Showing posts with label Gal Gadot. Show all posts
Showing posts with label Gal Gadot. Show all posts

Movie Review: Death on the Nile (2022)

“How many great stories are tragedies?”

Meskipun respon yang diterima memang mixed namun di tahun 2017 yang lalu film ‘Murder on the Orient Express’ sukses mencatatkan pencapaian box office yang jauh dari kata buruk: hampir tujuh kali lipat dari budget awalnya. Kenneth Branagh kala itu berhasil membuktikan bahwa kisah fiksi detektif penuh misteri yang sudah terkenal itu masih dapat menjangkau khalayak penonton yang lebih luas dan besar. Sekuel muncul namun sayangnya kisah diambil dari Agatha Christie's famous crime novels berjudul sama itu seperti bertemu beberapa rintangan, dijadwalkan rilis tahun 2020 yang lalu dan tertunda akibat beberapa hal, dari akuisisi Disney atas 20th Century Fox dan tentu saja, Corona. ‘Death on the Nile’: be careful when playing with spices.


Movie Review: Red Notice (2021)

“It doesn't matter what you do, only matters what they think you've done.”

The Rock, Deadpool, dan Wonder Woman tampil dalam satu film bersama? Tidak heran jika pada mulanya film ini menjadi rebutan empat buah major studios yang saling sikut untuk mendapatkan rights atas film ini. Namun menariknya pemenang dari perang penawaran tadi justru melepas film ini dan kemudian langsung direbut oleh Netflix, mengambil alih proyek terbaru Sutradara 'Skyscraper', 'We're the Millers' dan 'Central Intelligence' dan menjejalinya dengan budget besar, $ 200 juta dan menjadikannya film termahal yang diproduksi oleh Netflix so far, bersanding bersama film terbaru dari the Russo Brothers, The Gray Man. Discarded by Universal, picked up by Netflix. ‘Red Notice’: a collection of classic action comedy tricks.


Movie Review: Wonder Woman 1984 (2020)

“You cannot have it all. You can only have the truth. And the truth is enough. The truth is beautiful.”

Tidak peduli seberapa sukanya kamu dengan ‘Batman v Superman: Dawn of Justice’ sulit untuk memungkiri bahwa ‘Wonder Woman’ merupakan pioneer yang memberi secercah harapan yang nyata bahwa DC Extended Universe can be “fun” too. Patty Jenkins kala itu menggunakan war film sebagai platform utama untuk dengan cerdik memoles pesona utama heroine utamanya dengan penuh percaya diri, salah satu hal paling memorable dari film tersebut. Sikap positif itu kembali di film kedua ini, but sometimes you can't see what you're learning until you come out the other side. ‘Wonder Woman 1984’ : it's going down for real. (Warning: the following post contains images spoilers)


Movie Review: Wonder Woman (2017)


"It's not about deserve, it's about what you believe. And I believe in love."

Sejak kemunculan ‘Man of Steel’ empat tahun lalu sebagai film pertamanya terdapat berbagai pertanyaan yang sepertinya telah terasa umum terhadap DC Extended Universe. Tidak hanya dari segi style maupun “taste” yang kerap disederhanakan oleh para penggemar film superhero sebagai upaya DC untuk tampak & terasa “beda” dari kompetitor utamanya saja namun salah satu pertanyaan lain adalah kapan film kelas “very good” yang terasa kickass akan muncul di dalam DC Extended Universe? Sejak penampilan singkat namun berkesan yang ia lakukan tahun lalu Diana Prince diyakini akan mampu menjawab pertanyaan tersebut. Was it worth the wait? Wonder Woman: a lovely combination between power, courage, and of course wonder.

Review: Keeping Up with the Joneses [2016]


"Who are these people?"

Ketika berbicara tentang film komedi hasil akhir yang mereka berikan kerap terbagi menjadi beberapa kelas yang sederhana dengan dua variabel utama yang paling krusial, yaitu terasa lucu dan menyenangkan. Ada komedi yang lucu tapi tidak terlalu terasa menyenangkan, ada pula komedi yang tidak terlalu lucu tapi terasa menyenangkan. Dua hal tadi tampak sepele memang tapi perlu racikan yang tepat agar mereka saling berkombinasi dengan baik yang tentunya akan menghasilkan sebuah komedi yang menarik, yaitu komedi yang lucu dan juga menyenangkan. Menggabungkan formula dan materi klasik dari genre komedi bersama sentuhan action dan juga spy, di mana posisi akhir Keeping up with the Joneses berada? It's a "strange" comedy.

Review: Batman v Superman: Dawn of Justice (2016)


"Tell me. Do you bleed?"

Warner Bros. (akhirnya) memulai shared fictional universe DC Extended Universe di tahun 2013 lewat film Superman dengan judul Man of Steel, sedangkan kompetitor mereka, You-Know-Who, memulai “dunia” milik mereka di tahun 2008 dan tahun ini akan merilis film yang ke-14. DC mencoba mengejar dengan menjadikan film ini sebagai reboot Batman, sekuel Superman, perkenalan musuh besar, dan perkenalan superhero baru. Usaha yang ingin “cepat” tadi memang menghasilkan presentasi yang terasa jam-packed namun di sisi lain Batman v Superman: Dawn of Justice berhasil mencapai tujuan utama mereka: menjadi sebuah kata pengantar yang oke bagi DC Extended Universe. The greatest gladiator match in the history of the world?

Review: Criminal (2016)


"They stuck your husband in my head."

Jika kesuksesan sebuah film hanya ditentukan dari seberapa menarik dan kuat ide cerita maka Criminal akan berada di baris terdepan dan bertarung menjadi yang terbaik. Sayangnya faktor yang menentukan kesuksesan sebuah film ini tidak sesederhana itu, ide menarik harus mampu dieksekusi dengan menarik, jika ia merupakan sebuah film action thriller maka harus mampu menggoda penonton dengan berbagai pukulan yang energik serta menghasilkan sensasi yang "meledak" dan tidak generik. Memiliki banyak pemeran berbakat film ini coba melakukan eksekusi pada ide menarik yang ia miliki, Criminal, when Green Lantern marries Wonder Woman, seperti Face/Off bertemu Bourne dan berisikan lebih dari satu “Nicolas Cage”.

Review: Triple 9 [2016]


"A deadly heist needs a killer distraction."

Sutradara John Hillcoat punya cara main yang unik, dari The Proposition dan Lawless semua mencoba mendorong sisi brutal ke panggung utama untuk mencuri perhatian penonton tapi di sisi lain Hillcoat juga menjaga agar kebrutalan itu terasa kering. Hal tersebut ia lakukan kembali di crime thriller penuh cast ternama ini, namun seperti judulnya yang merupakan kode dengan arti “officer needs help” itu Triple 9 ternyata tampil seperti sebuah rapat dengan agenda yang menarik namun berjalan dengan fokus yang lemah dan kemudian kehilangan arah. 

Movie Review: Fast & Furious 6 (2013)

 

"You don't turn your back on family, even when they do"

Hal ini tentu saja bersifat subjektif, dimana setiap orang akan memiliki penilaian yang berbeda tergantung pada sudut pandang yang mereka gunakan hingga selera yang mereka punya. Bagi saya, Fast and the Furious adalah salah satu film series yang sejauh ini terus menampilkan sebuah perkembangan kearah positif di tiap film terbarunya. Fast & Furious 6 bahkan seolah menjadi sebuah pion yang digunakan oleh series ini untuk menunjukkan bahwa upaya mereka belum berhenti untuk mencoba menuju titik puncak.