Showing posts with label Helena Bonham Carter. Show all posts
Showing posts with label Helena Bonham Carter. Show all posts

Review: Harry Potter 20th Anniversary: Return to Hogwarts (2022)

“Always.”

Harry Potter adalah salah satu fenomena industri perfilman, selama satu dekade penonton dibawa ikut tumbuh bersama karakter sejak pertama kali mereka masuk dan diterima di sebuah sekolah sihir, menyaksikan mereka tidak hanya berkembang dari segi pendidikan dan pergaulan saja namun juga perjuangan dalam menghadapi rencana jahat dari You-Know-Who bersama pasukannya. Karena itu, sangat layak jika sebuah film dokumenter dibuat untuk merayakan 20 tahun film series dengan total delapan buah film yang kini tergabung di dalam ‘The Wizarding World’ franchise itu, membawa fans dan penonton ke Hogwarts dan bernostalgia meski tidak dipungkiri pula fungsi lainnya untuk membuka pintu bagi kembalinya Fantastic Beasts films di tahun ini, The Secrets of Dumbledore. ‘Harry Potter 20th Anniversary: Return to Hogwarts’: a gift for fans.


Movie Review: Enola Holmes (2020)


“My life is my own. And the future is up to us.”

Enola ini siapanya Sherlock Holmes? Di film ini sosok Enola diceritakan sebagai adik perempuan dari Mycroft Holmes dan tentu saja detektif terkenal, Sherlock Holmes. Apakah akan sama seperti apa yang dilakukan oleh kakak laki-lakinya tersebut? Ya, secara garis besar memang seperti itu, penonton dibawa untuk masuk ke dalam petualangan hidup Enola yang dihadapkan pada sebuah misteri, namun menariknya alih-alih terlalu menaruh fokus pada misteri spotlight ternyata juga diarahkan pada satu hal yang menarik lainnya, yaitu sebuah kisah coming-of-age yang mengusung isu tentang women empowerment dengan cara yang ringan & riang. 'Enola Holmes' : a cheerful and catchy (and a bit lazy) journey about Sherlock Holmes's charming sister.


Movie Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011)


"Always."

Peter Jackson memiliki tempat special dengan The Lord of the Rings film series, and of course you can’t beat James Bond and Star Wars, namun Harry Potter film series berhasil menjadi bagian dari "big giants" itu dengan cara yang tidak kalah special: mereka merupakan kumpulan film di mana penonton ikut bertumbuh bersama karakter dan juga konflik, tidak peduli di usia berapa penonton memulainya. Film ini berhasil menjadi penutup yang manis dari petualangan panjang selama satu dekade itu. It all ends here, berikut adalah film kedelapan dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2: an exciting and emotional closure.

Movie Review: Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 1 (2010)


"I must be the one to kill Harry Potter."

Keputusan memecah novel terakhir dari petualangan Harry Potter dan teman-temannya di dunia sihir menjadi dua bagian film sebenarnya memiliki dampak positif dan juga negatif. Positifnya adalah dengan begitu terdapat kesempatan yang lebih besar bagi materi dari novel untuk hadir di layar lebar, namun dari sana pula dampak negatif kemudian dapat lahir, jika kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan baik salah satu dari dua part tersebut punya potensi besar untuk kurang berhasil menjadi sebuah sajian yang padat. The beginning of the end, berikut adalah film ketujuh dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1, another puzzle solving journey with accio and one cute but depressing little dance.

Movie Review: Harry Potter and the Half-Blood Prince (2009)


"Avada Kedavra!"

Novel Harry Potter and the Half-Blood Prince dapat dikatakan merupakan salah satu novel terbaik dari tujuh Harry Potter novels, setup yang telah coba dibentuk pada lima film sebelumnya kini naik ke tahap selanjutnya di mana sisi protagonist dan antagonis mulai melancarkan “ledakan” satu sama lain, dari "the special one" Harry kini sadar bahwa ia juga merupakan "the chosen one". Menjadi jembatan bagi dua film terakhir berikut adalah film keenam dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Half-Blood Prince: half for romance, half for the prince.

Movie Review: Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007)


"You're a fool, Harry Potter."

Dua film pertama sangat faithful terhadap sumber cerita, kemudian dua film selanjutnya berhasil untuk tidak berakhir dengan status yang sama seperti dua film pertama, dan film kelima ini take the liberties naik satu level lebih tinggi terhadap petualangan Harry Potter pada media film, hal yang kemudian membuat respon terhadap output yang ia hasilkan menjadi split terutama pada lovers of the book yang kecewa karena berbagai “aspek” di dalam novel tidak hadir di dalam film. Berikut adalah film kelima dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Order of the Phoenix, a darker and better metaphors about a growing up hero.

