Showing posts with label Philip Seymour Hoffman. Show all posts
Showing posts with label Philip Seymour Hoffman. Show all posts

Review: The Hunger Games: Mockingjay Part 1 (2014)


"The courage of one will change the world."

Film pertama dari bagian terakhir trilogy The Hunger Games ini bisa dibilang sedikit salah langkah dalam memainkan strategi yang mereka miliki, dan pusatnya seperti mayoritas keluhan dari banyak penonton terletak pada keputusan mereka untuk membagi satu novel menjadi dua. Kesalahan berasal pada film kedua, Catching Fire, yang secara mengejutkan menaikkan ekspektasi kita pada trilogy ini secara drastis, memberikan lompatan yang terbilang cukup besar pada sisi daya tarik jika dibandingkan dengan film pertamanya, yang juga mempengaruhi penilaian terhadap The Hunger Games: Mockingjay Part 1. We're at the start, the colours disappear. 

Movie Review: The Hunger Games: Mockingjay – Part 1 (2014)


“If we burn, you burn with us!”

Damn you Harry Potter, karena upaya empat tahun lalu untuk memanfaatkan potensi box-office dengan membagi film terakhir menjadi dua bagian kini perlahan akan bahkan telah menjadi trend baru yang menarik untuk dicoba. Bukan perlakuan yang merupakan sebuah dosa memang, namun masalahnya adalah tidak semua film adaptasi layak mendapatkan treatment seperti itu, tidak semua buku atau novel memiliki materi yang mumpuni untuk dipecah menjadi beberapa bagian, tentu ada hal positif, namun tidak sedikit pula hal negatif yang dapat muncul. Bagian pertama dari film terakhir trilogi perjuangan di negeri Panem ini menderita karena hal terakhir tadi, The Hunger Games: Mockingjay - Part 1, a bit forced, feeble, faint, and facile formality fission for farewell.

Review: A Most Wanted Man (2014)


"To make the world a safer place. Isn't that enough?"

Salah satu pengalaman menonton yang paling menyenangkan adalah ketika kamu di ajak bermain tarik dan ulur oleh cerita, mondar-mandir bersama pertanyaan yang hadir dalam petualangan dingin didalam labirin penuh ketenangan yang anehnya sesekali mampu memancarkan suhu panas di dalamnya. A Most Wanted Man punya itu dalam kuantitas dan kualitas yang memikat, it takes a minnow to catch a barracuda, and a barracuda to catch a shark. Manis!!

Movie Review: The Hunger Games: Catching Fire (2013)


"Every revolution begins with a spark."

I am a Tribute, that’s for sure. Namun anehnya antusiasme pada film kedua dari TheHunger Games ini sejak awal sesungguhnya tidak begitu besar, karena imo Catching Fire adalah buku paling lemah di antara dari tiga novel karya Suzanne Collins. Catching Fire hanya berisikan pengulangan dengan bumbu trik politik, ibarat sebuah jembatan yang menghubungkan The Hunger Games dengan ledakan besar pada Mockingjay. Hal tersebut juga akan dihadirkan oleh The Hunger Games: Catching Fire, sebuah memorable popcorn movie yang di eksekusi dengan penuh rasa percaya diri, surprisingly become a solid and full enjoyment ride, nearly awesome.

Movie Review: A Late Quartet (2012)

 

Everything has a limit. Ada saat dimana semua karya gemilang yang telah anda bangun selama puluhan tahun lamanya dengan disertai usaha yang begitu keras pada akhirnya memaksa anda untuk melepaskan mereka. Pada awalnya mungkin akan menjadi hal yang sulit untuk diterima, namun terus memaksakan tentu bukan pula sebuah keputusan yang baik. A Late Quartet, mungkin terkesan kecil dan sangat jauh dari kesan megah, namun mampu menjadikan konflik yang ia bawa menjadi sebuah bahan renungan yang menarik bagi penontonnya.

Movie Review: The Master (2012)


Karya terbaru dari Paul Thomas Anderson ini sebenarnya adalah salah satu film yang saya paling nantikan tahun lalu. Mengakhiri istirahatnya sepanjang setengah dekade dengan mengangkat plot cerita yang cukup provokatif, Anderson akan kembali menunjukkan kepada anda alasan kenapa film-filmnya selalu dinantikan oleh banyak pecinta film.