Showing posts with label Ryan Reynolds. Show all posts
Showing posts with label Ryan Reynolds. Show all posts

Movie Review: Spirited (2022)

“Good Afternoon!”

Sejak terbit 179 tahun yang lalu novel ‘A Christmas Carol’ karya Charles Dickens kabarnya tidak pernah out of print, telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa kisah tentang seorang pria tua kikir dan pelit yang kemudian berpetualang ke masa lalu dan juga masa depan itu juga telah diadaptasi dan didramatisasi berulang kali dalam bentuk film, stage, opera, dan media lainnya. Versi baru muncul secara teratur dari cerita yang melibatkan campur tangan dari The Ghost of Christmas itu, sehingga tidak heran jika hingga kini pun cerita ‘A Christmas Carol’ masih lekat asosiasinya dengan the Christmas season. Versi terbaru ini mencoba mendaur ulang kembali kisah klasik tersebut menjadi sebuah modern retelling bernafaskan musical comedy, with Will Ferrell and Ryan Reynolds. ‘Spirited’: a nifty Christmas karaoke bar.


Movie Review: Red Notice (2021)

“It doesn't matter what you do, only matters what they think you've done.”

The Rock, Deadpool, dan Wonder Woman tampil dalam satu film bersama? Tidak heran jika pada mulanya film ini menjadi rebutan empat buah major studios yang saling sikut untuk mendapatkan rights atas film ini. Namun menariknya pemenang dari perang penawaran tadi justru melepas film ini dan kemudian langsung direbut oleh Netflix, mengambil alih proyek terbaru Sutradara 'Skyscraper', 'We're the Millers' dan 'Central Intelligence' dan menjejalinya dengan budget besar, $ 200 juta dan menjadikannya film termahal yang diproduksi oleh Netflix so far, bersanding bersama film terbaru dari the Russo Brothers, The Gray Man. Discarded by Universal, picked up by Netflix. ‘Red Notice’: a collection of classic action comedy tricks.


Movie Review: Free Guy (2021)

“Don't have a good day, have a great day!”

Merupakan simulasi proses kecerdasan manusia pada mesin atau robot kini Artificial intelligence telah masuk ke ranah fashion, sedangkan ada orangtua yang tidak lagi menyewa guru pribadi tapi pemain game untuk membunuh karakter game milik anak mereka yang sudah terlalu candu game. Dan besar kemungkinan satu dari lima teman kamu saat ini merupakan player open-world video game. Itu beberapa dampak semakin pintarnya teknologi yang tersedia saat ini, coba dieksplorasi oleh film ini dengan mencoba membawamu ke dalam sebuah dunia di mana AI, video games, dan human values menciptakan “kerusuhan” yang menarik. ‘Free Guy’ : a crazy and captivating chaos.


Movie Review: The Croods: A New Age (2020)

“It’s not the end. It’s just the beginning. Welcome to our Tomorrow!”

Hampir delapan tahun yang lalu saya menyebut film yang bercerita tentang keluarga di masa purbakala ini sebagai sebuah kisah yang enak di mata saja, karena memang kala itu ceritanya terasa biasa saja. Indah dari segi visual namun terasa cukup datar dari teknik penceritaan, begitu saya menyebut film ‘The Croods’ kala itu. Sebenarnya kisah Grug, Eep, Guy, dan anggota keluarga the Croods ini punya potensi yang oke dan untungnya kali ini mereka menemukan sosok yang tepat, seorang story artist bernama Joel Crawford yang mampu menutup minus di film pertama dan menggali serta memaksimalkan pesona the Croods secara besar-besaran. ‘The Croods: A New Age’ : it’s indeed a new age for the Croods.


Review: Criminal (2016)


"They stuck your husband in my head."