Review: Alice Through the Looking Glass (2016)


"I will help my friends, no matter what."

Di tahun 2010 Tim Burton menciptakan versinya dari kisah klasik karya Lewis Carroll yang telah berulang kali diadaptasi ke dalam bentuk hiburan visual, Alice in Wonderland, sebuah petualangan fantasi dengan presentasi visual dan kostum yang begitu memikat meskipun terasa "biasa" di bagian cerita. Menghasilkan lebih dari $1 Milyar yang sempat membawanya menempati peringkat kelima highest-grossing film of all time kehadiran sekuel bukan merupakan sebuah kejutan. Pertanyaannya kembali sama, apakah ini mampu mengulangi kesuksesan sembari memperbaiki minus yang dihasilkan oleh film pertamanya? Visually enchanting, Alice Through the Looking Glass is a needless sequel, a tasteless candy.

Review: Cinderella (2015)


"My name is...Cinderella."

Ada satu kalimat dari Lady Tremaine yang sepertinya sudah cukup untuk dapat mewakili cara film ini membawa kamu berpetualang kedalam kisah yang sangat familiar ini. Bunyinya adalah: this thing is so old-fashioned. Ya, semoga film ini dapat menjadi awal untuk membuat para filmmaker di Hollywood sana untuk berpikir ulang dalam mengubah sebuah dongeng klasik kedalam bentuk live-action, perlahan mengurangi modifikasi sana-sini yang lebih sering menciptakan kesan kurang impresif dan mulai mencoba membentuk kembali dongeng tersebut dengan treat yang lebih lembut untuk membawa penonton merasakan kekuatan utama dari sebuah dongeng: magic. Please welcome, Cinderella: Or (The Virtue of Have Courage And Be Kind).

Movie Review: Cinderella (2015)


“A dream is a wish your heart makes.”

Salah satu trend modern di industri perfilman yang sesungguhnya tidak pula dapat dikatakan sebagai sesuatu yang selalu pasti akan memberikan hasil positif adalah ketika sebuah film yang menggunakan materi “lama” wajib memberikan presentasi dengan sedikit sentuhan yang berbeda, dari upaya menunjukkan keberanian visi hingga menghasilkan sebuah “true refreshing”. Tapi disamping itu ada kisah tradisional dan klasik yang tidak perlu hal-hal semacam itu, tanpa perlu menawarkan sebuah sentuhan dan perubahan eksplisit yang berlebihan dan berpotensi mengganggu. Film ini punya keberanian untuk menjadi kemasan yang taat pada sumber aslinya namun tetap berhasil menampilkan kembali dongeng populer itu kedalam sebuah presentasi lembut dan kokoh yang modest, thoughtful, funny, playful, charming, and magical. Cinderella: beauty fairy story when Shakespeare meet Disney.

Movie Review: The Lone Ranger (2013)


Johnny Depp is Rango. Itu dua tahun lalu, dan kini Depp terjun langsung ke dalam sebuah petualangan yang juga berlatarkan Amerika klasik abad 19, masih dengan tingkah anehnya yang kini tampil dengan wajah berbalut hitam dan putih yang kasar, seekor burung gagak di kepalanya, dengan seorang pria “pemberani” yang menjadi partnernya. Cukup aneh memang, kenapa review kali ini harus dibuka dengan membahas seorang Johnny Depp. Ya, dia (satu-satunya) daya tarik dari The Lone Ranger.  

Movie Review: Les Misérables (2012)


Memperjuangkan mimpi tanpa pernah kehilangan harapan akan menghasilkan sebuah akhir yang indah, yaitu kedamaian dipenuhi dengan rasa cinta. Mungkin itu gambaran umum dari Fight – Dream – Hope – Love, tagline yang diusung oleh Les Misérables, film musical karya terbaru dari Tom Hooper, film yang telah identik dengan panggung teatrikal. Ya, Les Misérables adalah musical theatre, dan anda salah besar jika menganggap ini adalah film musikal yang biasa.

Movie Review: Dark Shadows (2012)


Barnabas Collins (Johnny Depp), dikutuk oleh Angelique Bouchard (Eva Green) menjadi vampire, dan dikubur selama dua ratus tahun. Ditahun 1972, sebuah proyek sedang melakukan penggalian, dan menemukan kembali peti Barnabas. Barnabas berhasil membebaskan diri, memutuskan kembali ke kediamannya, dan berupaya mengembalikan kejayaan keluarga Collins yang telah direbut Angie.