Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Movie Review: Moonage Daydream (2022)

“Always go a little further into the water than you feel you're capable of being in.”

Apakah di semesta lain versi dari tiap manusia di bumi juga exist dan berjalan dalam kondisi serta mungkin cara yang berbeda? Hingga kini belum ada teori yang secara gamblang dapat memberi jawaban atas pertanyaan seperti misal “Is there life on other planets?” serta kehidupan yang mungkin terjadi di luar Bumi dan yang tidak berasal dari Bumi. Maka sangatlah wajar jika tiap manusia seharusnya menghargai hidup yang mereka miliki kini di bumi, meskipun memang tolok ukurnya akan terasa variatif bagi setiap individu, bukan tentang berapa banyak waktu yang kamu miliki maupun semenarik apa mimpi dan harapan yang kamu punya, it’s what you do in life that's important. Menariknya, saya disentil kembali tentang makna hidup tadi setelah menyaksikan dokumenter kisah hidup one of the most influential musicians of the 20th century. ‘Moonage Daydream’: ladies and gentleman, David Bowie.


Movie Review: Spirited (2022)

“Good Afternoon!”

Sejak terbit 179 tahun yang lalu novel ‘A Christmas Carol’ karya Charles Dickens kabarnya tidak pernah out of print, telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa kisah tentang seorang pria tua kikir dan pelit yang kemudian berpetualang ke masa lalu dan juga masa depan itu juga telah diadaptasi dan didramatisasi berulang kali dalam bentuk film, stage, opera, dan media lainnya. Versi baru muncul secara teratur dari cerita yang melibatkan campur tangan dari The Ghost of Christmas itu, sehingga tidak heran jika hingga kini pun cerita ‘A Christmas Carol’ masih lekat asosiasinya dengan the Christmas season. Versi terbaru ini mencoba mendaur ulang kembali kisah klasik tersebut menjadi sebuah modern retelling bernafaskan musical comedy, with Will Ferrell and Ryan Reynolds. ‘Spirited’: a nifty Christmas karaoke bar.


Movie Review: Navalny (2022)


“Has Putin done anything good for you?”

Siapa berani lawan Vladimir Putin? Dalam cakupan yang lebih luas tentu saja ada tapi di negara yang telah ia kendalikan sejak tahun 1999 pria 70 tahun dengan level of support di atas 69% itu nyaris tak tersentuh posisinya sebagai sang penguasa. Padahal di bawah kepemimpinan Putin Rusia mengalami kemunduran demokrasi dan pergeseran ke arah otoritarianisme, bukan hanya absennya pemilu yang adil saja tapi juga pelanggaran hak asasi manusia, termasuk pemenjaraan serta penindasan terhadap lawan politiknya. Tidak heran jika warga dunia di luar negara yang sedang dalam “pengasingan” oleh beberapa negara lain itu bertanya-tanya, apakah Putin memang sekuat itu sehingga tidak ada yang berani untuk melawannya? Jawabannya adalah, ya Putin memang kuat, tapi ada yang berani mencoba melawannya. Namanya Alexei Navalny. ‘Navalny’: a David and Goliath fight with Putin.


Movie Review: Argentina, 1985 (2022)

“New government says they’ll change things, and then appoints the same assholes as always.”

Kadang menjadi “berbeda” justru dapat membuat seseorang berpotensi besar untuk dikucilkan, sekalipun dia sebenarnya berada di pihak yang benar. Bukan tantangan internal saja yang sulit, justru eksternal yang berasal dari orang sekitar yang kerap dengan mudah merasa di atas angin dan mencoba mengintimidasi. Memperjuangkan kebenaran tidak mudah, dan menjadi orang yang benar dan baik itu susah, hanya para pemberani yang menolak untuk menyerah. Hal tersebut yang coba disampaikan film ini, menggunakan proses transisi demokrasi lewat peristiwa pengadilan terhadap anggota pemerintahan militer de facto yang berkuasa ketika kediktatoran masih jadi raja. ‘Argentina, 1985’: the beauty of justice.


