“We’re
going to make history”
Hadir
tahun 2013 yang lalu, ‘Rush’
merupakan racing movies rilisan
paling baru yang sukses membuat saya larut tenggelam di dalam cerita tentang
balapan mobil, sebuah dramatisasi yang cerdas dan menawan, bergerak cepat dan
juga intens. Finally I get a better
movie, menggunakan dua nama besar di dunia otomotif mobil menyajikan aksi
dan upaya untuk saling mengalahkan di lintasan balap mobil. Ford v Ferrari : a racing movie that will
bring the engines to your chest.
Showing posts with label Jon Bernthal. Show all posts
Showing posts with label Jon Bernthal. Show all posts
Movie Review: The Accountant (2016)
Jika memperhatikan
secara seksama poster di atas maka mungkin akan terasa aneh mendapati sebuah
film dengan judul yang mengandung kata akuntan justru tampil dengan senjata dan
mencoba menciptakan kesan “mematikan”. Faktanya hal tersebut bukan sebuah upaya
“menipu” yang dilakukan oleh film ini, dua hal tadi mencoba bergabung untuk
menciptakan sebuah puzzle penuh
kerumitan, bermain dengan masalah keuangan dengan sedikit sentuhan studi
karakter lalu membungkus mereka bersama rasa yang kerap kita temukan dari
berbagai film superhero terlebih
dengan karakter yang memiliki semacam “superpowers”
menarik. Itu tadi merupakan sebuah kombinasi yang unik, namun menjadi unik
bukan sebuah jaminan akan sepenuhnya berhasil menjadi hiburan yang menarik. The Accountant: when "Nemo" trying
to look like a shark, it’s a robotic John Wick.
Movie Review: Sicario (2015)
"You will not survive here. You are not a wolf, and this is a land of wolves now."
Begitu banyak kata yang dapat digunakan untuk secara singkat menggambarkan Sicario, yang memiliki arti Hitman, namun ada satu kata yang sangat tepat untuk memulai semuanya: sick! Ya, sakit, Sicario merupakan sebuah sajian thriller yang sakit, ibarat sebuah taman bermain ia seperti sebuah rumah hantu dengan kualitas yang sangat baik, akan membuat pengunjungnya merasa waspada ketika masuk, mulai merasakan kecemasan yang terus meningkat, semakin terjebak dalam ketegangan hingga akhirnya merasa di hantui ketika telah sampai di garis finish. Sicario: a sick thriller.
Review: Me and Earl and the Dying Girl (2015)
"One last thing. Hot girls destroy your life. That's just a fact."
Judulnya memang terkesan mencoba untuk meninggalkan kesan lucu, faktanya film ini memang sebuah kisah coming-of-age yang lucu, tapi di balik itu Me and Earl and the Dying Girl memiliki sesuatu yang menjadikannya tidak sama seperti film drama komedi bertemakan romance dan persahabatan kelas standar. Ini seperti menyaksikan film Wes Anderson tanpa keterlibatan Wes Anderson di dalamnya, mencampur sedih dan tawa bahagia, sebuah petualangan visual dan emosi yang meninggalkan penonton dengan perasaan campur aduk yang segar dan menyenangkan.
Greg Gaines (Thomas Mann) merupakan pelajar SMA yang gemar membuat parodi dari film-film terkenal bersama sahabatnya Earl (RJ Cyler), dengan lebih dari 40 buah film parodi telah berada di filmografi mereka. Greg punya konsep menarik dalam kehidupan di sekolahnya, ia tidak pernah mencoba terlalu akrab dengan siswa lain di luar Earl dan guru mereka Mr. McCarthy (Jon Bernthal). Hasilnya, remaja yang dalam tekanan untuk memutuskan kemana ia akan melanjutkan studi itu menjadi anggota dari banyak kegiatan ekstrakurikuler. Namun kehidupan Greg suatu ketika berubah, sang ibu (Connie Britton) meminta Greg untuk “menghibur” Rachel Kushner (Olivia Cooke), teman sekelas yang terasa asing bagi Greg, remaja yang telah didiagnosis mengidap leukemia.
Pada awalnya ini terkesan predictable, mungkin banyak disebabkan oleh cerita yang memang masih sangat sederhana, tapi secara perlahan-lahan dan penuh percaya diri Alfonso Gomez-Rejon membuat cerita dan karakter bukan cuma sekedar mencuri perhatian penonton tapi membuat mereka jatuh hati serta kemudian mencintai cerita dan juga karakter. Sulit untuk tidak mengikut sertakan nama Wes Anderson dalam pembahasan karena Me and Earl and the Dying Girl sangat kental dengan rasa unik khas Wes Anderson, baik itu dari presentasi visual hingga bagaimana Alfonso Gomez-Rejon memainkan unsur drama, komedi, persahabatan, hingga romance secara seimbang dan juga sangat sopan.
