Showing posts with label Spain. Show all posts
Showing posts with label Spain. Show all posts

Movie Review: Official Competition (2021)

“We're going to make a f**king great film.”

Tahukah kamu bahwa scene paling populer di ‘Basic Instinct’ ternyata direkam tanpa knowledge dari sang Aktris, Sharon Stone, yang merasa ditipu oleh Paul Verhoeven, hal yang kemudian dibantah oleh sang Sutradara. Aktor berkelahi dengan Sutradara, atau dengan sesama Aktor, atau Sutradara yang justru bersitegang dengan para crew memang bukan hal baru pada proses produksi sebuah film, karena film sendiri pada dasarnya merupakan sebuah kumpulan ide yang lantas berkombinasi setelah saling mencocokkan satu sama lain. Itu mengapa dibutuhkan tahap persiapan yang sangat matang baik dari sisi teknis hingga tentu saja para Aktor yang akan menjalani proses rehearsal terlebih dahulu. Apa jadinya jika proses development sebuah film sudah dilanda banyak masalah? ‘Official Competition (Competencia oficial)’: a clever look at the vanity in the film business.


Movie Review: Parallel Mothers (2021)

"I don't think she's my daughter."

Segala sesuatu yang parallel itu pasti tidak berpotongan di sembarang titik satu sama lain. Dua garis paralel misalnya, mereka sejajar dan lurus sebidang, begitupula dengan kurva paralel yang tidak saling bersentuhan dan memiliki jarak minimum yang tetap. Konsep tersebut digunakan menjadi basis di film terbarunya ini di mana ia masih bermain dengan beberapa isu favoritnya, yakni wanita, kali ini motherhood and female solidarity, namun bukan film Pedro Almodóvar namanya jika ia tampil "sopan", kembali sebuah melodrama tapi juga kembali berisikan empat subjects kesukaannya: desire, passion, family, and identity film ini menarikmu, mengikatmu, dan membuatmu berteman dengan ketegangan. ‘Parallel Mothers’: search for love with mommy issues.  


Movie Review: The Platform (El hoyo) (2019)


“Going down is suicide.”

Salah satu ketakutan terbesar dari umat manusia saat ini adalah bukan hanya sekedar “meledaknya” Perang Dunia Ketiga saja namun jauh lebih besar dari itu, kita seharusnya semakin takut bahwa akan tiba di satu titik ketika bumi dan Penciptanya sudah mulai tidak senang dengan perilaku umat manusia. Semua semakin keras, semua perlahan terasa semakin brutal, ajaran kasih yang diciptakan Sang Pencipta justru perlahan menjadi sulit untuk dipraktekkan oleh mayoritas umat manusia saat ini. Film ini menggambarkan hal itu dengan cara yang baik. The Platform (El hoyo) : a potent dystopian critics.

Review: Julieta [2016]


Nikmatilah hari demi hari kamu dengan sikap positif seolah kamu akan mati keesokan hari. Mungkin terdengar aneh dan mengerikan tapi jika diperhatikan secara lebih mendalam hal tersebut ada benarnya, itu membuat kita untuk tetap berada di jalur yang benar setiap harinya sehingga segala macam kesalahan yang bersifat merugikan tidak punya kesempatan untuk hadir dan melukai memori di kehidupanmu. Hal tersebut merupakan isi dari film ini, sebuah kisah kelam dari masa lalu “menghantui” yang di tangan auteur asal Spanyol, Pedro Almodóvar mencoba memadukan present dan past, ditampilkan dalam staging yang manis dengan sedikit rasa Hitchcock tentu saja berpadu dengan unique style andalannya, Almodóvariano. It’s an affecting melodrama.

Review: Shrew's Nest (Musarañas) (2014)


Bukan berarti keberadaan mereka tidak ada, tapi film kombinasi drama, horror, dan thriller seperti Shrew's Nest ini tergolong langka, mereka yang tidak sekedar membuat kamu terkejut dan takut dengan cara-cara khas atau klasik dari dua genre terakhir. Shrew's Nest (Musarañas) berhasil memberikan salah satu hal yang paling saya suka dari kombinasi drama, horror, dan thriller, ia membuat penonton mabuk bersama cerita dan karakter, kamu melangkah maju tapi merasa waspada terhadap sisi belakang, kamu juga dibuat waspada dengan sisi depan tapi tidak menghalangi niat untuk terus melangkah maju. Horror thriller dengan basis drama psikologis yang manis.

Review: Flowers (Loreak) (2014)


Suka dan duka itu punya hubungan simbioisis mutualisme, karena kehadiran mereka saling menguntungkan satu dengan yang lain. Seperti Rihanna yang mengatakan “we found love in a hopeless place”, kamu tetap dapat bertemu dengan sukacita ketika kamu melihat sebuah jalan yang menanti layaknya terowongan panjang yang gelap, ketika kamu berteriak dan tidak ada yang mendengar, situasi hopeless yang tidak mudah untuk di mengerti semua orang. Kondisi pedih itu yang dimiliki oleh Flowers (Loreak), mengajak penonton bukan cuma melihat, namun juga ikut merasakan.