Movie Review: The Good Nurse (2022)

“They didn't stop me.”

Film ini dibuka dengan static shot dari sebuah pintu ruang rawat inap hospital yang mengarah ke dalam ruangan tersebut, sisi kiri dan kanannya layar didominasi dinding sedangkan di bagian tengah terdapat jendela yang memperlihatkan pohon tanpa daun di sisi luar. Mungkin sedang musim gugur atau memang pohon tersebut telah mati, seperti salah satu pasien yang menghuni ruangan itu. Hanya kakinya yang terlihat ketika ia terbaring di salah satu bed ketika EKG mengirimkan sinyal dan seorang perawat datang untuk memberi pertolongan. Sayangnya tidak lama code blue muncul disusul datangnya berapa tenaga kesehatan lain. Perawat pertama tadi kemudian mundur ke belakang dan framing kamera mulai mengerucut, mencoba menangkap wajah si perawat, yang anehnya, seolah mencoba menahan senyum agar tidak muncul. ‘The Good Nurse’: a quietly chilling crime drama.


Movie Review: Rosaline (2022)

"One day, we will be together forever."

Pria dengan inisial “R” belakangan ini menjadi salah satu topik perbincangan yang hangat lewat beberapa kasus tentang cinta dan retaknya hubungan asmara. Tentu saja tidak bisa disamaratakan tapi jika ditarik jauh ke belakang pujangga kenamaan asal Inggris, William Shakespeare, seolah juga punya ketertarikan yang sama pada huruf “R’ itu, sehingga ia menamai karakter utama dari salah satu karyanya: Romeo. Orang awam pada umumnya mengenal Romeo sebagai seorang pria yang rela mati demi memperjuangkan cintanya pada Juliet, tapi sebelum Juliet ada Rosaline di hati Romeo yang sayangnya tak berbalas, asal mula yang pada akhirnya membuat Romeo berpaling. Jadi, semua karena Romeo? ‘Rosaline’ : a feisty alternative retelling.


Movie Review: Ticket to Paradise (2022)

“Being loved is not the same as loving.”

Pernikahan punya makna yang berbeda-beda bagi tiap orang. Ada yang menganggap seseorang sudah menjadi manusia dewasa ketika ia telah menikah, ada yang menilai itu sebagai ikatan suci yang dilakukan satu kali untuk selamanya, dan jika berbicara budaya Indonesia maka ada konsep bahwa menikah bukan hanya menyatukan dua manusia saja tapi juga dua keluarga besar mereka. Tapi apakah manusia yang sudah menikah pasti akan dewasa? Apakah jika kelak di tengah jalan muncul pertikaian opsi yang tersedia hanya bertahan meski terluka? Dan seberapa penting sebenarnya restu dari keluarga, terutama orangtua, pada sebuah pernikahan? Termasuk ego saat anak mengambil pilihan tidak seperti yang kamu harapkan. Semua itu hadir dalam bentuk romantic comedy yang terjadi di Bali ini. ‘Ticket to Paradise’ : a quite good traditional screwball comedy.


Movie Review: Pleasure (2021)

"And when you've made your mind up, you can do anything."

Mimpi memang indah namun untuk membuat itu menjadi kenyataan tidak selalu mudah. Realita tak seindah ekspektasi, tidak semua yang diharapkan bisa berjalan sukses seperti yang kamu inginkan, apalagi jika sejak awal kamu telah merasa yakin dapat meraih mimpi itu dengan cara yang mudah. Rasa percaya diri memang penting namun itu saja tidak cukup ketika kamu terjun ke lapangan dan berhadapan dengan rintangan yang sesungguhnya. Film ini bercerita tentang hal tersebut, gadis muda yang merasa yakin bahwa ia punya kemampuan yang mumpuni untuk meraih sukses namun pada akhirnya bertemu fakta bahwa apa yang ia impikan tidak seindah yang ia bayangkan. ‘Pleasure’ : about the cruelty and dangers of dreaming.


