13 July 2014

Review: Tammy (2014)


"She hit the road. The road hit back."

Melissa McCarthy ternyata masih belum bosan berperan sebagai wanita menjengkelkan, setelah mencuri identitas Jason Bateman di Identity Thief, kemudian menjadi rekan yang menyusahkan Sandra Bullock di The Heat, kali kini Melissa kembali membuat kekacauan yang sayangnya justru menciptakan jalur rollercoaster baru pada filmography wanita yang pernah bertarung di ajang Oscar ini. 

Baju biru bertuliskan “Mahalo” miliknya seperti sebuah tameng bagi Tammy (Melissa McCarthy) atas berbagai masalah yang menghampirinya. Wanita ini kehilangan pekerjaannya setelah dipecat Keith (Ben Falcone), dan karena suaminya yang selingkuh ia tidak lagi memiliki sumber keuangan. Celakanya ia bertemu dengan sang nenek, Pearl (Susan Sarandon), yang berencana kabur dari permintaan anak perempuannya, Deb (Allison Janney). Mereka berdua mulai terjebak dalam perjalanan bersama yang ternyata juga tidak jauh dari masalah dan kesulitan. 

Masalah, perjalanan, masalah, perjalanan, Tammy adalah versi lain dari Identity Thief. Sulit dipungkiri, dari kualitas mereka sama, dari cara Ben Falcone memperlakukan karakter utama juga tidak jauh dari formula yang memang sudah lekat dengan seorang Melissa McCarthy. Tetap agresif memang tapi sayangnya kali ini semua terasa sedikit berlebihan kadarnya, step by step proyek pribadi pasangan suami istri ini mulai terasa campur aduk tanpa disertai arah yang menarik, mencoba menggabungkan berbagai hal tapi tidak berhasil membuat alur yang menarik untuk mengakomodasi ide-ide yang mereka punya. 

Ini berwarna, bahkan ada sedikit bagian karakter studi didalamnya, mencoba lucu dengan aksi shameless yang sudah identik, terkadang ia bermain sedikit melankolis dengan rasa satir, dan pelengkapnya beberapa bagian yang seperti ingin menyampaikan komentar sosial serta menjadi sedikit melodrama. Yang menjadi penghalang adalah perjalanan berputar-putar itu tidak menawarkan sesuatu yang menarik, sesuatu yang bisa menjadikan ia sedikit berbeda dengan film-film lain yang sudah lebih dahulu menggunakan formula yang sama itu. Semakin jauh ia berjalan semakin dalam pula Tammy terjebak kedalam perangkap film komedi.

Titik terlemah Tammy adalah tidak mampunya Ben Falcone menyeimbangkan apa yang ia punya. Pemalas, bisa dikatakan seperti itu, seperti sebuah perjudian untuk murni mengandalkan Melissa McCarthy sebagai jualan utama, berhasil atau tidaknya ya tergantung gimana kinerja Melissa McCarthy itu sendiri. Film komedi seperti ini yang sering banget mengecewakan, alur episodik dengan kesibukan yang disengaja, dan ketika komedi penuh aksi konyol yang “lembek” dan drama kaku itu mulai terasa biasa, menjemukan, apalagi Tammy sering memilih untuk berjalan dengan kecepatan yang varitif, terkadang cepat, terkadang lambat. 

Tentu saja Tammy punya hal yang kita sebut potensi, apalagi ada Melissa McCarthy dan Susan Sarandon yang tampak menyenangkan untuk ditonton, tapi dengan status yang tidak segar narasi yang longgar tanpa disertai dengan alur yang kuat, chemistry dan alur yang kaku, serta kreatifitas yang dangkal, Tammy tidak berhasil menjadi sebuah kekacauan yang menyenangkan, hanya sebuah kekacauan yang kacau. 







0 komentar :

Post a Comment