Iya, Me and Earl and the Dying Girl terasa mempesona karena ia tidak mencoba mengikat kamu pada satu dari empat bagian tadi, justru mencampur mereka dengan nikmat. Me and Earl and the Dying Girl punya kisah persahabatan sebagai pondasi utama tapi tidak dipoles secara berlebihan, penonton dengan cepat merasakan kehangatan dari hubungan antara Greg dan Earl. Setelah itu eksis lalu muncul Rachel, dan koneksi antara tiga karakter utama juga dengan cepat dan efektif terbangun. Itu mengejutkan jika melihat dua karakter utama pada dasarnya merupakan remaja yang seolah terlalu santai dalam menghadapi masa depan dan tenggelam dalam hobby mereka. Greg dan Earl mencuri simpati dan empati, lalu Rachel masuk menjadi jembatan menuju kisah menemukan "jalan pulang".
Me and Earl and the Dying Girl pada dasarnya merupakan kisah dari tiga remaja yang “hilang” dalam kehidupan mereka, lalu menciptakan simbiosis sehingga saling membantu untuk menemukan jalan pulang. Sama seperti drama dengan emosi yang tidak mencoba terlalu keras menjadi sebuah tearjerker, proses bertumbuhnya karakter juga tampil natural, Me and Earl and the Dying Girl bercerita secara tenang dan hangat dengan mengandalkan keintiman dan rasa relatable yang telah terbangun antara cerita, karakter, dan penonton sebagai senjata utama. Memiliki animasi stop-motion, memiliki lelucon yang beberapa di antara mereka berhasil menciptakan momen lol, tapi hati selalu teguh berdiri sebagai pusat utama Me and Earl and the Dying Girl meskipun ia selalu berpindah dari gelap dan terang dengan gerak cepat.
Selain eksekusi Alfonso Gomez-Rejon yang oke, skenario yang asyik, editing yang manis, kinerja cast juga punya andil besar dalam kesuksesan yang dicapai Me and Earl and the Dying Girl. Thomas Mann menjadikan Greg sebagai remaja norak yang charming, punya karisma tersembunyi yang manis. RJ Cyler membuat Earl sebagai penyeimbang bagi Greg dengan cara yang tepat, saya suka cara ia menjadi penggambaran sisi “I don’t give a” dari dunia remaja. Dan Olivia Crooke menjadi pelengkap yang cantik, berperan sebagai gadis yang sedang sekarat ia mencuri simpati dan empati tapi memiliki kehangatan yang membuat Rachel begitu mudah untuk dicintai karena pertolongan secara tidak langsung yang juga ia berikan kepada Greg dan Earl. Pemeran pendukung seperti Molly Shannon dan Nick Offerman juga menjalankan tugas mereka dengan baik.
Me and Earl and the Dying Girl merupakan sebuah prestasi sinematik yang cantik, membawa penonton menyaksikan kisah coming-of-age berisikan persahabatan di mana tiga remaja saling menyembuhkan satu sama lain. Tidak hanya menarik tapi cerita dan karakter begitu mudah untuk dicintai, dengan nada yang ringan dan ritme yang tepat menjadi sebuah petualangan visual dan emosi yang menggambarkan “kehidupan” sebagai sebuah renungan yang serius tanpa mencoba terlihat dan terasa terlalu serius dan kaku. Hasilnya, energi yang konsisten sejak awal hingga akhir menjadikan finale terasa begitu menyayat hati. An "authentic" emotional journey.
Cowritten with rory pinem
Movie Review: Fury (2014)
“Best job I ever had"
Menciptakan sebuah film action yang berisikan aksi
tembak disana-sini dan kemudian menghasilkan kehancuran skala besar itu
sekarang ini terasa sangat mudah, terlebih dengan teknologi yang semakin
berkembang. Yang sulit adalah bagaimana jika mereka dikemas sama menariknya
namun juga memberikan hiburan yang bukan hanya sekedar lewat, hiburan yang
unforgettable, tampil elegan dengan sedikit kesan misterius, meskipun ikut
memberikan tugas yang jauh lebih besar untuk mereka kendalikan dan selesaikan. Fury, understated raw action flick.
















%2Bposter.jpg)