Showing posts with label Colin Farrell. Show all posts
Showing posts with label Colin Farrell. Show all posts

Movie Review: Thirteen Lives (2022)

“Fear is created in our minds.”

Sebuah tim sepakbola beranggotakan 12 orang anak laki-laki berusia 11 hingga 16 tahun bersama dengan asisten pelatih mereka yang berusia 25 tahun memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah gua bernama Tham Luang Nang Non usai sesi latihan mereka. Niatnya untuk bersenang-senang namun celakanya hujan dengan intensitas tinggi membanjiri gua dan menghalangi jalan keluar. Dilaporkan hilang beberapa jam kemudian operasi pencarian dimulai, upaya penyelamatan yang di tahun 2018 lalu itu menjadi sorotan banyak pasang mata selama kurang lebih 18 hari, baik itu dari berita hingga tentu bantuan teknis. Third projects about the rescue operation and after that moving documentary "The Rescue", film ini mencoba menyuntikkan drama tambahan ke dalam peristiwa heroic itu. ‘Thirteen Lives’: a war with water."


Movie Review: The Batman (2022)

“Fear is a tool.”

Apakah kita butuh Batman baru? Sekitar sepuluh tahun yang lalu Christian Bale menyudahi penampilannya menggunakan kostum Batman di film 'The Dark Knight Rises', namun karakter tersebut tidak mati. Ben Affleck kemudian masuk mengisi posisi kosong itu sebagai The Dark Knight, bermula di 'Batman v Superman: Dawn of Justice' dan lantas berlanjut ke 'Justice League'. Dan itu belum menghitung di era sebelum 2000s ketika karakter Gotham Knight itu pernah diperankan oleh enam orang aktor berbeda. So, kini dengan munculnya Robert Pattinson otomatis daftar pemeran The World's Greatest Detective itu bertambah semakin panjang. Apakah terlalu banyak? Not at all! ‘The Batman’: dare, defy, deliver.


Movie Review: The Gentlemen (2020)


‘There’s only one rule in this jungle!’

Di awal debutnya lewat film ‘Lock, Stock and Two Smoking Barrels’ sutradara Guy Ritchie mencuri perhatian dengan “style” yang ia tampilkan, menaruh crime sebagai genre utama lalu membekali karakter-karakter menarik dengan dialog cepat dan black humor. Sejak 2009 yang lalu ia sedikit “bergeser” dengan menyutradarai film-film seperti Sherlock Holmes, The Man from U.N.C.L.E., hingga yang terbaru Aladdin. Kini Guy Ritchie kembali, menghadirkan crime comedy yang mengingatkan penonton pada film-filmnya dahulu. ‘The Gentlemen’ : when Guy Ritchie did Guy Ritchie.

Movie Review: Fantastic Beasts and Where to Find Them [2016]


"I want to be a wizard."

Setelah kesuksesan yang luar biasa dari Harry Potter film franchise tidak heran jika J. K. Rowling ingin kembali “mencoba” mengulangi hal tersebut. Tapi yang mengejutkan adalah ketimbang melanjutkan kisah Harry Potter dia justru mencoba untuk membawa ‘Fantastic Beasts and Where to Find Them’ ke layar lebar, buku tipis yang sebenarnya merupakan supplement to the Harry Potter series. There was still money to grab dan dengan J. K. Rowling sebagai screenwriter tentu terlalu berlebihan untuk pesimis pada ‘Fantastic Beasts and Where to Find Them’, pertanyaannya adalah seberapa jauh “detours” ini sukses mengekspansi Wizarding World itu? It’s ‘Before Harry Potter’.

Review: The Lobster (2015)


"How much do you love her, on a scale of 1 to 15?"

Tentu saja kamu akan menemukan berbagai jawaban yang beragam ketika menanyakan apa arti dari cinta pada setiap orang yang kamu temui. Hal tersebut lahir dari konsep terhadap cinta yang tidak sama pada setiap manusia, ada mereka yang percaya menikah itu karena sudah saling mencintai, ada mereka yang percaya saling mencintai itu karena sudah menikah, dan lain sebagainya. Konsep tentang cinta itu yang coba digambarkan oleh The Lobster dengan menggunakan sebuah visi yang aneh bahkan mungkin gila: bagaimana jika suatu saat nanti orang dewasa diwajibkan tidak melajang, harus menemukan pasangan mereka dalam kurun waktu 45 hari, bagi mereka yang gagal dan masih melajang akan berubah menjadi binatang. Sounds crazy? Yeah, it’s a crazy play about life and love.

