30 November 2012

Movie Review: Life of Pi (2012)


Anda akan menerima satu agama ketika anda lahir. Mayoritas penduduk dunia akan menerima agama yang diberikan kepadanya, dengan alasan yang paling terkenal karena itu adalah “warisan” dari orang tua. Namun, tidak sedikit pula yang tidak mau menerima “warisan” tersebut begitu saja, mencoba mencari tahu agama lain, dengan tujuan utama menemukan “jalan” yang ia rasa paling nyaman untuk berhubungan dengan Tuhan. Life of Pi, sebuah perjalanan menyenangkan yang berlandaskan persepsi dan kepercayaan.

Piscine Molitor Patel (Irrfan Khan), merupakan seorang imigran India vegetarian yang kini hidup di Kanada. Pi, begitu ia biasa dipanggil, kedatangan seorang tamu yang berprofesi sebagai penulis (Rafe Spall), atas rekomendasi dari sang paman yang percaya bahwa kisah hidup yang pernah dialami oleh Pi dapat diubah menjadi sebuah buku yang besar.

Pi mulai bercerita, dari namanya yang ternyata diambil dari nama sebuah kolam renang di Prancis, seringnya ia dipanggil Pissing oleh teman sekolahnya, orang tuanya yang mendirikan sebuah kebun binatang, hingga kegemarannya pada seekor Harimau Bengal bernama Richard Parker. Tapi, yang paling menarik adalah bagaimana Pi mencoba mengikuti tiga agama, Hindu yang merupakan agama keluarganya, Kristen, dan Islam.


Ya, Pi adalah seorang anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, namun itu pula yang menjadi sebuah kelebihan yang ia miliki. Pi dan keluarganya pergi menuju Kanada, karena permasalahan politik yang mengakibatkan kebun binatang keluarganya harus ditutup. Kapal yang mereka tumpangi bersama hewan-hewan peliharaan diterpa oleh badai yang sangat besar. Bukannya tidur, Pi malah memutuskan keluar untuk menyaksikan fenomena langka tersebut, yang pada akhirnya memisahkan ia dan keluarganya, terdampar dilaut lepas dalam sebuah perahu bersama seekor Zebra, Orangutan, Hyena, dan tentu saja Richard Parker.

Diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Yann Martel, Life of Pi merupakan salah satu film yang saya nantikan tahun ini dengan harapan dapat memuaskan seperti novelnya. Hasilnya, Ang Lee berhasil mengubah cerita tersebut menjadi sebuah tampilan visual yang menyenangkan di semua departemen yang ia miliki. Dari segi cerita, apa yang menjadi kekuatan dari novelnya masih terasa kental di film ini, sebuah pemikiran “modern” dari seorang anak berusia 12 tahun, yang mencoba mencari tahu kebenaran dari semua keyakinan yang ada.

Akan ada sebuah kenikmatan tersendiri bagi anda yang sebelumnya telah membaca novelnya, karena tampilan yang imajinatif sukses menggambarkan apa yang sebelumnya hanya anda baca. Namun, bagi anda yang belum membaca novelnya, anda akan mendapatkan sebuah sensasi yang tidak kalah menyenangkan, dimana anda dibawa ikut dalam sebuah petualangan yang anda tidak ketahui akan berakhir dimana. Memang akan ada beberapa momen dimana tensi cerita akan sedikit turun, dan mungkin bagi beberapa orang akan terasa menjengkelkan hingga akhirnya memutuskan walk out. Hanya itu yang harus anda antisipasi.


Benar, hanya itu, karena diluar elemen cerita anda akan mendapatkan sebuah tampilan visual yang sangat memukau. Ya, sangat indah, Life of Pi memiliki cinematography dan efek visual yang sangat indah. Tidak berlebihan memang, karena apa yang diambil oleh Claudio Miranda (The Curious Case of Benjamin Button) memang terasa manis, dan diolah dengan sangat tepat oleh Bill Westenhofer, Paul Graff, Guillaume Rocheron, dan semua tim di divisi visual effect. Tidak hanya satu, tapi banyak scene yang mampu membuat saya sedikit melebarkan mata sembari bergumam wow. Dibalut dengan score yang mumpuni, serta penggunaan 3D yang terasa lembut dan jelas tidak murahan, Ang Lee sukses menciptakan sebuah puisi bertemakan kehidupan selama 127 menit di layar ukuran besar, sebuah karya kelas dunia yang sangat menyenangkan dan menakjubkan.

Sangat wajar memang melabeli Life of Pi sebagai salah satu film terbaik tahun ini, karena dengan sebuah konflik unik diawal cerita, kemudian didominasi perjuangan untuk tetap hidup dari Pi Patel muda (Suraj Sharma) di lautan lepas bersama seekor harimau dengan sebuah perahu kecil sebagai rumahnya, film ini mampu terus tampil menarik disepanjang kesempatan yang ia punya. Banyak pesan “modern” yang mungkin akan terasa menjengkelkan bagi orang-orang yang fanatik, terdapat beberapa pelajaran tentang hidup yang diselipkan dengan baik, tampilan visual yang mampu membuat saya ikut berfantasi, hingga cara ia diakhiri yang meninggalkan sebuah ketidakpastian yang kental layaknya novel tempat ia lahir.

Salah satu factor lain yang mampu menambah nilai postif film ini adalah jajaran cast yang mampu tampil dengan baik, dan berhasil menyampaikan pesan yang ia emban. Irrfan Khan berhasil dalam cara ia menyampaikan cerita yang pernah ia alami, bagaimana kerasnya peristiwa itu dapat anda rasakan didalamnya, namun ia juga mampu tampil lucu dengan joke-joke ringan yang ia berikan. Adil Hussain, berperan sebagai ayah Pi, mungkin memperoleh bagian yang sedikit, namun entah mengapa mampu meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya lewat pelajaran hidup yang ia coba sampaikan. Dan, Suraj Sharma. Ini debut pertamanya, dan ia berhasil memberikan performa yang baik, berhasil menjadikan Pi sebagai sebagai seorang pria yang bebas, lucu, tapi juga sangat penyayang.


Overall, Life of Pi adalah film yang sangat memuaskan. Ya, Life of Pi adalah salah satu film terbaik tahun ini. Cerita yang sangat terkenal itu berhasil diubah oleh Ang Lee kedalam tampilan visual yang fantastis. Film yang sangat memikat, pondasi kuat karya Yann Martel diolah dengan baik oleh David Magee sehingga terasa renyah, dan dibawah komando Ang Lee semua departemen berhasil menyatu dan menghasilkan sebuah karya yang menakjubkan serta menyenangkan. Sebuah perjalanan serta perjuangan bertahan hidup dari seorang anak muda bernama Pi, mampu menyampaikan pesan tentang kehidupan dan Tuhan yang berhasil membuat tersenyum, terus memandang layar bersama rasa kagum.

Score: 9/10







0 komentar :

Post a Comment