Showing posts with label Jason Sudeikis. Show all posts
Showing posts with label Jason Sudeikis. Show all posts

Review: Masterminds (2016)


"Brace your boobies."

Sebagai informasi pembuka ‘Masterminds’ merupakan bagian dari daftar film yang kami antisipasi tahun lalu, memiliki cast beranggotakan Zach Galifianakis, Owen Wilson, Jason Sudeikis, dan SNL’s popular ladies yang dipimpin Kristen Wiig kala itu sangat menantikan kegilaan macam apa yang akan film ini berikan. Namun sayangnya hype tersebut menghilang, dijadwalkan rilis pada pertangahan tahun kemudian mundur ke slot pada akhir tahun film komedi bertemakan caper ini pada akhirnya baru rilis di negara asalnya hampir satu tahun kemudian. Is it worth the wait? 

Review: Mother's Day (2016)


"We're not who the world thinks we are."

Ia memang merupakan sosok di balik salah satu film romance paling populer sepanjang masa, Pretty Woman, namun tiga film terakhir dari Garry Marshall bukan sebuah prestasi dengan pencapaian yang oke. Yang menarik adalah dua film terakhirnya selalu mengambil tema hari special, tahun 2010 Valentine's Day dan tahun 2011 New Year's Eve, keduanya merupakan film yang hambar untuk mengisi dua hari special tadi. Lima tahun istirahat kali ini Garry Marshall kembali dengan hari special lainnya, Mother's Day, film yang seolah meneruskan baton dari dua film Garry sebelumnya tadi.

Review: The Angry Birds Movie [2016]


"Time to get angry!"

Cara bermain yang ia tawarkan tidak begitu spesial namun dengan gameplay yang fun, lucu, dan adiktif, Angry Birds sukses menjadi sebuah fenomena tingkat global di tahun 2010, menjadi sahabat dari miliaran pengguna smartphone yang kemudian membantunya meraih predikat sebagai one of the most mainstream games. Tujuh tahun berlalu sejak kemunculan pertamanya Rovio Entertainment mencoba untuk mengangkut konsep dasar yang sederhana tadi kedalam bentuk film animasi yang diberi judul The Angry Birds Movie, sebuah usaha minimalis yang berakhir manis. It's like bird version of Minions.

Review: Tumbledown (2016)


"Turn the page, start a new chapter."

Cinta memang memiliki kekuatan dan kemampuan yang luar biasa, ia tidak hanya mampu membuat kamu menjadi positif dari posisi awal positif, cinta juga mampu mengubah kamu yang awalnya negatif menjadi positif. Fungsi klasik cinta itu yang coba digambarkan oleh film ini, Tumbledown, si wanita terjebak masa lalu, si pria menolong untuk move on, berpadu dengan humor dan hati menjadi sebuah rom-com yang tidak menyengat.

Review: Horrible Bosses 2 (2014)


"New crime. Same tools."

Sekuel selalu menjadi sebuah pedang bermata dua, ia bisa meneruskan kesuksesan yang telah diraih pendahulunya, bahkan tidak sedikit yang mampu memberi penonton suguhan yang lebih baik, tapi di sisi lain ia juga dapat menjadi sebuah noda yang melukai pencapaian pendahulunya. Horrible Bosses 2 adalah sebuah noda bagi film pertamanya yang tiga tahun lalu bukan hanya sukses menjadi box-office hit tapi juga menjadi sebuah komedi "menjijikkan" yang menyenangkan.

Movie Review: We're the Millers (2013)

 

"You never really know until you know."

Tentu saja ada alasan mengapa manusia dijuluki sebagai makhluk sosial, karena mereka perlu orang lain disekitarnya untuk menjadikan hidup mereka bertumbuh, salah satunya mungkin membuka jalan untuk menemukan apa yang selama ini tidak mereka dapatkan. We're the Millers coba membawa hal tersebut dalam petualangan bodoh, bagaimana hal palsu yang justru menuntun empat orang menuju kebahagiaan. Yap, sekali lagi, ini bodoh, klasik, standard, predictable, namun secara mengejutkan tampil menghibur dan menyenangkan.   

Movie Review: Drinking Buddies (2013)


Love and doubt have never been on speaking terms (Kahlil Gibran). Yap, cinta adalah kecocokan jiwa, dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta. Itu mengapa banyak orang mengatakan koleksi, kemudian seleksi, dan berakhir di resepsi. Anda harus memilih, memilih yang terbaik dari yang terbaik bagi anda, sosok yang anda yakini sepenuh hati akan menemani anda hingga anda mati. Drinking Buddies, simple, segmented, surprisingly nice, a comedy about knowing when to say when.

Movie Review: Epic (2013)


Film ini seperti tidak perlu sebuah upaya yang begitu besar untuk meyakinkan para calon penontonnya. Trailer yang dibentuk cukup menjanjikan, jajaran pengisi suara yang dengan mudah akan mencuri perhatian dari Pitbull hingga Steven Tyler, hingga judul yang ia usung, seperti menunjukkan sebuah rasa percaya diri yang begitu tinggi pada kualitas paket yang ia miliki. Namun Epic bukan karya DreamWorks, apalagi Pixar. Blue Sky Studios, mereka (hanya) punya Rio yang menarik, selain itu hanya ada Ice Age series yang kita tahu bersama kualitasnya.

Movie Review: The Campaign (2012)


Election atau di Indonesia lebih kita kenal dengan sebutan "pemilihan umum", jelas merupakan salah satu topik utama di Amerika tahun ini. Tema tersebut coba diangkat oleh Jay Roach, yang pernah mencuri perhatian lewat Game Change. The Campaign menceritakan tentang pemimpin North Carolina bernama Cam Brady (Will Ferrell), melakukan beberapa kesalahan minor yang menciptakan noda dalam masa kepimpinannya. Noda tersebut menyebabkan munculnya celah, yang kemudian dimanfaatkan oleh pihak lain untuk mencegah Cam kembali memimpin North Carolina.