Showing posts with label Djimon Hounsou. Show all posts
Showing posts with label Djimon Hounsou. Show all posts

Movie Review: The King's Man (2021)

“Let's end this as gentlemen! After all, manners maketh man.”

Istilah dalam bahasa Inggris kuno “Manners Maketh Man” melambung tinggi ketika diucapkan oleh karakter Harry Hart di film Kingsman: The Secret Service, ia pakai untuk menunjukkan kepada beberapa orang anak muda London pelajaran tentang bagaimana cara bersikap sebagai seorang gentlemen. Momen tersebut terasa sangat berkesan karena hadir dalam bentuk adegan action yang mempertontonkan pesona posh British yang lantas berkembang menjadi sajian action spy comedy stylish serta lucu meskipun di beberapa bagian terasa sedikit over-the-top. Dan yang terpenting adalah film itu sukses secara komersial, and what is profitable must be exploited, that's how Hollywood wants it. Back story sounded like a good idea, which always comes with a certain risk. The King's Man’ : a concentrated nonsense.


Movie Review: A Quiet Place Part II (2021)

“Run!”

Ratusan orang dibuat terdiam di dalam studio bioskop ketika saya menonton film pertamanya, A Quiet Place, sama seperti judulnya kala itu sukses besar menyiksa penontonnya dalam bentuk permainan catch and run namun bersama kondisi sunyi yang mampu membuat atmosfir cerita jadi terasa mencekam. Ada sensasi yang unik dari film pertamanya itu, thrill berkualitas tanpa gemuruh serta horror yang hanya mengandalkan makhluk alien tanpa eksplorasi yang terlalu jauh terhadapnya. Film keduanya ini hadir sebagai sebuah kelanjutan, sempat tertunda satu tahun akhirnya dapat menyapa penontonnya masih dengan tetap menggunakan formula yang sama. ‘A Quiet Place Part II’ : another horror with intense terror, in silence.


Movie Review: Shazam! (2019)


“Say my name!”

Belakangan ini semakin mudah menemukan berbagai film superhero menghadirkan kisah yang kompleks, jika itu franchise maka akan semakin rumit cerita yang ia punya. Sebenarnya ada sisi lain yang selama ini jarang digali oleh film-film superhero, bukan tentang menyelamatkan bumi namun tentang membawa penonton “merasakan” sensasi menjadi superhero itu sendiri. This movie take that chance. Shazam! : a goofy and funny yet powerful fantasy.  

Movie Review: The Legend Of Tarzan [2016]


"He is no normal man."

Jika kamu tanya Google berapa banyak film Tarzan yang telah diproduksi maka kamu akan menemukan jumlah yang terhitung besar, dari fitur layar lebar, film animasi, hingga parodi. Pertanyaannya bukan apakah penting atau tidak untuk memproduksi kembali film pahlawan hutan yang dibesarkan oleh para kera yang sudah dilakukan berulang kali namun apakah produk yang dihasilkan tersebut mampu memberikan penonton pengalaman berpetualang bersama Tarzan yang terasa menyenangkan. Ya, sesederhana itu. The Legend of Tarzan, the most recent edition of the apeman adventure with hazy and gloomy swing.

Movie Review: Guardians of the Galaxy (2014)


"We're the fricking Guardians of the Galaxy!"

Jika harus memilih studio di industri perfilman yang memiliki rasa percaya diri sangat tinggi sekarang ini, merupakan sebuah kesalahan besar jika tidak memasukkan Marvel Studios di dalamnya, sejak 2008 berhasil menjadikan Iron Man, Thor, dan Captain America begitu digilai oleh penonton tanpa harus kehilangan misi lain pada sisi finansial. Yap, dibawah komando Kevin Feige mereka kini telah menjadi  one to beat di sektor hiburan superhero yang mulai menjamur itu, dan film terbarunya ini kembali membuktikan serta memperkuat status tersebut. From the studio that brought you The Avengers, behold and please welcome, Guardians of the Galaxy, a Groot summer flick.

Review: Guardians of the Galaxy (2014)


"They call themselves the Guardians of the Galaxy. | What a bunch of a-holes."

Saat pertama kali Marvel mengumumkan akan hadirnya Guardians of the Galaxy yang terlintas di pikiran saya waktu itu adalah pertanyaan “untuk apa?” Mereka sudah punya The Avengers, empat diantara anggota tim itu bahkan sudah punya film mandiri masing-masing. Sempat pesimis pada film ini dengan penilaian ini hanya upaya Marvel untuk meraih keuntungan semata, tapi kalau kamu punya pemikiran yang sama segera buang jauh-jauh hal itu, karena dengan konsep yang jauh lebih ringan Guardians of the Galaxy berhasil menjadi film terbaik Marvel setelah The Avengers, bahkan nearly side by side. 

Review: How to Train Your Dragon 2 (2014)


"We are the voice of peace, and bit by bit we will change this world."

Dapat dengan mudah menemukan jawaban “ingin melakukan yang lebih baik lagi dari pencapaian sekarang” pada pertanyaan “apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya?” dari orang-orang yang berhasil menuai kesuksesan. DreamWorks juga ingin melakukan hal yang sama dan sukses melindungi andalan terbaru mereka empat tahun lalu ini untuk tidak jatuh seperti penerus Madagascar dan menyulapnya menjadi serupa dengan Sherk 2, sekuel yang lebih baik dari pendahulunya. How to Train Your Dragon 2, when The Empire Strikes Back, Avatar, and Game of Thrones blended in enchanting and engaging beautiful young adults animation world. Summer 2014 real deal so far.

Movie Review: How to Train Your Dragon 2 (2014)



"And with Vikings on the backs of dragons, the world just got a whole lot bigger.

Standard yang diciptakan How to Train Your Dragon empat tahun lalu itu tergolong tinggi buat DreamWorks, memberikan karakter lucu yang dengan mudah langsung menjadi favorit bahkan pahlawan bagi penontonnya, kemudian ada petualangan penuh nada gembira dengan kisah persahabatan dan juga unsur keluarga yang hangat. Itu yang menjadi sumber kemunculan satu-satunya rasa cemas dari How to Train Your Dragon 2, apakah mereka akan mampu untuk minimal menyamai pencapaian film pertamanya?