Movie Review: Winter's Tale (2014)


Apa hal yang paling membuat anda merasa jengkel ketika menyaksikan film bertemakan cinta? Hal-hal klise yang ia hadirkan? Tidak masalah jika itu dikemas dengan baik dan sanggup menebar daya tarik. Bagaimana dengan permainan emosi? Bayangkan sebuah kisah cinta yang punya cerita tidak berkembang, sebuah romansa tanpa tenaga sehingga apa yang ia hadirkan terus saja berteman dengan kata datar dan hambar. Itu yang dimiliki oleh film ini, Winter's Tale, this is not a true love, this is an impotent love story.   

Movie Review: Saving Mr. Banks (2013)


"You don't know what she means to me." 

Tidak dapat dipungkiri pasti ada memori kelam dari masa lalu yang masih sangat sulit untuk anda lupakan, kebanyakan dari mereka berasal dari benda-benda kenangan yang masih menyimpan makna dari peristiwa tersebut. Bagaimana cara keluar dari problema tersebut? Saving Mr. Banks coba menggambarkan situasi tersebut, kisah yang bercerita dengan sangat tenang, namun punya salah satu performa paling kuat di tahun ini.     

Movie Review: Epic (2013)


Film ini seperti tidak perlu sebuah upaya yang begitu besar untuk meyakinkan para calon penontonnya. Trailer yang dibentuk cukup menjanjikan, jajaran pengisi suara yang dengan mudah akan mencuri perhatian dari Pitbull hingga Steven Tyler, hingga judul yang ia usung, seperti menunjukkan sebuah rasa percaya diri yang begitu tinggi pada kualitas paket yang ia miliki. Namun Epic bukan karya DreamWorks, apalagi Pixar. Blue Sky Studios, mereka (hanya) punya Rio yang menarik, selain itu hanya ada Ice Age series yang kita tahu bersama kualitasnya.

Movie Review: Dead Man Down (2013)


Puluhan, bahkan mungkin ratusan kebaikan skala kecil yang anda ciptakan akan dengan mudah terlupakan ketika anda melakukan sebuah kesalahan dalam skala besar yang celakanya juga akan sangat memorable. Itu yang akan anda dapatkan dari Dead Man Down, karya berbahasa inggris pertama dari Niels Arden Oplev, sutradara The Girl With Dragon Tattoo (Män som hatar kvinnor), sebuah thriller dengan cita rasa eropa.

Movie Review: Seven Psychopaths (2012)


Psikopat, unik dan berbahaya, karena dibalik tampilan normal yang mereka miliki psikopat merupakan sebuah threat terselubung yang dapat mengancam nyawa anda. Mereka bisa tampil lucu dan lembut, tapi mereka dapat berubah menjadi makhluk buas yang manipulatif, melakukan tindakan kriminal tanpa rasa empati dan toleransi. Seven Psychopaths, film komedi Inggris yang akan membawa anda bermain-main bersama para psikopat. Ya, para, karena dia punya tujuh orang psikopat.

Movie Review: Total Recall (2012)



Sebuah cerita yang telah tertidur selama 22 tahun coba diangkat kembali oleh Len Wiseman (Underworld). Bersetting diawal abad 22, dimana populasi bumi telah berkurang drastis akibat perang dunia, menyisakan dua bagian besar yang terhubung melalui sebuah jalur yang melintasi inti bumi. United Federation of Britain (UFB), berada dibagian barat bumi, tepatnya Inggris, dan dipimpin oleh Cohaagen (Bryan Cranston). Sedangkan di timur berdiri sebuah aliansi pemberontak yang menamai diri mereka The Colony, berlokasi di Australia, dibawah pimpinan Matthias (Bill Nighy), dan berniat menyerang UFB. Disinilah peran dari Douglas Quaid (Colin Farrell), seorang pekerja di pabrik robot milik UFB.