Showing posts with label Michael Stuhlbarg. Show all posts
Showing posts with label Michael Stuhlbarg. Show all posts

Movie Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

“I love you in every universe.”

Salah satu kelebihan yang kini dinikmati Marvel Cinematic Universe ialah flexibility, bagaimana sejak awal telah membentuk pondasi yang kuat bagi kelompok superhero mereka yang kemudian dapat diutak-atik sesuai dengan kebutuhan konsep yang coba disajikan. Aksi mix and match itu telah berjalan dengan baik sejak awal, hingga the blip terjadi, momen ketika Thanos snapping his fingers dan mengubah “tatanan” yang telah tersusun. Penyesuaian dilakukan sejak major event itu, diawali dengan ‘WandaVision’ yang terjadi tiga minggu pasca ‘Endgame’ kini Marvel mengembangkan dunia mereka dengan travel through the multiverse. Ya, that “Spider-Man reunion” thing adalah permulaan. ‘Doctor Strange in the Multiverse of Madness’: an example of imagination triumph over the programmed of commercial calculation. (Warning: the following post might contains mild spoilers)


Review: Miss Sloane (2016)


"It’s about making sure you surprise them, and they don’t surprise you."

Menaruh harap bahwa politik dapat 100% bersih dan pro-rakyat itu ibarat berusaha mencari beberapa jarum pada setumpukan jerami, mungkin dapat ketemu tapi pasti akan sangat sulit. Mengapa? Karena politik tidak hanya sebuah panggung sandiwara saja tapi juga berisikan sebuah permainan dengan banyak peserta yang masing-masing membawa agenda yang tentu berbeda-beda. Politik lebih sering dipenuhi usaha untuk saling menjatuhkan dengan melakukan berbagai cara salah satunya seperti sabotase, hasilnya pihak yang baik bisa kalah dan mereka yang "kurang baik" justru bisa menjadi pemenang. Hal tersebut menjadi dasar dari film ini, sebuah permainan antara politik, agenda, dan lobbyists berjudul ‘Miss Sloane’. It’s a chilling and engaging political thriller.

Review: Arrival (2016)


"They arrive."

Salah satu pertanyaan yang eksis di bumi dan masih belum memiliki jawaban yang meyakinkan adalah apakah bumi satu-satunya planet di alam semesta yang memiliki penghuni? Jika tidak maka apakah alien itu ada? Manusia terus mencari tahu apakah terdapat bentuk kehidupan lain di alam semesta selain di bumi, hal yang juga tidak pernah berhenti menjadi materi empuk untuk dieksplorasi oleh industri film. Kali ini dengan mengusung pertanyaan “why are they here?” sutradara Sicario and the upcoming Blade Runner 2049 mencoba kembali mengeksplorasi isu "we are not alone in the universe" itu dalam bentuk sebuah hard science fiction berjudul ‘Arrival’. It’s a delightful puzzle about alien, love, and life.

Review: Trumbo (2015)


"When they tried to silence him, he made the world listen."

Tugas dari sebuah film biografi bagaimana ia secara komprehensif mencoba menceritakan kembali kisah kehidupan seseorang atau setidaknya bagian paling historis atau penting dari kehidupan mereka. Ia tidak boleh hanya sekedar "menghidupkan kembali" tokoh utama tapi ia juga harus membawa penonton masuk kedalam mode mengamati karena mayoritas dari mereka merupakan sebuah character study. Hanya itu? Tidak, karena seberapa kuat dampak yang hasilkan setelah menyaksikan kehidupan tokoh yang ia gambarkan juga punya peran penting. Semua hal itu dilakukan oleh Trumbo dengan aman. 

Review: Steve Jobs (2015)


"Musicians play their instruments. I play the orchestra."

Steve Jobs merupakan sebuah presentasi manipulasi yang mengasyikkan, sebuah biopic yang seperti tidak ingin sekedar membawa kamu sebagai penonton menemukan jawaban atas pertanyaan tapi justru tampak seperti sebuah studi karakter bersama berbagai masalah dalam temperatur tinggi. Steve Jobs lebih terasa seperti sebuah drama ketimbang biografi yang menceritakan kisah hidup sosok pendiri Apple, namun di tangan Trainspotting dan Slumdog Millionaire ia tampil indah sejak awal hingga akhir.

Movie Review: Blue Jasmine (2013)


"Some people, they don't put things behind so easily."

Sesungguhnya kita tidak selayaknya mengeluh pada setiap cobaan dan kesulitan yang kita alami, karena dibalik beban berat tersebut terdapat sebuah kekuatan yang menempa pribadi kita menjadi lebih kuat. Ya, kalimat klasik mengatakan anda akan semakin menghargai sebuah kenikmatan sekecil apapun jika anda pernah merasakan kegagalan, dan juga kehancuran. Penggambaran dari sistem tersebut yang coba dihadirkan oleh film ini, Blue Jasmine, when Cate Blanchett stole your attention for one and half hours.