Showing posts with label Eva Green. Show all posts
Showing posts with label Eva Green. Show all posts

Movie Review: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children (2016)


"These children must be as crazy as their headmaster."

Sebelum dipoles oleh Christopher Nolan dan kemudian dibawa bertemu berbagai “kebisingan” oleh Zack Snyder karakter Batman dan dunia yang ia punya di layar lebar pernah identik dengan gloomy but artsy, a wicked world of misfits and psycho yang bergembira layaknya sebuah fashion show, style over substance di tangan Tim Burton yang gemar bergembira bersama horror, playfulness, dan tentu saja visual. Mengacu pada tiga hal terakhir tadi dapat dikatakan kombinasi novel ‘Miss Peregrine's Home for Peculiar Children’ dan Tim Burton merupakan match made in heaven, sebuah fantasy berisikan tragedi dan simpati dipenuhi karakter unik dan aneh seperti kombinasi antara Harry Potter dan X-Men. Apakah ini “match” atau“miss”? Miss Peregrine's Home for Peculiar Children: a robotic fantasy.

Movie Review: Sin City: A Dame to Kill For (2014)


“Death is just like life in Sin City. It always wins.”

Ketika ia muncul hampir satu dekade yang lalu Sin City adalah sebuah kemasan yang mengejutkan, sebuah hiburan style over substance yang seperti namanya mencoba mengajak penonton menyaksikan aksi gila bersama berbagai dosa dari sex & violence yang dikemas secara santai dan seksi dalam dunia hitam dan putih. Sayang sekali istirahat yang lama itu ternyata memberikan efek pada sensasi yang diberikan film keduanya ini. Sin City: A Dame to Kill For, the babe wore blue in lost, lonely, & lethal adventure, exciting and boring almost at the same time.

Review: Sin City: A Dame to Kill For (2014)


“Never let the monster out. Not for one second.”

Sin City itu adalah dunia neo-noir hitam yang juga digambarkan dalam rupa hitam-putih pada visual, dipenuhi kejahatan dan kekerasan, kombinasi antara live action dan animasi yang eksploitatif, dunia yang mengajak mata dan pikiran penontonnya bersenang-senang dalam petualangan nakal dan liar. Sembilan tahun telah berlalu dari film pertamanya, rasa itu masih dimiliki oleh Sin City: A Dame to Kill For, yummy hyper bang-bang-bang anthology. 

Movie Review: 300: Rise of an Empire (2014)


"Better we show them, we chose to die on our feet, rather than live on our knees!"

This is Sparta!!! Apa yang ada dipikiran anda ketika mendengar kalimat itu? Seorang pria yang bermimpi menjadi Superman namun sayangnya hanya punya celana dalam dan tak bisa melindungi kumpulan otot miliknya? Tidak hanya itu, namun sebuah kalimat sederhana dari para pria dengan perawakan kekar yang bukan hanya mampu menunjukkan semangat mereka, namun juga sanggup membuat kita sebagai penonton mengangkat tangan dan berteriak “ahoo, ahoo, ahoo.” Ia tidak megah, namun 300 punya keunikan yang menjadikannya sebagai sebuah kenangan. Kemasan past, present, dan future dari 300 ini tidak punya hal tersebut, 300: Rise of an Empire, it’s about scream, blood, slow motion, and abs!!! Without dignity. Oh, also British who fight for Greece!!! Bland. Borefest.

Movie Review: Dark Shadows (2012)


Barnabas Collins (Johnny Depp), dikutuk oleh Angelique Bouchard (Eva Green) menjadi vampire, dan dikubur selama dua ratus tahun. Ditahun 1972, sebuah proyek sedang melakukan penggalian, dan menemukan kembali peti Barnabas. Barnabas berhasil membebaskan diri, memutuskan kembali ke kediamannya, dan berupaya mengembalikan kejayaan keluarga Collins yang telah direbut Angie.