Movie Review: Emily the Criminal (2022)

"You can't make money another way?"

Kejutan dari hacker berinisial Bjorka beberapa bulan yang lalu ketika dengan berani ia mengumbar data pribadi dari beberapa petinggi Pemerintahan Indonesia untuk kemudian menjadi konsumsi publik sebenarnya bukan sebuah aksi yang membuka pintu masuk cybercrime ke Indonesia. Tahun lalu misalnya data penduduk Indonesia dalam jumlah jutaan bocor dan dijual di forum internet, pencurian yang sebenarnya telah terjadi sebelumnya dan kemungkinan besar akan terus terjadi di masa depan. Terlebih Web3 tampaknya tidak lama lagi akan beranjak dari sebatas sebuah ide saja, dan ketika itu terjadi maka pengumpulan data akan jadi lebih luas yang tentu saja hadir dengan resiko hilangnya privasi. Bahaya itu coba diceritakan film ini dengan menggunakan aksi pemalsuan kartu kredit. ‘Emily the Criminal’: money can buy you happiness!


Movie Review: 20th Century Girl (2022)

“When I'm with you, I'm always happy.”

Jangan tunggu lama-lama, nanti diambil orang. Ya, aksi menunggu dalam hal apapun itu terlebih dalam sebuah percintaan tentu saja punya resiko, saat sedang mencoba meyakinkan hati yang dipenuhi rasa ragu apalagi takut seolah masih banyak waktu yang tersisa dan bersedia menunggumu. Dan ketika telah hilang maka penyesalan menjadi destinasi paling familiar, meskipun memang tidak sedikit yang dapat ikhlas pula. Seperti dalam percintaan misalnya, bahwa tidak semua orang hadir ke dalam kehidupanmu untuk tinggal atau menetap, ada yang datang untuk memberi sebuah pembelajaran atau sekedar sebatas kenangan. Film ini mencoba menceritakan itu dengan menggunakan elemen klasik romance bersama cinta dan persahabatan, yang tidak melulu dapat jalan beriringan. ‘20th Century Girl’: you make me shine just by your existence.


Movie Review: Red Rocket (2021)

“Life could change on a dime.”

Tebal muka mungkin wajib dimiliki oleh para bintang porno, karena dengan menjadi thick-skinned otomatis mereka akan menjadi tidak peka terhadap kritik atau hinaan sehingga tidak merasa terluka. Karena pekerjaan yang mereka geluti memang pada dasarnya memiliki citra negatif, melakukan perbuatan yang masuk dalam kategori dosa dengan tujuan utama untuk memenuhi fantasi dan hasrat seksual orang-orang yang kemudian “membeli” produk mereka tersebut. Hal terakhir tadi mungkin dapat memicu perdebatan lanjutan, lingkaran bisnis yang berisikan produsen, barang jadi, dan konsumen meski di sisi lain tentu masih banyak pihak yang menolak menjadi bintang porno adalah sebuah pekerjaan. ‘Red Rocket’: the American Dream with sex and naivety.


Movie Review: Thirteen Lives (2022)

“Fear is created in our minds.”

Sebuah tim sepakbola beranggotakan 12 orang anak laki-laki berusia 11 hingga 16 tahun bersama dengan asisten pelatih mereka yang berusia 25 tahun memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah gua bernama Tham Luang Nang Non usai sesi latihan mereka. Niatnya untuk bersenang-senang namun celakanya hujan dengan intensitas tinggi membanjiri gua dan menghalangi jalan keluar. Dilaporkan hilang beberapa jam kemudian operasi pencarian dimulai, upaya penyelamatan yang di tahun 2018 lalu itu menjadi sorotan banyak pasang mata selama kurang lebih 18 hari, baik itu dari berita hingga tentu bantuan teknis. Third projects about the rescue operation and after that moving documentary "The Rescue", film ini mencoba menyuntikkan drama tambahan ke dalam peristiwa heroic itu. ‘Thirteen Lives’: a war with water."


