Showing posts with label Dave Franco. Show all posts
Showing posts with label Dave Franco. Show all posts

Movie Review: The Rental (2020)


“Somebody was watching, looking right back at us.”

Damn, film ini seolah menjadi media yang digunakan oleh Dave Franco untuk memperkenalkan kembali dirinya sebagai sosok yang punya kapabilitas mumpuni sebagai seorang Sutradara. Tidak seperti image konyol yang seolah telah lekat pada dirinya selama ini di debut penyutradaraannya kali ini Dave Franco justru memilih menggunakan genre horror sebagai arena bermain yang kemudian ia campur dengan misteri dan thrill bersama berbagai trik klasik dan klise genre-genre tersebut. ‘The Rental’ : an intriguing and super effective horror.

Review: Nerve (2016)


"Welcome to Nerve, a game like truth or dare, minus the truth."

Apa yang sedang “HOT” saat ini? Banyak, salah satunya adalah Pokémon Go, permainan AR dengan sistem location-based di mana para pemainnya harus bergerak untuk menemukan dan kemudian menangkap pokemon. Nerve tidak mungkin dapat menemukan timing yang lebih baik dan lebih tepat dibandingkan jadwal rilisnya yang berada di saat Pokémon Go sedang sangat populer. Menggabungkan konsep ‘Pokémon Go’ bersama sentuhan ‘Periscope’ dan juga beberapa isu sosial dalam bentuk sebuah petualangan action techno-thriller yang bergerak cepat, it’s a “short-handed” cyber thriller.

Review: Now You See Me 2 (2016)


“The greatest magic trick ever created.”

Anggapan bahwa sebuah sajian yang thrilling harus memiliki "kehebohan" dalam presentasi yang bergerak cepat tidak sepenuhnya salah, namun tanpa “konteks” yang menarik di dalamnya tidak peduli seberapa heboh dan cepat gerak yang ia hasilkan sajian tersebut akan begitu mudah pula untuk terasa kosong. Mereka yang telah menyaksikan Now You See Me tentu akan paham atau mengerti bahwa Now You See Me 2 in the end punya potensi akan kembali berakhir sebagai sebuah rencana “cheat” atau manipulasi dengan menggunakan magic yang mencoba tampak luar biasa. Hal tersebut memang kembali terjadi di sini, namun kali ini in a bad way. Now You See Me 2 adalah another bullshit yang lebih “heboh” dan arogan.

Review: Neighbors 2: Sorority Rising [2016]


“They’re using their sexuality as a weapon.”

Ketika sebuah studio mengumumkan produksi sekuel dari sebuah film akan muncul pertanyaan dengan jenis yang begitu familiar, seperti mengapa, untuk apa, bahkan fungsinya apa? Maksud dan tujuan sekuel beragam misalnya untuk membuat lebih banyak lagi uang, tapi ada pula niat yang tidak semurah itu seperti ingin mencoba meneruskan cerita, menjawab pertanyaan yang belum terjawab, hingga membuat kemasan yang lebih baik dengan berusaha memperbaiki kelemahan di film terdahulunya. Dua tahun lalu komedi berjudul Neighbors berhasil meraih box office 15 kali lipat dari budget yang ia punya, tapi menariknya kehadiran Neighbors 2: Sorority Rising (Bad Neighbours 2) ternyata tidak semurah sekedar untuk mencoba mengulangi pencapaian tersebut.

Review: Unfinished Business (2015)


Sebagai informasi awal bahwa ini merupakan film komedi, tapi setelah selesai menonton hal pertama yang berhasil membuat saya tertawa justru bagaimana judul yang ia gunakan seperti cerminan secara langsung kualitas yang ia miliki. Unfinished Business sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi komedi bodoh berisikan pria-pria melakukan petualangan yang menyenangkan, tapi ternyata hasil yang ia berikan benar-benar terasa seperti sebuah bisnis yang belum selesai. Unfinished Business is an unfinished business.

Movie Review: Neighbors (2014)



"We're throwing a Robert De Niro party."

Neighbors, yang juga dirilis dengan nama Bad Neighbours secara Internasional, adalah film komedi yang ternyata menampilkan keunikan bukan hanya pada jajaran cast yang ia punya. Ada kombinasi yang kasar, Zac Efron yang telah menjadi bagian dari ikon romance di kalangan young adult, Rose Byrne yang mulai klik dengan komedi setelah sebelumnya lebih sering bermain di drama dan juga misteri, dan ada si gila Seth Rogen dengan suara beratnya. Disamping itu Neighbors secara mengejutkan berhasil menggabungkan salah satu hal yang sulit diharapkan dari sebuah film komedi, humor tajam dan total dengan keterlibatan sedikit wawasan didalamnya.    

Movie Review: Now You See Me (2013)


"Look closely, because the closer you think you are, the less you’ll actually see."

Kalimat tersebut sebenarnya punya sebuah tugas yang sangat besar, sebagai bentuk dari peringatan dini atau mungkin petunjuk film ini kepada calon penontonnya pada cara terbaik untuk dapat menikmati suguhan yang akan ia berikan. Layaknya aksi sulap, mereka ingin agar anda tidak terlalu serius meskipun akan ada balutan tema heist didalamnya. Ya ya, don't take it too serious, he said. Oke, i'll take it lightly, i said from beginning. But, seriously, it was a farce, gentlemen.

Movie Review: Warm Bodies (2013)


Lebih dari satu dan setengah dekade yang lalu, Romeo dan Juliet hadir membawakan kisah cinta yang terhalang oleh hubungan kurang harmonis yang dimiliki oleh kedua keluarga mereka. Namun zaman sudah berubah ke era yang jauh lebih modern, dimana hal-hal klasik seperti itu akan cukup sulit untuk dapat “mempermainkan” perasaan penontonnya agar dapat terpenjara dalam kisah mereka. Terobosan baru itu muncul, kali ini Juliet tetap sebagai seorang manusia, namun Romeo adalah seorang zombie.