Showing posts with label Rachel McAdams. Show all posts
Showing posts with label Rachel McAdams. Show all posts

Movie Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

“I love you in every universe.”

Salah satu kelebihan yang kini dinikmati Marvel Cinematic Universe ialah flexibility, bagaimana sejak awal telah membentuk pondasi yang kuat bagi kelompok superhero mereka yang kemudian dapat diutak-atik sesuai dengan kebutuhan konsep yang coba disajikan. Aksi mix and match itu telah berjalan dengan baik sejak awal, hingga the blip terjadi, momen ketika Thanos snapping his fingers dan mengubah “tatanan” yang telah tersusun. Penyesuaian dilakukan sejak major event itu, diawali dengan ‘WandaVision’ yang terjadi tiga minggu pasca ‘Endgame’ kini Marvel mengembangkan dunia mereka dengan travel through the multiverse. Ya, that “Spider-Man reunion” thing adalah permulaan. ‘Doctor Strange in the Multiverse of Madness’: an example of imagination triumph over the programmed of commercial calculation. (Warning: the following post might contains mild spoilers)


Review: Spotlight (2015)


"They knew and they let it happen!"

Sebenarnya jika dilihat dari dasar ceritanya Spotlight merupakan sebuah kemasan yang sederhana, tapi jujur saja cukup sulit untuk membuat kalimat pembuka bagi film ini. Mungkin bagi sebagian orang ini akan terkesan berlebihan, tapi Spotlight merupakan jenis drama prosedurial yang selalu kita nantikan kehadirannya setiap tahun, karena jumlah mereka yang berhasil mencapai level top-class terhitung langka. Spotlight seperti ketika The Hurt Locker, Zero Dark Thirty, dan Argo bersama dengan Hulk serta Birdman berkumpul dan berkerja sama di dalam ruang investigasi The Boston Globe. First-class drama.

Review: The Little Prince [2015]


"Growing up is not the problem, forgetting is."

Paman saya pernah mengatakan bahwa hal terindah yang ia alami sebagai orang tua adalah ketika melihat anaknya yang masih berusia lima tahun berlari-lari di ruang tamu dengan mainannya. Dia juga pernah melontarkan dua hal yang salah satunya membuat saya merasa aneh kala itu, pertama bahwa ia tidak ingin anaknya tumbuh dewasa, dan ia ingin anaknya menikmati menjadi “anak-anak”. Dua hal itu yang jadi isu utama dari The Little Prince, hubungan dua arah antara dewasa dan anak-anak yang dikemas dalam bentuk animasi yang cukup manis.

Review: Southpaw (2015)


"Billy Hope knows how to take a punch, but he also drops bombs."

Terkadang masalah itu punya maksud lain dibalik kehadirannya di dalam kehidupan kamu, seperti kehilangan misalnya yang bisa saja punya tujuan untuk menjadikan kamu lebih giat lagi untuk mendapatkannya kembali atau bukan tidak mungkin memperoleh yang lebih baik dari sebelumnya. Southpaw adalah sebuah film tentang tinju yang menariknya tidak sekedar ingin membuat kamu menikmati pukulan di sana dan di sini, dengan formula standard ia ingin memberikan penggambaran tentang percaya pada harapan dengan menggunakan drama di luar dan di dalam arena tinju yang, oke.

Review: A Most Wanted Man (2014)


"To make the world a safer place. Isn't that enough?"

Salah satu pengalaman menonton yang paling menyenangkan adalah ketika kamu di ajak bermain tarik dan ulur oleh cerita, mondar-mandir bersama pertanyaan yang hadir dalam petualangan dingin didalam labirin penuh ketenangan yang anehnya sesekali mampu memancarkan suhu panas di dalamnya. A Most Wanted Man punya itu dalam kuantitas dan kualitas yang memikat, it takes a minnow to catch a barracuda, and a barracuda to catch a shark. Manis!!

Movie Review: About Time (2013)


“How long will I love you? As long as the stars are above you, and longer if i can.”

Setiap tahun anda pasti akan menemukan film dengan tipe seperti ini, bukan berbicara pada konteks genre melainkan sebuah film dimana anda tahu ia memiliki banyak celah meskipun tampil implisit tidak mampu menjauhkannya dari sorotan, kemudian mencoba tetap objektif dalam memberikan penilaian, namun disisi lain harus berhadapan dengan fakta anda merasakan sebuah kesulitan untuk menampik dan mengingkari bahwa setiap menit yang ia berikan merupakan sebuah enjoyment yang menyenangkan. About Time adalah contoh terbaru, ketika time travel hadir dalam sentuhan romance dan comedy yang klasik, sebuah kemasan guilty pleasure skala besar, really hard to dislike.   

Movie Review: To The Wonder (2012)

 

Bagi saya, sebuah film yang mengandalkan bahasa visual adalah sebuah film yang egois. Bukan berarti ia punya tingkat kesulitan dalam cara pemahaman yang berbeda dari film pada umumnya (menurut saya itu sama saja), meskipun ketimbang dipadati dengan dialog-dialog untuk membawa penontonnya masuk dan berpetualang kedalam cerita, ia justru didominasi tampilan visual disertai dialog yang minim. Dampaknya, ia sangat sangat menuntut para penontonnya untuk harus berada dalam kondisi dimana mood mereka sedang baik agar dapat ikut menikmati semua pesan yang ia usung. Menyenangkan, sometimes.

Movie Review: The Vow (2012)


Ketika Allie jatuh cinta kepada John Tyree. 
Ah, Itu hanya khayalan dari saya saja karena pemeran utama dari film ini adalah Rachel McAdams (Allie) dan Channing Tatum (John). Meskipun memiliki keterkaitan dengan Dear John dan The Notebook dari sisi pemeran utama, film yang disutradarai oleh Michael Sucsy bukan merupakan adaptasi dari novel karangan Nicholas Sparks. Film ini diangkat dari kisah nyata Kim dan Krickitt Carpenter, pasangan pengantin baru dari Las Vegas, New Mexico.