Movie Review: Crimes of the Future (2022)

“Surgery is the new sex.”

Berjoget tipis-tipis sendiri di dalam kamar bisa menghasilkan banyak uang mungkin sebuah ide yang tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang di beberapa dekade lalu, sekalipun kala itu mereka juga punya imajinasi bahwa di masa depan segala sesuatu mungkin akan lebih canggih. Hal yang sama juga kita alami kini, definisi masa depan kelak seperti apa masih tidak pasti walaupun sama seperti orang-orang tadi bahwa kita juga memiliki imajinasi, kini bahkan dengan analisa data jadi semakin mudah bagi beberapa orang untuk diprediksi. Film mengeksplorasi potensi masa depan yang masih jadi misteri, menggunakan premis yang terasa aneh yakni bagaimana jika kelak rasa sakit merupakan cara baru untuk merasakan sensasi bahagia? ‘Crimes of the Future’: a medium rare body horror.


Movie Review: Mrs. Harris Goes to Paris (2022)

“How many chances do you get in your lifetime?”

Gantungkan mimpimu setinggi langit. Ya, kalimat klasik memang dan mungkin akan menimbulkan berbagai makna, tapi hal itu sebenarnya sangat tepat. Memang dalam perjalanan hidup mereka setiap manusia akan bertemu dengan berbagai rintangan yang di sisi lain dapat membuat mimpi yang sudah kadung tinggi digantung tadi jadi sulit untuk diraih. But if you can believe it, you can achieve it, apalagi Sang Pencipta dan semesta yang Ia kuasai selalu punya cara yang kadang datang di luar nalar dan logika untuk menolong atau membantu mereka yang percaya serta tetap berusaha. Di film ini seorang wanita yang berprofesi sebagai pembantu dan akan mengalami pengurangan gaji justru menolak berhenti tuk bermimpi: ia ingin punya sebuah gaun merk Christian Dior! Go wherever your dream takes you. ‘Mrs. Harris Goes to Paris’: a feel-good and uplifting story.


Movie Review: Prey (2022)

"You wanna hunt something that's hunting you?" 

Dahulu jika sebuah film ternyata status tayangnya “dialihkan” ke layanan streaming maka itu dianggap sebuah pertanda buruk, karena akan semakin mudah berasumsi bahwa kualitasnya tidak mumpuni sehingga membuat perusahaan produksi memilih untuk tidak merilisnya di layar lebar. Tapi pandemi tiba dan mengubah banyak hal, salah satunya adalah pamor dari streaming service yang jadi pilihan populer, mereka kemudian berlomba memoles perpustakaan film-nya agar semakin menarik. Dan the Predator franchise jadi salah satu anggota baru, film kelima dari kisah yang diawali oleh Arnold Schwarzenegger di tahun 1987 ini tidak rilis di layar lebar tapi langsung ke streaming service, dan tanpa menggunakan judul Predator! Menariknya, ini justru berhasil jadi salah satu yang terbaik di the Predator franchise. ‘Prey’: shine brightly above simplicity.


Movie Review: Mencuri Raden Saleh (2022)

“Jangan percaya sama orang lain.”

Film tentang pencurian memang memiliki tugas yang tidak mudah, karena fokusnya adalah mengikuti satu kelompok yang merencanakan dan melakukan aksi kejahatan, bukan mengikuti orang-orang yang mencoba menghentikan para penjahat, otomatis akan lebih sulit untuk membangun semacam simpati antara penonton dengan para karakter penjahat. Tapi jika tugas itu berhasil dilaksanakan dengan baik maka film pencurian tersebut justru akan lebih mudah untuk menebar pesonanya, beberapa film seperti ‘The Italian Job’, Ocean's franchise, ‘Now You See Me’, hingga ‘Baby Driver’ bahkan bukan hanya berhasil menghibur saja namun menjadi heist film yang terasa memorable, jika dikemas dengan baik dan tepat. Hal yang berhasil dilakukan oleh film ini, yang dengan percaya diri yang tinggi menyebut aksi mereka sebagai pencurian terbesar abad ini. ‘Mencuri Raden Saleh’: a skillfully executed game. 


