Showing posts with label Kate Winslet. Show all posts
Showing posts with label Kate Winslet. Show all posts

Movie Review: Ammonite (2020)


“I don't want to go back to the life I had before you.”

Erotisme yang norak kerap menjadi titik terendah atau terdalam bagi sebuah film jika tidak mampu menggunakan konten “dewasa” yang ia punya secara tepat guna. Itu mengapa film dengan tema dewasa yang tampil secara tepat guna tidak mudah untuk ditemukan karena mayoritas dari film yang mengusung percintaan dewasa itu lebih gemar mengeksploitasi gairah atau nafsu agar menciptakan kesan kontras yang terasa kuat, seolah ingin menunjukkan dengan cara yang mudah bagaimana ketika manusia sedang larut di dalam gairah cinta. ‘Ammonite’ : I kissed a girl and I liked it.


Movie Review: Blackbird (2019)

“You're here now, but tomorrow, you'll be dead. And we know.”

Mungkin akan terkesan aneh tapi di dunia ini eksis konsep yang mendasari bahwa manusia berhak mengakhiri hidupnya dengan menjalani eutanasia secara sukarela. Namanya hak untuk mati. Jika dipikir secara logika pasti akan terkesan aneh tapi jika ditelisik lebih jauh maka akan muncul perdebatan yang menarik. Hak tersebut tadi legal di beberapa negara seperti Australia, Belgia, Belanda, dan Kanada. Film ini mencoba menggunakan konsep tersebut sebagai kerangka utama cerita bagi berbagai isu dan pesan yang lebih luas dari sekedar praktik pencabutan nyawa manusia. ‘Blackbird’ : a quite meaningful and comprehensible drama.


Review: Collateral Beauty (2016)


"It turns out death is an elderly white woman."

Ketika Will Smith berperan sebagai tokoh utama yang mencoba menjual kesan “badass” hasil akhir film yang tercipta kerap terasa oke, dari Bad Boys, Independence Day, Men in Black, Hancock, I Am Legend, dan well, Suicide Squad. Tapi hasil yang sama tidak selalu muncul ketika dia mencoba bermain di ranah drama sebagai karakter utama yang tampil “serius” dan menuntut emosi, The Pursuit of Happyness dan Concussion terasa oke tapi apa yang Will Smith tampilkan di After Earth sudah cukup menjadi sample paling efektif. Di film terbarunya yang juga dipenuhi bintang ternama ini, Collateral Beauty, Will Smith kembali mencoba “get serious”, sebuah drama yang ketika berakhir dapat membuatmu berkata “are you flipping serious?”

Review: Triple 9 [2016]


"A deadly heist needs a killer distraction."

Sutradara John Hillcoat punya cara main yang unik, dari The Proposition dan Lawless semua mencoba mendorong sisi brutal ke panggung utama untuk mencuri perhatian penonton tapi di sisi lain Hillcoat juga menjaga agar kebrutalan itu terasa kering. Hal tersebut ia lakukan kembali di crime thriller penuh cast ternama ini, namun seperti judulnya yang merupakan kode dengan arti “officer needs help” itu Triple 9 ternyata tampil seperti sebuah rapat dengan agenda yang menarik namun berjalan dengan fokus yang lemah dan kemudian kehilangan arah. 

Review: The Dressmaker [2015]


"I'm back, you bastards."

The Dressmaker seperti sebuah pizza dengan topping yang beraneka ragam. Dari judulnya hal pertama yang terlintas di pikiran kamu mungkin adalah tentang fashion yang memang menjadi pusat utama cerita namun materi itu tidak sendirian, kamu akan menemukan komedi dengan nada hitam, sebuah misteri tentang pembunuhan, hingga kisah asmara yang sensual. Tapi menariknya film yang juga mengusung kisah balas dendam ini walaupun bermain dengan ledakan tetap terasa hangat, seorang wanita yang menggunakan pendirian kerasnya ingin membantu orang-orang di sekitarnya untuk berubah menjadi lebih baik. Ini seperti Chocolat yang menikah dengan fashion dan menjadi liar.

Review: Steve Jobs (2015)


"Musicians play their instruments. I play the orchestra."

Steve Jobs merupakan sebuah presentasi manipulasi yang mengasyikkan, sebuah biopic yang seperti tidak ingin sekedar membawa kamu sebagai penonton menemukan jawaban atas pertanyaan tapi justru tampak seperti sebuah studi karakter bersama berbagai masalah dalam temperatur tinggi. Steve Jobs lebih terasa seperti sebuah drama ketimbang biografi yang menceritakan kisah hidup sosok pendiri Apple, namun di tangan Trainspotting dan Slumdog Millionaire ia tampil indah sejak awal hingga akhir.

Review: Insurgent (2015)



"Once a stiff, always a stiff."

Ketika saya hendak menonton film ini saya bertanya pada teman yang sudah terlebih dahulu menyaksikan Insurgent dan juga sebelumnya juga telah membaca novel karya Veronica Roth itu. Jawaban darinya adalah: “apakah layak berharap banyak dari Insurgent?”  Sebuah jawaban yang sederhana memang namun bukan hanya 50 atau 70 persen namun saya setuju sepenuhnya dengan pernyataannya teman saya tadi. Insurgent, baik itu dari sisi novel maupun film, merupakan korban dari masalah yang bukan hanya sekarang namun mungkin akan kita saksikan beberapa tahun kedepan, sebuah trilogi dengan bagian kedua yang hanya menjadi sebuah jembatan penghubung dengan daya tarik yang lemah.

Movie Review: The Divergent Series: Insurgent (2015)


“Mankind wait for you, with hope, beyond the wall.”

Tahun lalu saya menyebut Divergent sebagai film tentang pemberontakan yang terlalu lembut, kurang bergairah, monoton, dan sedikit membosankan. Tidak hanya itu ia juga tidak memiliki petualangan dalam gerak cekatan sehingga tampak seperti membangun drama dengan bumbu adegan sci-fi dan action, ketimbang menjadi kodratnya sebagai sebuah film sci-fi action dengan dukungan drama. Well, hal tersebut yang kemudian meninggalkan saya speechless ketika melangkah keluar sesaat setelah kejutan dari Naomi Watts yang berdiri dibelakang Kate Winslet. The Divergent Series: Insurgent: when kids from Nickelodeon start a rebellion.

Movie Review: Divergent (2014)


"The future belongs to those who know where they belong."

Tidak dapat dipungkiri bahwa Divergent merupakan sebuah kombinasi dari apa yang pernah eksis di dunia young adult, ada nafas Harry Potter, kemudian The Hunger Games, dan kisah romansa dengan nada Twilight. Namun rasa ragu yang muncul ketika pertama kali membacanya perlahan sirna karena meskipun tidak megah Veronica Roth piawai dalam menciptakan sebuah petualangan menyenangkan berisikan kompleksitas yang menegangkan. But poorly, a movie officially makes Divergent looks like The Hunger Games clone which built up with Twilight system. I’m Divergent btw, a soul with more than one faction, and now I’ll use my Chandor and Dauntless side to telling you this one: a bit boring, and absolute bland.