Showing posts with label Tom Hardy. Show all posts
Showing posts with label Tom Hardy. Show all posts

Movie Review: Venom: Let There Be Carnage (2021)

“Emotional pain, it hits much harder, and it lasts longer.”

Karakter Venom pernah muncul di film ‘Spider-Man 3’ tahun 2007 namun sekedar tempelan belaka, memang diperuntukkan oleh Sutradara Sam Raimi hanya “to make some of the real die-hard fans of Spider-Man finally happy.” President Marvel kala itu, Avi Arad, meminta Sam Raimi untuk tidak hanya fokus pada his favorite villains characters, “to incorporate Venom, to listen to the fans. Venom is the fan favorite. All Spider-Man readers love Venom.” Pesona Venom memang serupa Deadpool tapi butuh 11 tahun bagi Venom untuk pada akhirnya membuktikan pernyataan Avi Arad tadi, tiga tahun lalu menjadi box office success meskipun dari segi cerita dan tone tidak terasa kuat, termasuk koneksinya dengan Spider-Man. Motion capture maestro Andy Serkis didampuk sebagai Sutradara dan kali ini Venom ikut menulis cerita. ‘Venom: Let There Be Carnage’ : a compact enrichment.


Review: The Revenant [2015]


"I ain't afraid to die anymore. I'd done it already."

Setelah mencuri atensi sebagai Arnie Grape, kemudian menjadi Romeo, menjadi Jack yang rela mati tenggelam demi Rose, menjadi pilot, menjadi smuggler, menjadi investigator, berpura-pura menjadi penjahat, berpetualang dalam mimpi, hingga menjadi stockbroker Wall Street, akhirnya, Leonardo DiCaprio, dengan meraung dan bergulat bersama beruang kini berada di posisi di mana banyak orang mengatakan merupakan titik terdekatnya dengan piala Oscars yang belum pernah ia genggam. The Revenant, punya visual cantik, punya kinerja penuh komitmen dari Leonardo DiCaprio, 12 nominasi Oscars, Alejandro González Iñárritu's best movie since Birdman.

Review: Legend (2015)


"Me and my brother, we're gonna rule London!"

Bukankah menggunakan kata legenda sebagai judul film sudah menunjukkan bahwa film tersebut memiliki rasa percaya diri yang tinggi? Ya, benar, tapi terdapat makna lain selain itu, bisa sebagai cover misalnya untuk menutupi kekurangan yang ia miliki. Legend punya tiga hal yang ingin ia sampaikan, ia berniat memberikan kamu kekerasan penuh ketegangan dan ancaman, ia ingin memberikan kamu kisah cinta dengan bumbu asmara, dan ia ingin menggambarkan moral serta martabat dengan menggunakan perubahan. Pertanyaan setelah itu hanya satu, apakah Legend berhasil menjadi legenda?

Review: Mad Max: Fury Road (2015)


"I live, I die. I LIVE AGAIN!"

Mad Max: Fury Road merupakan film action yang akan membuat kamu setelah bertepuk tangan kemudian akan terdiam sejenak ketika ia telah selesai, lalu kemudian berpikir hal gila apa yang baru saja selesai kamu saksikan. Merupakan edisi keempat dari Mad Max franchise ini adalah sebuah perayaan penuh totalitas dan percaya diri yang tinggi dari seorang George Miller, panas, dingin, lucu, menegangkan, Mad Max: Fury Road seperti mobil balap Formula One dalam sebuah balapan yang meniadakan pit stop namun dikemudikan oleh pembalap yang ahli dalam mengatur lari kendaraannya, Mad Max: Fury Road ibarat sebuah film action yang dilukis oleh Pablo Picasso. Keren!

Review: Child 44 (2015)


Mengubah novel menjadi sebuah film dengan durasi kisaran dua jam tentu saja bukan sebuah pekerjaan yang mudah, tapi disisi lain bukan pula pekerjaan yang susah. Ada yang menyebut mereka sebagai sesuatu yang tricky, ketika penulis dan sutradara tidak perlu lagi memikirkan bagaimana menciptakan bahan dan bentuk bagi cerita yang ingin mereka sampaikan, tapi disisi lain ia juga punya tugas agar bahan yang telah tersedia tadi dapat di bentuk atau dimasak menjadi sebuah hidangan yang pas, hidangan yang “tepat”. Child 44 bertemu dengan ambisi yang besar dalam hal tadi, yang sayangnya menghasilkan boomerang baginya.

Review: The Drop (2014)


“There are some sins that you commit that you can't come back from, no matter how hard you try.”

Mungkin poster yang ia tampilkan itu menjadi salah satu boomerang bagi The Drop, karena dengan keberadaan tangan yang sedang menggenggam pistol ekspektasi yang penonton ciptakan adalah ini akan menjadi film crime dan drama dalam oktan tinggi, penuh adegan action dan ledakan yang menegangkan. The Drop memang pada akhirnya justru tampil sebaliknya, namun apa yang ia berikan berhasil menjadikannya salah satu drama menegangkan bertemakan kejahatan terbaik di tahun ini. 

Movie Review: Locke (2013)


“You make one mistake, the whole world comes crushing down around you.”

No matter what the situation is, you can make it good. Bukankah kalimat tadi memberikan kesan yang sangat positif, seolah menjadi penggambaran lain dari bagaimana semua masalah yang tercipta sesungguhnya punya jalan keluar yang juga telah eksis dan menanti kita untuk menemukannya. Tapi tekanan terkadang yang menjadikan kalimat tersebut tidak semudah yang kita bayangkan, air berubah menjadi api, yang waras dapat menjadi gila. Penggabungan dua teori tersebut yang dihadirkan secara sederhana oleh film ini, Locke, bold and smart experimental character study about human vs trouble. The power of storytelling, Buried in a car. 

Movie Review: Lawless (2012)


Mungkin anda sudah biasa mendengar orang berkata, “jaman sekarang hukum bisa dibeli”. Ternyata hal itu sudah terjadi sangat lama, bahkan sejak awal abad 20 lalu. Lawless, film dengan setting tahun 1931 di Franklin County, Virginia, menjadi salah satu contoh bagaimana hukum dapat dibeli, ketika seorang pejabat pemerintah berniat mengambil untung dari sebuah usaha illegal yang dilakukan oleh tiga bersaudara.

Movie Review: The Dark Knight Rises (2012)


Batman (Christian Bale) memang telah pensiun dari tugasnya menjaga kedamaian kota Gotham, namun masih dianggap sebagai penyebab utama kematian jaksa Harvey Dent. Karena itu Bruce Wayne lebih memilih berdiam diri di kediamannya bersama pelayan setianya Alfred (Michael Caine). Namun itu semua berubah setelah kedatangan Bane (Tom Hardy), mantan rekan Ra's Al Ghul (Liam Neeson), bersama pasukannya melancarkan terror brutal ke kota Gotham yang telah aman sepeninggal Joker dan Two Face.