Showing posts with label Olivia Colman. Show all posts
Showing posts with label Olivia Colman. Show all posts

Movie Review: The Lost Daughter (2021)

"We are obliged to do so many stupid things. From childhood, even."

Seorang anak adalah pusaran kecemasan, dan hal tersulit untuk dibicarakan adalah hal-hal yang kita sendiri tidak dapat mengerti. Kombinasi itu berpotensi membawa masalah bagi wanita yang baru saja menyandang status sebagai seorang Ibu, berawal dari baby blues kemudian depresi postpartum dan berakhir di psikosis postpartum, wanita akan terkejut ketika ia harus menjadi seorang anak perempuan namun juga Ibu secara bersamaan, struggling to be both. Titik awalnya adalah rasa tidak percaya diri namun jika perasaan seperti itu berkepanjangan maka dapat menyebabkan ibu jatuh dalam keadaan depresi dan berujung pada masalah mental. Film ini mencoba membawamu mengamati hal tersebut dengan menggunakan cermin dan kilas balik. ‘The Lost Daughter’: a dodgy drama.


Movie Review: The Electrical Life of Louis Wain (2021)

“Cats that do not look and live like Louis Wain cats are ashamed of themselves.”

Kamu mungkin pernah melihat scenes di film atau serial, dan mungkin juga pernah melakukannya di kehidupan nyata, momen di mana beberapa pengunjung berdiri dalam waktu cukup lama di depan lukisan di pameran lukisan. Memang akan tampak aneh jika dilihat dari sudut pandang paling simple, itu hanya lukisan kenapa harus diamati selama itu? Sesuatu yang sebenarnya tidak tepat karena dalam karya yang mereka ciptakan setiap Artist tentu saja menyuntikkan isu, ide, dan juga pesan untuk berbicara tentang sesuatu, hal yang jika dapat klik dengan pengunjung maka akan menghasilkan “sengatan listrik” yang menarik. Karakter utama film ini, Louis Wain, percaya electricity was something so extraordinary and strange that the human mind was barely able even to comprehend it. ‘The Electrical Life of Louis Wain’ : the Wes Anderson film made by someone else.


Movie Review: The Mitchells vs. the Machines (2021)

“Families can be hard, but they're so worth fighting for.”

Film animasi terbaru Netflix ini merupakan sebuah kemasan campur aduk beragam jenis isu, konflik, hingga pesan, yang ibarat bubur ayam dibumbui dengan merata sehingga ketika tiap bahan dimakan bersama satu sama lain (tidak diaduk, sorry) maka terasa sedap di lidah. Menggunakan petualangan sebuah keluarga yang dengan bangga menyebut diri mereka sebagai “worst family of all time” film ini menyajikan pengisahan tentang teknologi, kekuasaan, pubertas, coming-of-age, serta tentu saja jantung utamanya yakni keluarga, dikemas unik dan mengingatkan pada kesan segar yang dulu pernah dihadirkan oleh The Lego Movie. ‘The Mitchells vs. the Machines’ : a neatly made oddball parade sci-fi comedy.


Movie Review: The Father (2020)

“Pardon me for breathing.”

Manusia berawal dari bayi dan akan berakhir sebagai bayi pula. Sebuah pernyataan yang secara logika memang aneh namun sangat mudah ditemukan di kehidupan nyata meskipun tidak lantas membuatnya menjadi sebuah fakta. Saat kecil kamu dirawat oleh orangtua, kemudian tumbuh dewasa dan memiliki kemampuan untuk melakukan segala macam hal, namun ketika energi itu perlahan tergerus kamu akan kembali membutuhkan “bantuan” dari anak-anakmu. Dengan cara sederhana namun terasa luar biasa siklus tadi diceritakan oleh film ini. ‘The Father’ : they’re thinking of ending things.


Review: The Lobster (2015)


"How much do you love her, on a scale of 1 to 15?"

Tentu saja kamu akan menemukan berbagai jawaban yang beragam ketika menanyakan apa arti dari cinta pada setiap orang yang kamu temui. Hal tersebut lahir dari konsep terhadap cinta yang tidak sama pada setiap manusia, ada mereka yang percaya menikah itu karena sudah saling mencintai, ada mereka yang percaya saling mencintai itu karena sudah menikah, dan lain sebagainya. Konsep tentang cinta itu yang coba digambarkan oleh The Lobster dengan menggunakan sebuah visi yang aneh bahkan mungkin gila: bagaimana jika suatu saat nanti orang dewasa diwajibkan tidak melajang, harus menemukan pasangan mereka dalam kurun waktu 45 hari, bagi mereka yang gagal dan masih melajang akan berubah menjadi binatang. Sounds crazy? Yeah, it’s a crazy play about life and love.

Movie Review: Locke (2013)


“You make one mistake, the whole world comes crushing down around you.”

No matter what the situation is, you can make it good. Bukankah kalimat tadi memberikan kesan yang sangat positif, seolah menjadi penggambaran lain dari bagaimana semua masalah yang tercipta sesungguhnya punya jalan keluar yang juga telah eksis dan menanti kita untuk menemukannya. Tapi tekanan terkadang yang menjadikan kalimat tersebut tidak semudah yang kita bayangkan, air berubah menjadi api, yang waras dapat menjadi gila. Penggabungan dua teori tersebut yang dihadirkan secara sederhana oleh film ini, Locke, bold and smart experimental character study about human vs trouble. The power of storytelling, Buried in a car. 

Movie Review: Hyde Park on Hudson (2012)


Tujuan utama yang ingin disampaikan oleh sebuah film dengan bertemakan biografi adalah agar anda mengetahui kisah yang pernah dialami tokoh tersebut, dan mungkin bagi mereka yang sebelumnya telah mengetahui informasi tersebut dapat lebih memperdalam pengetahuan mereka. Hyde Park on Hudson akan mencoba mengajak anda lebih dekat kepada sosok Presiden ke 32 USA, dan salah satu tokoh paling terkenal dipertengahan abad ke-20, Franklin D. Roosevelt, yang ternyata pernah memiliki kisah asmara yang terlarang.