28 February 2014

Movie Review: Nebraska (2013)


Sebenarnya orang tua tidak pernah mengharapkan anak-anak mereka untuk membalas semua kasih sayang yang mereka berikan ketika anaknya masih dalam proses bertumbuh dan belum bisa hidup mandiri, namun ada sebuah sistem yang tidak dapat dihindari, sebuah pertukaran peran dimana ketika orang tua telah memasuki usia senja maka selanjutnya kehidupan mereka akan menjadi tanggung jawab anak-anaknya. Ini tahapan krusial, masa dimana anda dapat melihat cinta yang sesungguhnya dalam keluarga, dari rasa frustasi hingga sikap sabar. Nebraska, in one word: bittersweet.    

Seorang pria dengan rambut putih hampir botak berusia seventy-something melintasi jalan bebas hambatan, dan kemudian di berhentikan oleh seorang polisi, dan berakhir dengan dijemput oleh anaknya di kantor polisi. Woody Grant (Bruce Dern) nama pria itu, lelaki keras kepala yang berupaya untuk menempuh ratusan miles dari rumahnya di Billings, Montana, menuju Lincoln, Nebraska, untuk mendapatkan hadiah undian bernilai satu juta dollar dari surat yang ia terima. Tekad lelaki yang tidak ingin hadiahnya di transfer karena merasa tidak aman ini sudah sangat kuat, bahkan telah menyebabkan istrinya, Kate Grant (June Squibb) merasa super jengkel. 

Lantas apa yang menjadi masalah? Masalahnya adalah surat miliknya tersebut berpeluang menjadi salah satu bagian dari aksi scam yang dilakukan oleh pihak majalah untuk meningkatkan penjualan. Dua anaknya, David (Will Forte) dan Ross (Bob Odenkirk) bahkan telah berupaya untuk meyakinkan fakta sebenarnya bahwa Woody tidak memenangkan apapun. Namun Woody tetap dengan kekuatan fantasinya, memaksa David untuk mengambil cuti bekerja dan melakukan satu-satunya solusi, membawa Woody ke Nebraska untuk membuktikan secara langsung. Uniknya, perjalanan mereka ternyata tidak sederhana.


Nebraska ibarat sebuah kue pai dengan tampilan kurang menarik namun ternyata memiliki rasa yang mampu membuat lidah anda berdansa ria. Bukan berarti tampilan black and white yang ia gunakan serta merta tidak memberikan sedikitpun nilai positif pada nilai keseluruhan, keputusan tersebut bahkan menjadikan masalah kelam yang dibawa karakter dapat dengan mudah tersampaikan kepada penonton, namun nada pesimis pada film hitam putih merupakan salah satu hal yang sulit ditampik kehadirannya. Itu yang saya rasakan, bahkan di bagian awal ada sedikit ragu pada konflik yang diusung, terlebih bagi mereka yang telah paham dan familiar dengan style Alexander Payne seperti pada About Schmidt, Sideways, dan The Descendants.

Benar, familiar, bahkan tidak perlu waktu lama sejak ia dimulai akan sangat mudah untuk memberikan label daur ulang kepada Nebraska. Ya, Alexander Payne kembali menghampiri penontonnya masih dengan formula yang menjadi kegemarannya, sebuah konflik yang super sederhana, bermain-main diantara drama dan komedi yang seperti tidak punya batasan yang jelas, kemudian di isi dengan berbagai materi canggung, pergerakan minim pada narasi yang akan menjadikan beberapa menilainya sebagai sesuatu yang bertele-tele, namun ditemani dengan humor-humor yang ketika muncul selalu mampu memberikan sengatan menyenangkan ia sanggup mengubah hal-hal tadi menjadi proses mengamati yang penuh dengan pesona.

Ya, pesona, sebuah hal krusial dari sebuah studi karakter. Tidak hanya satu, namun dalam luas yang sama besar kali ini kita akan dihadapkan pada dua objek yang diberikan pada kita untuk diamati, kembali dengan kombinasi tua dan muda, masih bertumpu sepenuhnya pada dialog, dan lalu dengan cara yang tenang serta cenderung sedikit datar secara perlahan melemparkan point-point kecil untuk mengungkapkan pesan terkait cinta dan keluarga yang punya power besar. Ini yang selalu menjadikan film Alexander Payne tampak menarik, sekalipun kali ini ia mempercayakan script kepada Bob Nelson, Payne kembali mampu menggambarkan sebuah kompleksitas dengan menggunakan sesuatu yang ringan dan sederhana.


Awalnya ini akan tampak tidak begitu penting, hanya seorang tua keras kepala yang terus bersikukuh untuk meraih apa yang ia inginkan, tapi dari sana dengan cara yang cermat serta struktur yang rapi kemudian terurai berbagai hal menarik lain yang mayoritas hadir dengan nada satir dalam warna depresif yang cenderung sedikit sentimental. Mereka yang terus menarik atensi penontonnya dan kemudian bercampur dengan rasa simpati, kita seperti dibawa masuk kedalam lapisan demi lapisan dimana pada setiap level selalu dipertemukan dengan isu-isu yang menarik, dari ego, frustasi, marah, rasa putus asa, hingga rasa cemburu dan sikap serakah yang disuntikkan lewat karakter pendukung.

Namun bukankah hal-hal tadi merupakan sesuatu yang sudah begitu umum? Nah, disini kelebihan dari Nebraska, kita seperti menyaksikan eksplorasi terhadap polemik dari manusia yang digambarkan oleh para manusia, bukan karakter fiktif. Ada nyawa yang elegan dari kekayaan karakter yang dimiliki Alexander Payne, yang dengan cara cerdas terus menekankan fokus pada karakter dan dialog, sehingga kisah yang sebenarnya ingin menggambarkan evolusi pertukaran peran dalam keluarga dimana manusia yang akan kembali bertingkah seperti anak kecil ketika sudah lanjut usia itu tidak pernah kehilangan cengkeraman walaupun terus tampil tenang, terlebih dengan dinamika cerita yang mumpuni, suka dan duka sama-sama menarik.

Semua kelebihan tadi berhasil hadir juga berkat kinerja divisi akting yang memikat. Bruce Dern ditempatkan di posisi terdepan cerita, dari segi dialog mungkin terasa minim, namun ia sukses menggambarkan situasi yang dihadapi Woody lewat ekspresi yang bukan hanya membuat kita mengerti apa yang ia hadapi namun juga menjadikan ia selalu tampil mencolok, walaupun sebenarnya Will Forte punya peran yang lebih besar. Ya, Dern sebagai pusat, dan Forte yang mewarnai sekelilingnya, terus berteman dengan dilemma pada tema keluarga yang sangat mudah untuk dimengerti. Chemistry keduanya juga sangat kuat. Selain itu ada June Squibb yang tidak pernah gagal mencuri atensi setiap kali ia muncul dengan wajah masam dan sikap cerewetnya.


Overall, Nebraska adalah film yang memuaskan. Nebraska berhasil mengemas kembali berbagai isu familiar dengan tema keluarga menjadi kumpulan materi observasi yang menarik, punya tampilan yang sederhana namun selalu tampil tajam dibalik pesona lembut dan kecerdasan yang tidak pernah absen ia berikan. Terkadang ia terasa konyol, terkadang ia lucu, terkadang ia mampu menyentuh emosi, dalam warna monokrom mereka berkombinasi untuk menjadi sebuah karya yang menciptakan standard baru bagi seorang Alexander Payne. Bittersweet.



0 komentar :

Post a Comment