Showing posts with label Elizabeth Olsen. Show all posts
Showing posts with label Elizabeth Olsen. Show all posts

Movie Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

“I love you in every universe.”

Salah satu kelebihan yang kini dinikmati Marvel Cinematic Universe ialah flexibility, bagaimana sejak awal telah membentuk pondasi yang kuat bagi kelompok superhero mereka yang kemudian dapat diutak-atik sesuai dengan kebutuhan konsep yang coba disajikan. Aksi mix and match itu telah berjalan dengan baik sejak awal, hingga the blip terjadi, momen ketika Thanos snapping his fingers dan mengubah “tatanan” yang telah tersusun. Penyesuaian dilakukan sejak major event itu, diawali dengan ‘WandaVision’ yang terjadi tiga minggu pasca ‘Endgame’ kini Marvel mengembangkan dunia mereka dengan travel through the multiverse. Ya, that “Spider-Man reunion” thing adalah permulaan. ‘Doctor Strange in the Multiverse of Madness’: an example of imagination triumph over the programmed of commercial calculation. (Warning: the following post might contains mild spoilers)


TV Series Review: WandaVision - Part 3 (Felina)


"You are my sadness and my hope. But mostly, you're my love."

Setelah pertempuran di Avengers: Endgame, dua superhero The Avengers mencoba melanjutkan kehidupan mereka sebagai manusia biasa, menyembunyikan kekuatan super mereka dari para tetangga di lingkungan baru yang menawarkan kehidupan pinggir kota yang indah. Namun ketika mulai menikmati hidup sebagai orang normal sepasang kekasih tersebut mulai merasa curiga dengan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup mereka yang mulai dipenuhi dengan berbagai hal ganjil dan aneh.


TV Series Review: WandaVision - Part 2


“So you're saying the universe created a sitcom starring two Avengers?”


Setelah pertempuran di Avengers: Endgame, dua superhero anggota The Avengers mencoba melanjutkan kehidupan mereka sebagai manusia biasa, menyembunyikan kekuatan super mereka dari para tetangga di lingkungan baru yang menawarkan kehidupan pinggir kota yang indah. Namun ketika mulai menikmati hidup sebagai orang normal sepasang kekasih tersebut mulai merasa curiga dengan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup mereka yang mulai dipenuhi dengan berbagai hal ganjil dan aneh.


TV Series Review: WandaVision - Part 1


“We are an unusual couple, ya know?”

Setelah pertempuran di Avengers: Endgame, dua superhero anggota The Avengers mencoba melanjutkan kehidupan mereka sebagai manusia biasa, menyembunyikan kekuatan super mereka dari para tetangga di lingkungan baru yang menawarkan kehidupan pinggir kota yang indah. Namun ketika mulai menikmati hidup sebagai orang normal sepasang kekasih tersebut mulai merasa curiga dengan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup mereka yang mulai dipenuhi dengan berbagai hal ganjil dan aneh.


Review: I Saw the Light (2016)


"Boy, I'm a professional at making a mess of things."

Dianggap sebagai salah satu penyanyi dan penulis lagu Amerika yang paling berpengaruh di abad ke-20 Hank Williams tentu meninggalkan sebuah cerita menarik meskipun ia meninggal dunia di usia yang terhitung muda, 29 tahun. Fakta tersebut sesungguhnya merupakan sebuah keuntungan bagi film ini karena dengan begitu ia memiliki materi atau sesuatu yang “menarik” untuk diceritakan. Namun pria yang berada dibalik eksistensi The Last Exorcism, Dawn of the Dead, Children of Men, dan RoboCop ternyata memiliki visi yang sedikit berbeda untuk mengolah materi tadi, sehingga alih-alih menjadi sebuah biopic tentang musik I Saw the Light menjadi biografi yang terlalu terobsesi pada hal yang berbeda.

Review: Avengers: Age of Ultron [2015]


"Isn't that the why we fight? So we can end the fight and go home?"

Perjuangan yang sedang dilakukan oleh Marvel sebenarnya bukan cuma pada usaha untuk memperluas cinematic universe milik mereka yang tahun ini resmi mengakhiri fase keduanya, tapi disisi lain Marvel juga terus berusaha mempertahankan standard yang telah mereka raih untuk kemudian naik ke level selanjutnya. Usaha tersebut yang terasa menarik karena ciri khas sebagai fun superhero yang telah lekat dengan mereka justru menjadikan film-film rilisan Marvel perlahan terasa serupa tapi tak sama. Avengers: Age of Ultron seperti sebuah déjà vu yang celakanya masih mampu berdiri tegak karena diramu dengan cermat.

Movie Review: Godzilla (2014)


"Mommy, look, Dinosaurs."

Selalu ada sebuah kesulitan umum dari film dengan status summer blockbuster, harus mampu menghadirkan cerita yang tidak murahan namun disisi lain juga menjauhkan mereka agar tidak mengganggu jualan utamanya pada hiburan visual. My #1 most anticipated summer movie 2013: Pacific Rim, dan hasilnya berada dibawah ekspektasi, keseimbangan diantara elemen utama yang ia miliki terasa kurang mumpuni. Nah, hal terakhir itu yang secara mengejutkan dimiliki oleh film ini, cerita oke dalam visualisasi kekacauan yang juga oke. Godzilla, a good disaster movie, manipulative orchestra with foreplay narration.

Movie Review: Kill Your Darlings (2013)


"To be reborn, you have to die first." 

Terkadang revolusi lahir dari sesuatu yang tidak berada dalam cakupan luas, tidak megah, tidak krusial bahkan, hanya mengandalkan semangat kecil yang kemudian berkombinasi membentuk sebuah kesatuan besar yang berani namun juga terkendali. Ya, kontrol, hal kecil yang mampu menghasilkan masalah besar, isu yang coba dibawa oleh film ini, coming-of-age bertemakan obsesi dengan nafas LGBT. Kill Your Darlings, a movie which will make Voldemort smile very wide.  

Movie Review: Liberal Arts (2012)


Seni Liberal, adalah sebuah seni yang lebih bersifat umum dan luas. Seni liberal akan mengajak anda memiliki pola pikir yang lebih umum, mengandalkan logika dan kemampuan intelektual anda, dan menjadi individu bebas yang tidak suka dengan hal teknis yang rumit dan mengikat. Liberal Arts, proyek kedua dari Josh Radnor yang mampu tampil bijak dan kritis, akan mengajak anda memahami bagaimana seharusnya anda menjalani hidup.

Movie Review: Silent House (2011)


Faktanya, film horror dengan latar rumah kosong, dibantu situasi terkunci dari dunia luar, memang efektif memberikan kesan nuansa “gelap” pada cerita. Itu yang diterapkan oleh Gustavo Hernández, penulis “La casa muda”, yang merupakan versi asli dari film ini. Chris Kentis dan Laura Lau mencoba menyampaikan kembali cerita yang merupakan kisah nyata ditahun 1940-an, Silent House.