernama “Adam Sandler” masih membuat kamu yakin ia akan memberi hiburan yang membuat waktu dan uang yang kamu gunakan terasa worthed? Pertanyaan mungkin dua dari sekian banyak pertanyaan lain yang ada di benak calon penonton pada film “Adam Sandler”, tapi saya punya satu trick yang sudah lama saya terapkan pada film “Adam Sandler”, mencoba mengerti kelemahan klasik yang ia punya dan nikmati hal lain di luar kelemahan klasik tadi. Itu yang menjadikan Pixels terasa cukup oke.