Movie Review: Sayap-Sayap Patah (2022)

“Nani sayang aku bikin nasi goreng kesukaanmu. Tunggu aku pulang!”

Mungkin dari poster-nya impresi pertama yang muncul ini adalah sebuah film drama percintaan, saya pun demikian pada awalnya dan kemudian berubah setelah mencoba mencari tahu cerita yang hendak film ini ceritakan. Sinopsisnya memang meninggalkan impresi serupa dengan poster, sepasang suami istri yang telah hidup bahagia, tapi di sisi lain di dalam cerita ada tragedi kerusuhan Mako Brimob tahun 2018, sebuah peristiwa yang berlangsung selama 36 jam saat terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh para narapidana terorisme. Seketika impresi awal akan sebuah drama percintaan yang dihasilkan oleh poster tadi tergerus, meskipun sebenarnya tersirat kombinasi hal manis dan pahit dari kehidupan di balik aksi Ariel Tatum yang mencium Nicholas Saputra itu. ‘Sayap-Sayap Patah’: mencoba membuatmu melihat dan ikut merasakan.


Movie Review: 12 Cerita Glen Anggara (2022)

“Yang namanya cinta, ya cinta.”

Manusia tidak bisa hidup sendiri, tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Karena sebagai manusia kita saling membutuhkan satu sama lain, dari tegur sapa sederhana, gotong royong, bersimpati, berempati, serta membantu orang lain. Karena salah satu tujuan hidup manusia bukan hanya bertanggung jawab menjaga keberlangsungan hidupnya namun juga sekitarnya, bukan hanya untuk membuat dirinya sendiri hidup bahagia namun juga untuk menolong orang lain merasakan kebahagiaan. Sesuatu yang terkesan berat memang namun hal tersebut tadi coba dikemas dalam bentuk sebuah drama remaja yang ringan, santai, dan tenang oleh film ini, spin-off dari film ‘Mariposa’ yang rilis dua tahun lalu. ’12 Cerita Glen Anggara’: mencapai target yang tak dipasang tinggi.


Movie Review: Official Competition (2021)

“We're going to make a f**king great film.”

Tahukah kamu bahwa scene paling populer di ‘Basic Instinct’ ternyata direkam tanpa knowledge dari sang Aktris, Sharon Stone, yang merasa ditipu oleh Paul Verhoeven, hal yang kemudian dibantah oleh sang Sutradara. Aktor berkelahi dengan Sutradara, atau dengan sesama Aktor, atau Sutradara yang justru bersitegang dengan para crew memang bukan hal baru pada proses produksi sebuah film, karena film sendiri pada dasarnya merupakan sebuah kumpulan ide yang lantas berkombinasi setelah saling mencocokkan satu sama lain. Itu mengapa dibutuhkan tahap persiapan yang sangat matang baik dari sisi teknis hingga tentu saja para Aktor yang akan menjalani proses rehearsal terlebih dahulu. Apa jadinya jika proses development sebuah film sudah dilanda banyak masalah? ‘Official Competition (Competencia oficial)’: a clever look at the vanity in the film business.


Movie Review: Carter (2022)

“You are the only one who can hear me.”

Tugas paling pertama sebuah film adalah meraih atensi penonton dan membuat mereka merasa tertarik dengan apa yang sedang dan akan terjadi, sering kali sesuatu yang unik dan sedikit aneh condong lebih mudah untuk membuat penonton merasa penasaran. Film ini melakukannya bukan hanya dengan menggunakan masalah yang menimpa karakter utama di awal saja namun juga lewat presentasi visualnya, seolah film ini dibuat ketika drone baru saja rilis beberapa tahun lalu dan gambar-gambar keren dengan transisi dan juga pergerakan akrobatik super lincah merupakan cara termudah untuk membuat penonton terpukau. ‘Carter’: a pleasure for gamers and action junkies.