Showing posts with label Ansel Elgort. Show all posts
Showing posts with label Ansel Elgort. Show all posts

Movie Review: West Side Story (2021)

♪ All the world is only you and me! ♪

Terinspirasi dari kisah Romeo and Juliet, di tahun 1961 film ‘West Side Story’ berhasil memperoleh 11 nominasi Academy Awards dan total 10 buah piala berhasil dibawa pulang, menempatkan adaptasi dari salah satu musical legendaris yang kemudian regarded as one of the greatest musical films of all time itu cuma kalah satu buah piala saja dari film ‘Ben-Hur’ yang kini bersanding dengan film ‘Titanic’ dan ‘The Lord of the Rings: The Return of the King’ for the most Oscars won by a single film in the competitive classes! Pertanyaannya: untuk apa dibuat ulang? Steven Spielberg mencoba dan jangan pernah remehkan ketika dia duduk sebagai Pilot karena hanya ada dua opsi: great or good. Even his "mediocre" films are still good. Boy, boy, crazy boy. ‘West Side Story’ : a dazzling classic rejuvenation. 


Review: The Divergent Series: Allegiant [2016]



"Everyone we know will die."

Ketika muncul dua tahun lalu film Divergent mengusung misi untuk memanfaatkan “panas” dari adaptasi novel young adult ke layar lebar, namun alih-alih berdiri tegak dan bersanding bersama The Hunger Games kala itu yang dialami oleh Divergent justru menyedihkan. Dengan keunikan cerita yang ia miliki Divergent menjadi start yang terlalu lembut, Insurgent meneruskannya dengan eksekusi yang canggung miskin urgensi dan energi, dan film pertama dari dua babak adaptasi buku terakhir, The Divergent Series: Allegiant, seperti sebuah bendera putih tanda menyerah. Seperti sebuah ucapan Four kepada Tris, “We need to leave, RIGHT NOW!” 

Review: Paper Towns (2015)


"She loved mysteries so much, that she became one."

Sepertinya rintangan datang lebih awal pada usaha dari John Green untuk meraih kesuksesan back-to-back dari novel yang ia miliki karena setelah The Fault in Our Stars yang tidak hanya sukses secara financial namun juga secara kualitas, ternyata novel kedua milik John Green yang hadir ke layar lebar, Paper Towns, secara kualitas terhitung kurang berhasil mengulang kesuksesan TFIOS. Sometimes it’s fun enough, sometimes it’s bland, but Paper Towns surely will give you one thing, saying goodbye and turn on waiting mode for Looking for Alaska.

Review: Insurgent (2015)



"Once a stiff, always a stiff."

Ketika saya hendak menonton film ini saya bertanya pada teman yang sudah terlebih dahulu menyaksikan Insurgent dan juga sebelumnya juga telah membaca novel karya Veronica Roth itu. Jawaban darinya adalah: “apakah layak berharap banyak dari Insurgent?”  Sebuah jawaban yang sederhana memang namun bukan hanya 50 atau 70 persen namun saya setuju sepenuhnya dengan pernyataannya teman saya tadi. Insurgent, baik itu dari sisi novel maupun film, merupakan korban dari masalah yang bukan hanya sekarang namun mungkin akan kita saksikan beberapa tahun kedepan, sebuah trilogi dengan bagian kedua yang hanya menjadi sebuah jembatan penghubung dengan daya tarik yang lemah.

Movie Review: The Divergent Series: Insurgent (2015)


“Mankind wait for you, with hope, beyond the wall.”

Tahun lalu saya menyebut Divergent sebagai film tentang pemberontakan yang terlalu lembut, kurang bergairah, monoton, dan sedikit membosankan. Tidak hanya itu ia juga tidak memiliki petualangan dalam gerak cekatan sehingga tampak seperti membangun drama dengan bumbu adegan sci-fi dan action, ketimbang menjadi kodratnya sebagai sebuah film sci-fi action dengan dukungan drama. Well, hal tersebut yang kemudian meninggalkan saya speechless ketika melangkah keluar sesaat setelah kejutan dari Naomi Watts yang berdiri dibelakang Kate Winslet. The Divergent Series: Insurgent: when kids from Nickelodeon start a rebellion.

Review: Men, Women & Children (2014)


"Everyone's searching for a better connection."

Film ini bisa dikatakan menjadi salah satu film yang paling diantisipasi di tahun ini, dengan alasan utama tentu saja Jason Reitman. Oke, selain kegagalannya di Labor Day yang membosankan itu apa dihasilkan oleh Jason Reitman sebagai sutradara selalu terasa menarik, dari Thank You for Smoking, Juno, Up in the Air, hingga Young Adult. Ada satu kesamaan diantara mereka, teknik bercerita yang dingin. Hal itu kembali hadir di film terbarunya ini, Men, Women & Children, tapi sayangnya sedikit terlalu dingin.

Review: The Fault in Our Stars (2014)


"I'm in love with you, and I'm not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things."

Ada sebuah rasa takjub ketika saya menutup lembaran terakhir novel karya John Green kala itu, bagaimana ketika sebuah hal sempit dan sederhana yang dimanipulasi sedemikian rupa membawa pembacanya hanyut kedalam sebuah kisah cinta serta perjuangan penyakit kronis yang mampu bermain-main dengan manis bersama realitas antara kehidupan serta kematian. Film ini berhasil mentransfer kenikmatan tadi ke dunia nyata, The Fault in Our Stars, a sweet and sour story about some infinities are bigger than other infinities. Pain demands to be felt. Always.

Movie Review: The Fault in Our Stars (2014)


"Some infinites are bigger than other infinites."

I’m in love with you, and I’m not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things. I’m in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we’re all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we’ll ever have, and I am in love with you. Okay? Okay. Bring your tissues!  

Movie Review: Divergent (2014)


"The future belongs to those who know where they belong."

Tidak dapat dipungkiri bahwa Divergent merupakan sebuah kombinasi dari apa yang pernah eksis di dunia young adult, ada nafas Harry Potter, kemudian The Hunger Games, dan kisah romansa dengan nada Twilight. Namun rasa ragu yang muncul ketika pertama kali membacanya perlahan sirna karena meskipun tidak megah Veronica Roth piawai dalam menciptakan sebuah petualangan menyenangkan berisikan kompleksitas yang menegangkan. But poorly, a movie officially makes Divergent looks like The Hunger Games clone which built up with Twilight system. I’m Divergent btw, a soul with more than one faction, and now I’ll use my Chandor and Dauntless side to telling you this one: a bit boring, and absolute bland.  

Movie Review: Carrie (2013)


"Don't play with a young girl heart."

Di awal kemunculan berita bahwa akan diproduksi sebuah remake bagi Carrie muncul sebuah pertanyaan tunggal, “apa yang ingin mereka capai?” Bahkan Stephen King, penulis novelnya, berujar hal yang sama, dan banyak penikmat film yang juga pasti akan sepakat bahwa Carrie edisi pertama karya Brian De Palma yang rilis tahun 1976 itu sudah berada di level kualitas dan kepuasan yang cukup tinggi. Carrie, punya fokus yang berbeda, hadir bukan untuk menakut-nakuti penontonnya.