Showing posts with label Richard Armitage. Show all posts
Showing posts with label Richard Armitage. Show all posts

Movie Review: Space Sweepers (2021)

 

“The fate of the human race is in danger.”

Perlahan namun pasti Korea Selatan menunjukkan kepada dunia mengapa mereka menyandang julukan sebagai Macan Asia, diawali Korean Wave yang menjadi pintu masuk, salah satu boyband mereka perlahan memantapkan diri sebagai penguasa puncak tangga lagu di berbagai belahan dunia, hingga kesuksesan “Parasite” serta “Minari” di ajang Oscars dua tahun terakhir. Film ini merupakan pintu masuk terbaru bagi industri perfilman Korea untuk step up their own game, dramatisasi ala Korea itu kini bermain di luar angkasa. ‘Space Sweepers’ : a (not so) smooth like butter space opera.


Movie Review: The Lodge (2019)


“I heard something. A voice.”

Psychological horror merupakan subgenre yang unik, tidak bermain layaknya sebuah horror secara langsung namun justru kerap lebih berhasil “meninggalkan” bekas mendalam di ingatan penontonnya. The Babadook, It Follows,Get Out, Hereditary, hingga The Lighthouse adalah beberapa contoh film psychological horror yang sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir yang berhasil mengolah materi tentang kondisi mental, emosional, dan psikologis untuk “mengganggu” pikiran penontonnya. Film ini mencoba untuk melakukan hal terakhir tadi. ‘The Lodge’ : a well-staged but doesn't bite paranoia.

Movie Review: The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014)


"Will you follow me, one last time?"

Sebelum bercerita terlalu jauh sebagai informasi awal yang mungkin juga akan terkesan telat bahwa The Hobbit merupakan adaptasi dari novel dengan judul sama yang memiliki ketebalan sebesar 320 halaman untuk versi English, dan 340 something untuk terjemahan Bahasa Indonesia. Jika informasi tadi merupakan sesuatu yang baru bagi anda maka anda tidak perlu merasa aneh pada keterkejutan yang bisa saja anda alami, karena dahulu saya juga mengalami hal yang sama. Benar, 320 lembar tadi coba diterjemahkan oleh Peter Jackson menjadi film yang ia pecah menjadi tiga bagian, dan dengan materi yang terbilang tipis hasilnya adalah: film pertama okay, film kedua kurang okay, dan finale terasa kering. The Hobbit: The Battle of the Five Armies, a dry and drudgery entertainment from an “ambitious” effort.

Movie Review: Into the Storm (2014)


"There is no calm before the storm"

Film seperti ini merupakan sebuah hiburan yang punya potensi besar untuk meninggalkan dilema pada penontonnya, kita tahu ia punya materi yang miskin, usang, bahkan beberapa ada yang terasa bodoh, tapi disisi lain kita juga akan merasa sulit untuk  memungkiri bahwa apa yang ia berikan mampu memberikan rasa senang, sekecil apapun kualitas dan kuantitas yang ia miliki. Yap, guilty pleasure. Into The Storm, when disaster and drama destroying each other.

Movie Review: The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)


"You are being used, hobbit,"

Walaupun tidak mampu tampil mencapai standard yang telah ia ciptakan lewat The Lord of the Rings, kehadiran The Hobbit: An Unexpected Journey tahun lalu sangat tidak layak diberikan label sebagai sebuah presentasi yang buruk dari seorang Peter Jackson. Lagipula masih mudah untuk memaafkan An Unexpected Journey jika menilik statusnya sebagai film pertama sebuah trilogi. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi The Desolation of Smaug, yang celakanya justru tidak memberikan sebuah perkembangan yang mengagumkan.

Movie Review: The Hobbit: An Unexpected Journey (2012)


Setelah tertidur hampir 9 tahun sejak terakhir kali ia muncul, akhirnya para hobbit itu kembali. Meraih 11 piala Oscar di film terakhirnya, menjadikan beban yang diemban The Hobbit sangat besar. Ini adalah prekuel dari The Lord of the Rings trilogy, kembali ke 60 tahun sebelum LOTR, dimana Bilbo Baggins (Martin Freeman) didatangi oleh Gandalf (Ian McKellen), dan diminta bergabung bersama 13 kurcaci lainnya untuk merebut kembali harta karun yang diambil oleh Smaug sang naga.