Showing posts with label Joaquin Phoenix. Show all posts
Showing posts with label Joaquin Phoenix. Show all posts

Movie Review: C'mon C'mon (2021)

“My feelings are inside me. You don't know what they are.”

Pertanyaan pertama yang terlontar dari karakter di film ini adalah “when you think about the future, how do you imagine it'll be?” Terkesan sederhana dan mudah untuk dijawab memang namun ada kerumitan yang menarik di dalamnya, bahkan mereka yang telah sukses dan meraih mimpinya juga akan merasakan hal yang sama dengan mereka yang baru mulai, sedang berjuang, atau yang baru sekedar bermimpi tentang masa depan. Sikap optimis memang wajib mendominasi tapi bohong jika menyebut tidak ada rasa takut dan cemas di dalamnya, hal yang baik because fear helps protect us, makes us alert to danger and prepares us to deal with it. So, you're hopeful for the future? Like, when you think about the future, you think it'll be better or worse? ‘C'mon C'mon’: damn this movie.


Movie Review: Joker (2019)


“Is it just me, or is it getting crazier out there?”

The Joker itu tidak punya kemampuan manusia super namun psikopat yang dikenal sebagai dalang kriminal tersebut justru menyandang status sebagai one of the greatest villains of all time. Mengapa? He’s so casual but also so bone-chilling, dengan senyum maniak miliknya The Joker adalah sosok yang impenetrable dan tidak bisa ditebak. He just wants to watch the world burn. Gila! Kegilaan dari seorang The Joker tersebut tampil di film ini, sebuah character study yang mencoba memanusiakan psikopat yang sedang menunggu waktu berubah menjadi seorang monster. ‘Joker’ : a crazy delicious psychological thriller. Mental.

Review: Irrational Man (2015)


Apakah Woody Allen sudah lelah? Ketika Clint Eastwood di usianya yang ke 85 tahun masih mampu memberikan kita kekacauan di medan tempur yang menarik pada American Sniper, Allen justru tampak mulai terjebak dalam kejenuhan di sektor ide sebagai dampak dari upaya yang ia lakukan untuk menelurkan film setiap tahun. Harus diakui memang ketika karya Allen berhasil “bekerja”, maka hasilnya tidak pernah terasa setengah matang, selalu kuat, tapi saat yang terjadi sebaliknya, seperti yang terjadi pada Irrational Man, maka yang tersisa bagi penonton hanyalah sebuah senyuman pahit.

Review: Inherent Vice (2014)


"Chotto, Kenichiro, Dozo! Motto panukeiku. Motto panukeiku!!"

Inherent Vice ini secara keseluruhan kurang lebih seperti karakter Freddie Quell di film Paul Thomas Anderson dua tahun lalu, The Master, berjalan dengan kesan penuh kebingungan, ada misteri dengan karakter yang terus mencari, terasa liar dan juga aneh, tapi ketika ia selesai ada klimaks yang memikat yang ia tinggalkan buat penontonnya. Celakanya Inherent Vice melakukan hal tersebut dengan level yang setingkat diatas, rasa bingung kental, kesan aneh dan liar juga kental, dan celakanya ini seperti berjalan-jalan bersama seorang teman dalam kondisi mabuk, unik dan lucu.

Movie Review: The Immigrant (2013)


"Is it a sin for me to survive when I have done so many bad things?"

Film ini punya apa yang menjadikan sebuah film drama terasa menarik, karakter yang punya daya tarik dan pesona yang kuat, mampu menenggelamkan penontonnya kedalam petualangan yang mereka miliki, dan uniknya itu terbentuk dalam cita rasa abu-abu yang mungkin akan memutar perasaan penonton diantara gelisah dan menikmati. James Gray kembali dengan hiburan yang penonton harapkan darinya, The Immigrant, an understated old-fashioned melodrama.

Movie Review: Her (2013)


"I'm yours and I'm not yours."

Apakah anda merupakan pengguna twitter? Apakah anda pernah menemukan sebuah halaman yang menyatakan bahwa twitter sedang kelebihan kapasitas ketika hendak mencoba sign in? Yap, semakin mudah memang untuk bercinta dengan teknologi di zaman yang serba menawarkan kemudahan seperti sekarang ini, banyak hal positif yang ia ciptakan, namun dibalik kenikmatan tersebut ikut pula eksis berbagai hal negatif yang berpotensi menghancurkan. Spike Jonze menghadirkan problema tersebut bersama balutan visi, ide, serta konsep yang tinggi dan berani, unik dan cantik. Her, a sweet and smart hyper intelligent love story.    

Movie Review: The Master (2012)


Karya terbaru dari Paul Thomas Anderson ini sebenarnya adalah salah satu film yang saya paling nantikan tahun lalu. Mengakhiri istirahatnya sepanjang setengah dekade dengan mengangkat plot cerita yang cukup provokatif, Anderson akan kembali menunjukkan kepada anda alasan kenapa film-filmnya selalu dinantikan oleh banyak pecinta film.

Movie Review: Vicky Cristina Barcelona & Two Lovers




Vicky Cristina Barcelona (2008)

Film arahan Woody Allen ini bercerita tentang dua sahabat, Vicky (Rebecca Hall) dan Cristina (Scarlett Johansson) yang menghabiskan liburan di kediaman orang tua Vicky, Mark (Kevin Dunn) dan Judy (Patricia Clarkson) di Barcelona. Vicky adalah wanita yang sangat tertarik dengan seni, sedangkan Cristina di bidang fotografi. Ketika menyaksikan pameran lukisan, muncul seorang pria berbaju merah yang menarik perhatian mereka, Juan Antonio (Javier Bardem). Pria inilah yang membawa Vicky dan Cristina “berpetualang” di masa liburan mereka.