Jika kesuksesan sebuah film hanya ditentukan dari seberapa menarik dan kuat ide cerita maka Criminal akan berada di baris terdepan dan bertarung menjadi yang terbaik. Sayangnya faktor yang menentukan kesuksesan sebuah film ini tidak sesederhana itu, ide menarik harus mampu dieksekusi dengan menarik, jika ia merupakan sebuah film action thriller maka harus mampu menggoda penonton dengan berbagai pukulan yang energik serta menghasilkan sensasi yang "meledak" dan tidak generik. Memiliki banyak pemeran berbakat film ini coba melakukan eksekusi pada ide menarik yang ia miliki, Criminal, when Green Lantern marries Wonder Woman, seperti Face/Off bertemu Bourne dan berisikan lebih dari satu “Nicolas Cage”.

Review: Deadpool [2016]


"I ain't super, and I'm no hero."

Terdapat tiga hal menarik dari kesuksesan Deadpool tidak hanya dalam hal mencuri namun mencengkeram atensi sehingga berhasil meraih berbagai box office records, yaitu: ini energik, ini unik, dan ini licik. Ya, Deadpool ibarat oasis di tengah padang gurun yang gersang di jenis film superhero yang sekarang ini hanya terbagi dalam dua kelas: satu fun dan aman, satu gelap dan aman. Ini fun, ini tidak gelap, dan ini juga tidak memilih untuk bermain aman, penuh “gairah” tampil berani menjadi kemasan superhero yang ia klaim berbeda dengan cita rasa meta. Not bad. Not smart. Not great.

Review: The Voices (2015)


"Hearing voices can be murder."

Film seperti ini selalu mampu meninggalkan impresi yang baik ketika ia telah berakhir, film yang awalnya membuat penonton mengira ia akan menampilkan cerita dalam satu genre tapi setelah itu justru secara berkala memberikan mereka kejutan-kejutan menarik dengan rasa yang dicampur aduk dan ditampilkan dalam transisi yang menyenangkan. The Voices punya hal itu, ia ibarat satu pack atau kemasan permen yang didalamnya berisikan berbagai rasa yang kemudian akan mengejutkan kamu, sebuah komedi yang “cermat” dan cerdik dalam beraksi sebagai sebuah komedi.

Movie Review: R.I.P.D. (2013)


Anda mungkin pernah membaca info bahwa lagu dari seorang penyanyi yang mirip dengan lagu penyanyi lain, bahkan mungkin ada dari mereka yang langsung menjuluki lagu tersebut sebagai plagiat. Ada toleransi, dan di musik itu mencapai 8 bar, namun dibalik hal tersebut yang justru paling penting adalah kemampuan lagu tersebut untuk menciptakan “warna” lain yang dapat menjadi identitasnya. Hal tersebut dialami oleh R.I.P.D., komedi supernatural, sebuah buddy cop yang berjalan dengan cara yang familiar, cukup menghibur namun membosankan, soulless.

Movie Review: Turbo (2013)

 

“No dream is too big, and no dreamer is too small.”

There can be miracles when you believe. DreamWorks kembali membuktikan makna dari nama yang mereka pakai, salah satu studio animasi yang mampu membawa para penontonnya untuk tidak pernah berhenti bermimpi. Kali ini mereka menggunakan para siput, hewan yang dikenal memiliki gerak yang sangat lambat, dan memasukkan mereka kedalam dunia balap mobil Indy 500. Sederhana, predictable, manis, dengan eksekusi yang tidak sebesar ambisi.

Movie Review: The Croods (2013)


The Croods dapat dikatakan menjadi kelinci percobaan dari Dreamworks Animation, sekaligus film yang membuka jalan untuk mewujudkan ambisi mereka. Daftar panjang film yang telah menanti untuk dirilis dalam tiga tahun kedepan memaksa studio ini untuk merubah pattern yang selalu menjadi favorit mereka (mungkin juga karena kerjasama baru dengan 20th Century Fox), merilis film pertama di tahun tersebut pada kisaran bulan mei hingga juli, dan merilis film berikutnya di paruh kedua. Antara menjadi seperti How to Train Your Dragon, atau Madagascar. Are you really need to see this?