Showing posts with label Allison Janney. Show all posts
Showing posts with label Allison Janney. Show all posts

Movie Review: Bad Education (2019)


“These kinds of inquiries are like setting off a grenade.”

Sulit memang mengharapkan transparansi di dalam setiap aspek kehidupan, karena tidak semua orang pintar dalam mengelola keinginan mereka masing-masing. Dari luar mungkin niat yang dilakukan baik namun siapa yang tahu pada rencana yang tersusun dan tersimpan rapi di dalamnya? Di tahun 2004 seorang siswa Sekolah Menengah Atas secara tidak sengaja menemukan sesuatu yang janggal di dalam sistem manajemen sekolahnya, hal yang kemudian menciptakan sebuah sensasi besar dan menguak kasus yang mereka sebut “the largest school theft in American history.” ‘Bad Education’ : a wickedly funny and fun dark story.

Review: The Girl on the Train [2016]


"I saw her, I saw her from the train."

Film yang mengambil dasar cerita dari sebuah novel terkenal memiliki tugas yang tidak mudah apalagi jika novel tersebut menyandang status best selling, apakah dia memilih setia dengan sumbernya atau menghadirkan sedikit modifikasi sebagai penyesuaian ketika cerita diterjemahkan ke dalam bentuk film, dua opsi tersebut memiliki potensi bersinar atau jatuh tenggelam yang sama besar. Menyandang status sebagai worldwide best-seller novel ‘The Girl on the Train’ mendapat predikat sebagai “the next Gone Girl” berkat cerita berisikan sex and violence dengan permainan atmosfir dan paranoia yang begitu tebal. Apakah mystery and psychological thriller ini bersinar atau tenggelam? It’s a "pulpy" melodrama.

Movie Review: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children (2016)


"These children must be as crazy as their headmaster."

Sebelum dipoles oleh Christopher Nolan dan kemudian dibawa bertemu berbagai “kebisingan” oleh Zack Snyder karakter Batman dan dunia yang ia punya di layar lebar pernah identik dengan gloomy but artsy, a wicked world of misfits and psycho yang bergembira layaknya sebuah fashion show, style over substance di tangan Tim Burton yang gemar bergembira bersama horror, playfulness, dan tentu saja visual. Mengacu pada tiga hal terakhir tadi dapat dikatakan kombinasi novel ‘Miss Peregrine's Home for Peculiar Children’ dan Tim Burton merupakan match made in heaven, sebuah fantasy berisikan tragedi dan simpati dipenuhi karakter unik dan aneh seperti kombinasi antara Harry Potter dan X-Men. Apakah ini “match” atau“miss”? Miss Peregrine's Home for Peculiar Children: a robotic fantasy.

Review: Minions [2015]


"Banana! Banana!"

Sesuatu yang salah tentu saja mengharapkan rasa spaghetti di saat kamu sedang menyantap mie yang baru saja kamu rebus satu menit yang lalu tanpa tambahan bahan lainnya. Seperti itu pula yang diharapkan oleh Minions kepada penontonnya, berharap semoga mereka mengerti apa yang akan mereka dapatkan dari tiga (dan ratusan) pisang dipenuhi interaksi dengan kesan omong kosong ini, karena kamu tidak akan memperoleh nada gelap dari Gru serta materi hangat dari tiga gadis muda dan lucu itu.

Review: The DUFF (2015)


"Every DUFF has their day."

Kamu pasti tahu dengan kalimat-kalimat berikut ini, dari “jika ingin terlihat atau menjadi pintar maka bertemanlah dengan orang-orang pintar” atau “jika ingin menjadi terkenal maka bertemanlah dengan orang-orang yang terkenal”. Tapi ada satu kata yang terhitung cukup sulit untuk dirangkai menggunakan pola tadi, yaitu cantik. Yang terjadi dengan kata cantik justru sebaliknya, “jika ingin terlihat cantik maka bertemanlah dengan orang-orang yang tidak cantik”, dan The Duff berhasil mengolah konsep tersebut menjadi sebuah komedi dangkal yang manis, dari The Breakfast Club, kemudian Mean Girls, hingga Easy A.

Review: The Rewrite (2014)


Film terbaru dari penulis Miss Congeniality ini adalah sebuah hiburan yang licik, ia seperti tahu apa saja materi yang dapat ia manfaatkan untuk menarik perhatian penonton, kemudian mempertahankan atensi mereka, semua untuk melindungi berbagai kelemahan yang ia miliki. Hasilnya tidak begitu buruk, ia standard bahkan terasa sangat lunak, tapi at least The Rewrite mampu memberikan sebuah rom-com klise dan klasik yang cukup menghibur di beberapa bagian kecil.

Review: Tammy (2014)


"She hit the road. The road hit back."

Melissa McCarthy ternyata masih belum bosan berperan sebagai wanita menjengkelkan, setelah mencuri identitas Jason Bateman di Identity Thief, kemudian menjadi rekan yang menyusahkan Sandra Bullock di The Heat, kali kini Melissa kembali membuat kekacauan yang sayangnya justru menciptakan jalur rollercoaster baru pada filmography wanita yang pernah bertarung di ajang Oscar ini. 

Movie Review: Mr. Peabody & Sherman (2014)


"Children are not machines, Peabody! I tried to build one, it was creepy."

Agar dapat menjadi sebuah kenangan tak terlupakan sesungguhnya sebuah film animasi punya tugas yang jauh lebih mudah, cukup tampil kokoh di level tinggi pada elemen utama, cerita dan visual. Sayangnya tidak semua mampu memenuhi syarat sederhana itu, banyak diantara mereka justru tampil sebatas menjadi visual entertainment tanpa disertai sebuah penceritaan yang memiliki isi mumpuni. Film ini berhasil tampil baik di dua elemen tadi, Mr. Peabody & Sherman, a fun random parade with ancient things.  

Movie Review: The Way Way Back (2013)


“You’ve got to go your own way.”

Tentu ada alasan dibalik banyak pernyataan yang mengatakan bahwa setiap manusia pada level usia berapapun itu punya arti bagi orang lain disekitarnya. Orang dewasa menjadi patokan para remaja untuk bertumbuh, sedangkan remaja menjadi objek yang menjadi alarm bagi kaum dewasa untuk mempertahankan kualitas kedewasaan mereka. Ya, itu siklus yang berlandaskan pemahaman untuk terus membawa setiap manusia bertumbuh. Secara sederhana dan efektif itu coba digambarkan oleh The Way Way Back, coming-of-age dengan kombinasi putih dan hitam yang memikat, bersinar sejak awal hingga akhir.

Movie Review: Liberal Arts (2012)


Seni Liberal, adalah sebuah seni yang lebih bersifat umum dan luas. Seni liberal akan mengajak anda memiliki pola pikir yang lebih umum, mengandalkan logika dan kemampuan intelektual anda, dan menjadi individu bebas yang tidak suka dengan hal teknis yang rumit dan mengikat. Liberal Arts, proyek kedua dari Josh Radnor yang mampu tampil bijak dan kritis, akan mengajak anda memahami bagaimana seharusnya anda menjalani hidup.