Showing posts with label Michael Fassbender. Show all posts
Showing posts with label Michael Fassbender. Show all posts

Movie Review: Assassin's Creed [2016]



"We work in the dark to serve the light."

Mengadaptasi karya Shakespeare ke cinema bukan sebuah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan tapi tahun lalu Justin Kurzel berhasil mengeksekusi 'Macbeth' dengan sangat baik. Kali ini ia kembali mencoba melakukan sebuah proyek yang dapat dikatakan menantang meskipun telah menjadi pemandangan yang familiar belakangan ini yaitu mengadaptasi sebuah video game dan membawanya menuju cinema. Apa yang Justin Kurzel tampilkan di Macbeth tidak serta merta membuat calon penonton merasa sepenuhnya yakin untuk menaruh ekspektasi tinggi pada 'Assassin's Creed' karena ini merupakan adaptasi dari sebuah video game series, something yang hingga kini selalu lebih akrab dengan kata gagal.

Review: The Light Between Oceans (2016)


"With love, forever, and ever, and ever, and ever."

Derek Cianfrance merupakan sutradara yang memiliki talenta ketika berurusan dengan materi yang mencoba menunjukkan emosi dan intimitas dari sebuah relationship, berusaha mencoba membuatnya tampak pure and looks like a real deal, Blue Valentine dan The Place Beyond the Pines, keduanya berhasil meninggalkan impresi yang begitu kuat. Kali ini ia kembali mencoba mengeksplorasi sebuah hubungan percintaan yang masih menggunakan isu sensitif tentang “kematian” dan ditampilkan dalam bentuk sebuah melancholic mournful, The Light Between Oceans. It’s an old-school and prestigious story about love and sorrows. Emotionally true, emotionally brutal. 

Review: X-Men: Apocalypse [2016]


"The world needs the X-Men."

Ketika dua tim superhero lain masih bermain-main dengan mediocrity dan elegant, X-Men terus tampil stabil dengan caranya sendiri tanpa disibukkan dengan dua hal tadi. Meskipun tidak selalu sukses untuk bergerak maju sangat jauh namun X-Men film series (selain Deadpool) selalu lebih mampu menjembatani gelap dan terang dari superhero, ia serius tanpa terkesan gelap yang berlebihan, ia playful namun tidak childish dan menggerus sisi super dari karakter. First Class hadir sebagai upaya restart, Days of Future Past melanjutkan proses, dan X-Men: Apocalypse berhasil meneruskan misi tersebut. It’s another style, substance, and sensation from X-Men. Wake your ass up cause it's time to go beast mode!

Review: Macbeth (2015)


"All hail Macbeth that shall be king"

Kehidupan yang semakin “brutal” sekarang ini telah menerapkan sistem di mana yang kuat yang bertahan, sementara yang lemah akan berantakan. Apakah hal tersebut sesuatu yang salah? Tidak, namun jika kamu tidak mampu menangani konsekuensi yang selalu ada di balik setiap aksi maka yang kuat bisa saja juga berakhir berantakan. Hal tersebut merupakan inti dari film ini, Macbeth, sebuah war drama berisikan kebrutalan yang menawan, menghidupkan karya William Shakespeare kedalam bentuk tragedi berdarah yang indah. Bold, brutal, bloody, and beauty.

Review: Steve Jobs (2015)


"Musicians play their instruments. I play the orchestra."

Steve Jobs merupakan sebuah presentasi manipulasi yang mengasyikkan, sebuah biopic yang seperti tidak ingin sekedar membawa kamu sebagai penonton menemukan jawaban atas pertanyaan tapi justru tampak seperti sebuah studi karakter bersama berbagai masalah dalam temperatur tinggi. Steve Jobs lebih terasa seperti sebuah drama ketimbang biografi yang menceritakan kisah hidup sosok pendiri Apple, namun di tangan Trainspotting dan Slumdog Millionaire ia tampil indah sejak awal hingga akhir.

Movie Review: Frank (2014)


"Chinchilla! Chinchilla!"

Apa sih musik itu? Nada yang bisa membuat kamu bergoyang tanpa peduli jika suara vokal yang terselip disampingnya terasa mengganggu karena tidak sejalan dengan irama? Atau justru kumpulan nada yang membingungkan namun mampu menyentuh emosi pendengarnya? Apa sih musisi itu? Manusia dengan tampang menarik yang mudah meraih atensi sekalipun ia punya suara standard yang dimiliki banyak orang? Atau justru sosok dengan penampilan kurang menarik namun mampu membawa pendengar hanyut dalam lantunan suaranya yang merdu? Hal tadi merupakan perdebatan yang menarik, antara bisnis dan kenikmatan bermusik, Frank, clever satire whose lose their consistency.

Movie Review: X-Men: Days of Future Past (2014)


"Mutants, we now find ourselves on the edge of extinction."

Tidak perlu mundur sampai dua hingga tiga dekade kebelakang, jika anda sama dengan saya menghabiskan masa kecil di era 90-an setidaknya anda akan kenal dengan salah satu tim superhero beranggotakan para mutan yang kemunculannya tahun 2000 lalu dapat dikatakan menjadi pioneer kemunculan superhero lainnya ke layar lebar. Tapi jika berbicara cerita pada franchise atau film series X-Men lebih sering meninggalkan luka ketimbang terus maju, sebut saja seperti Marvel Cinematic Universe. Fox sadar akan kesalahan itu dan mulai mencoba menyusun ulang jagoan mereka ini, dan well, itu berhasil. X-Men: Days of Future Past, style, substance, sensation.    

Movie Review: The Counselor (2013)


Ada dua tipe pada penjual. Pertama adalah mereka yang tidak peduli dengan hal-hal minor seperti contohnya costumer service dan hanya fokus pada tujuan utama agar barang mereka terjual, dan selesai. Namun ada pula penjual yang tahu bagaimana memperlakukan pembelinya dengan cara menghadirkan hal-hal menarik sehingga pembeli menikmati proses serta apa yang mereka jual. The Counselor adalah contoh dari tipe pertama, sebuah kemasan berantakan yang sangat mengecewakan, a big flop.

Movie Review: 12 Years a Slave (2013)


"I don't want to survive. I want to live."

Rasisme sebenarnya bukan sebuah masalah, melainkan suatu budaya yang sudah lahir sejak ratusan tahun yang lalu, sebuah penyakit yang tidak bisa hilang dalam sekejap. Butuh proses, butuh alarm yang berfungsi untuk terus mengingatkan kita pada betapa kejinya tindakan tidak manusiawi tersebut. 12 Years a Slave sukses besar dalam menjadi alarm paling baru, seperti menyaksikan Django Unchained dalam warna yang lebih gelap, dengan cara sederhana menghadirkan pengamatan yang intens dan mengerikan dari isu kemanusiaan. Oscar?  

Movie Review: Prometheus (2012)


Isle of Skye, Skotlandia, tahun 2093, ilmuwan bernama Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) dan Charlie Holloway (Logan Marshall-Green), menemukan sebuah lukisan kuno yang membentuk susunan bintang. Dengan bantuan dari sponsor mereka Weyland Industries, perusahaan yang dipimpin oleh Peter Weyland (Guy Pearce), mereka melakukan perjalanan menggunakan pesawat luar angkasa bernama Prometheus. Mereka didampingi oleh Meredith Vickers (Charlize Theron), karyawan dari sponsor,  seorang robot bernama David (Michael Fassbender); Kapten Janek (Idris Elba), kapten kapal; dan beberapa kru. Perjalanan pun dimulai, dengan misi utama mencari tahu asal-usul dari penciptaan umat manusia.