Showing posts with label Imogen Poots. Show all posts
Showing posts with label Imogen Poots. Show all posts

Movie Review: French Exit (2020)

“I'm more than odd.”

Hidup tidak selalu rumit, dan tidak semua orang senang hidupnya dipenuhi dengan tekanan. Bukan berarti mereka yang masuk di kategori tersebut merupakan para kaum pesimistis karena ada sisi positifnya juga hidup dengan “pola” atau cara yang simple. Jika kamu tidak mampu mengendalikan mimpi dan ambisi maka kamu melangkah menuju sebuah masalah, dan yang terburuk masalah mental. Di film ini karakter utama memilih masa bodoh dalam menjalani hidupnya, ia pernah punya segalanya tapi justru memilih jalan dan tujuan hidup yang ia inginkan di dunia yang sebenarnya klise ini. ‘French Exit’ : whimsical comedy about a cat and jokers in Paris.


Movie Review: The Father (2020)

“Pardon me for breathing.”

Manusia berawal dari bayi dan akan berakhir sebagai bayi pula. Sebuah pernyataan yang secara logika memang aneh namun sangat mudah ditemukan di kehidupan nyata meskipun tidak lantas membuatnya menjadi sebuah fakta. Saat kecil kamu dirawat oleh orangtua, kemudian tumbuh dewasa dan memiliki kemampuan untuk melakukan segala macam hal, namun ketika energi itu perlahan tergerus kamu akan kembali membutuhkan “bantuan” dari anak-anakmu. Dengan cara sederhana namun terasa luar biasa siklus tadi diceritakan oleh film ini. ‘The Father’ : they’re thinking of ending things.


Movie Review: Vivarium (2019)


“Creepy little mutant.”
Tidak semua film hadir untuk mengajak penonton mengamati sebuah masalah lalu menyelesaikannya dengan cara yang mudah, ada dari mereka yang justru hadir untuk mencoba “mengguncang” penonton dengan berbagai masalah lewat misteri yang unik dan bahkan terasa aneh. Diselesaikan atau tidaknya masalah tersebut bukan fokus utama mereka, namun kesuksesan diukur dari seberapa besar provokasi yang berhasil mereka tinggalkan bagi penonton. ‘Vivarium’ : a fun and creepy little experiment.

Review: Popstar: Never Stop Never Stopping (2016)


“Sometimes you’re up, sometimes you’re down.”

Saya tidak tahu bagaimana kehidupan seorang bintang besar lengkap dengan power dan tekanan yang mereka punya namun berdasarkan berbagai berita yang beredar sangat mudah untuk memahami bahwa kehidupan seorang superstar tidak selamanya indah. Kehidupan seperti roda yang berputar dan usaha mempertahankan sesuatu lebih sulit jika dibandingkan dengan usaha ketika kamu hendak meraihnya. Dibantu oleh Judd Apatow hal tersebut coba ditampilkan oleh The Lonely Island di Popstar: Never Stop Never Stopping, sebuah mockumentary comedy dengan nafas musical dan parodi, sebuah satir terhadap budaya modern yang tampil dengan energi menular. Breaking News from CMZ: Taylor Swift was arrested for murder. Beware, Bieber.

Review: Green Room (2016)


"This’ll be over soon, gentlemen."

Ketika muncul Blue Ruin berhasil meraih begitu banyak pujian dan menjadikannya sebagai a must-watch thriller, sebuah pendekatan minimalis terhadap isu balas dendam yang kokoh namun liar. Dua tahun kemudian sang sutradara, Jeremy Saulnier, mencoba untuk kembali mengulang kesuksesan tersebut, masih dengan konsep minimalis yang kokoh dan juga liar namun kali ini menghadirkan hal tersebut dalam pertempuran Punk vs Nazi berisikan interogasi terhadap subjek ditemani dengan kekerasan ciri khas semangat film eksplotasi klasik. Mencengkeram sejak awal hingga akhir, Green Room adalah sebuah sajian thriller horror yang tidak “biasa”.

Review: Knight of Cups (2016)


"Dreams are nice, but you can't live in them."

Sejauh ini telah menyutradarai delapan buah film dalam 46 tahun karirnya di industri film, Terrence Malick secara mengejutkan menghadirkan tiga di antaranya dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Apakah Terrence Malick sedang memiliki banyak ide? Sepertinya begitu dengan dua film lain dijadwalkan rilis tahun ini. Di film terbarunya ini Terrence Malick kembali memberikan apa yang penonton inginkan dari “film Terrence Malick”, namun sebagai penonton yang masih belum lulus dari Malick's School for Gifted Youngsters selalu ada perasaan waspada terhadap karya Terrence Malick karena, well, it's gonna be forever, or it's gonna go down in flames. So, bagaimana dengan Knight of Cups? Keindahan yang hampa, atau kehampaan yang indah.

Movie Review: Need for Speed (2014)


"Racers should race, cops should eat donuts." 

Mayoritas dari kita pasti pernah mengalami hal ini, ketika sedang mengemudi dengan santai dan penuh rasa tenang secara tiba-tiba muncul beberapa kendaraan dari belakang yang melewati kita dengan akselerasi dalam gerakan kencang disertai deru yang menggebu. Ada dua opsi sebenarnya, pertama kita akan menganggap aksi berani mereka tersebut sebagai sesuatu yang keren, namun bisa pula menjadi jengkel dan menilai bahwa tindakan tersebut merupakan sesuatu yang berbahaya bahkan menjurus tolol. Film ini seperti bermain diantara dua opsi tadi, Need for Speed, full of unnecessary and stupid things, but still quietly fun adventure.   

Movie Review: Filth (2013)


"There's something seriously wrong with me."

Ada banyak cara untuk bertemu dengan solusi ketika kita harus dihadapkan pada masalah yang berasal dari lingkungan sekitar kita. Namun hal sebaliknya terjadi ketika masalah itu bersumber dari diri kita sendiri, bahkan ia punya power yang lebih besar untuk memberikan dampak destruktif skala ekstrim. Masalah, tekanan, dan mental, hal tersebut dibawa oleh Filth, diadaptasi dari novel ketiga creator Trainspotting, self destruction adventure with a good surprise.

Movie Review: A Late Quartet (2012)

 

Everything has a limit. Ada saat dimana semua karya gemilang yang telah anda bangun selama puluhan tahun lamanya dengan disertai usaha yang begitu keras pada akhirnya memaksa anda untuk melepaskan mereka. Pada awalnya mungkin akan menjadi hal yang sulit untuk diterima, namun terus memaksakan tentu bukan pula sebuah keputusan yang baik. A Late Quartet, mungkin terkesan kecil dan sangat jauh dari kesan megah, namun mampu menjadikan konflik yang ia bawa menjadi sebuah bahan renungan yang menarik bagi penontonnya.