Showing posts with label Octavia Spencer. Show all posts
Showing posts with label Octavia Spencer. Show all posts

Movie Review: Spirited (2022)

“Good Afternoon!”

Sejak terbit 179 tahun yang lalu novel ‘A Christmas Carol’ karya Charles Dickens kabarnya tidak pernah out of print, telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa kisah tentang seorang pria tua kikir dan pelit yang kemudian berpetualang ke masa lalu dan juga masa depan itu juga telah diadaptasi dan didramatisasi berulang kali dalam bentuk film, stage, opera, dan media lainnya. Versi baru muncul secara teratur dari cerita yang melibatkan campur tangan dari The Ghost of Christmas itu, sehingga tidak heran jika hingga kini pun cerita ‘A Christmas Carol’ masih lekat asosiasinya dengan the Christmas season. Versi terbaru ini mencoba mendaur ulang kembali kisah klasik tersebut menjadi sebuah modern retelling bernafaskan musical comedy, with Will Ferrell and Ryan Reynolds. ‘Spirited’: a nifty Christmas karaoke bar.


Movie Review: Onward (2020)


‘We are going on a grand and glorious quest.’

Dengan berkembangnya teknologi secara pesat sekarang ini umat manusia seolah semakin dimudahkan kehidupannya, semua menjadi lebih simple dan lebih mudah. Namun di sisi lain ada dampak yang kurang baik dari hal positif tadi, terlupakannya berbagai hal istimewa yang tidak bisa diberikan oleh teknologi tersebut. Film terbaru dari Pixar ini mencoba bercerita tentang hal itu, menggunakan template layaknya Zootopia mencoba membawa penonton bermain dengan magic bersama para mythical creatures. ‘Onward’ : when Zootopia meet Coco, it’s a surprisingly moving adventure.

Review: Hidden Figures (2016)


"Every time we have a chance to get ahead they move the finish line."

Drama seperti ‘Hidden Figures’ ini sangat mudah untuk ditemukan di setiap penghujung tahun, sebuah drama yang mencoba mengangkat berbagai isu klasik dengan inti yaitu hak untuk memperoleh kesamaan derajat. Namun menariknya adalah tidak banyak yang berhasil mencapai tujuan utamanya tanpa meninggalkan kesan “preachy” yang terasa berat dan berlebihan, seolah sejak awal hingga akhir mencoba mengemis atensi, simpati, dan empati dari penontonnya. Di tangan white man yang juga merupakan sutradara ‘St. Vincent’ kisah tentang black woman ini tidak berakhir seperti itu, berhasil berbicara tentang equal rights dengan cara yang “right”.

Review: The Divergent Series: Allegiant [2016]



"Everyone we know will die."

Ketika muncul dua tahun lalu film Divergent mengusung misi untuk memanfaatkan “panas” dari adaptasi novel young adult ke layar lebar, namun alih-alih berdiri tegak dan bersanding bersama The Hunger Games kala itu yang dialami oleh Divergent justru menyedihkan. Dengan keunikan cerita yang ia miliki Divergent menjadi start yang terlalu lembut, Insurgent meneruskannya dengan eksekusi yang canggung miskin urgensi dan energi, dan film pertama dari dua babak adaptasi buku terakhir, The Divergent Series: Allegiant, seperti sebuah bendera putih tanda menyerah. Seperti sebuah ucapan Four kepada Tris, “We need to leave, RIGHT NOW!” 

Review: Zootopia [2016]


"No matter what type of animal you are, change starts with you."

Walt Disney pernah berkata seperti ini, bahwa film dapat dan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kehidupan muda untuk menuju cita-cita dan tujuan di kehidupan dewasa, dan animasi merupakan media mendongeng dan hiburan visual yang dapat memberikan kesenangan serta informasi kepada penonton dari segala usia. Zootopia berhasil menjadi film terbaru yang melaksanakan perkataan pendiri Disney itu, sebuah film animasi yang sangat sangat sehat, karya terbaru dari Disney ini berhasil menciptakan arena bagi penonton muda dan penonton dewasa untuk datang, duduk, dan bersenang-senang bersama.

Review: Insurgent (2015)



"Once a stiff, always a stiff."

Ketika saya hendak menonton film ini saya bertanya pada teman yang sudah terlebih dahulu menyaksikan Insurgent dan juga sebelumnya juga telah membaca novel karya Veronica Roth itu. Jawaban darinya adalah: “apakah layak berharap banyak dari Insurgent?”  Sebuah jawaban yang sederhana memang namun bukan hanya 50 atau 70 persen namun saya setuju sepenuhnya dengan pernyataannya teman saya tadi. Insurgent, baik itu dari sisi novel maupun film, merupakan korban dari masalah yang bukan hanya sekarang namun mungkin akan kita saksikan beberapa tahun kedepan, sebuah trilogi dengan bagian kedua yang hanya menjadi sebuah jembatan penghubung dengan daya tarik yang lemah.

Movie Review: The Divergent Series: Insurgent (2015)


“Mankind wait for you, with hope, beyond the wall.”

Tahun lalu saya menyebut Divergent sebagai film tentang pemberontakan yang terlalu lembut, kurang bergairah, monoton, dan sedikit membosankan. Tidak hanya itu ia juga tidak memiliki petualangan dalam gerak cekatan sehingga tampak seperti membangun drama dengan bumbu adegan sci-fi dan action, ketimbang menjadi kodratnya sebagai sebuah film sci-fi action dengan dukungan drama. Well, hal tersebut yang kemudian meninggalkan saya speechless ketika melangkah keluar sesaat setelah kejutan dari Naomi Watts yang berdiri dibelakang Kate Winslet. The Divergent Series: Insurgent: when kids from Nickelodeon start a rebellion.

Movie Review: Fruitvale Station (2013)


"Every step brings you closer to the edge."

Setiap orang akan menemukan situasi dan momen kelam dalam hidupnya, kemudian akan berusaha untuk melupakan kisah tersebut dan berubah, secepatnya. Ya, sikap tersebut harus dilakukan sesegera mungkin, karena hidup anda dapat berubah hanya dalam sekejap. Fruitvale Station mencoba menggambarkan hal tadi kedalam kisah sederhana yang menggunakan kisah nyata dengan balutan diskriminasi, rasisme, hingga isu sosial, kombinasi antara proses dan ledakan.   

Movie Review: Snowpiercer (2013)


"I belong to the front, you belong to the tail."

Orang kaya bertindak sebagai penguasa, sedangkan kaum miskin berperan sebagai penderita. Kejam? Sebenarnya tidak, faktanya simbiosis tersebut kini tidak lagi menjadi sesuatu yang aneh, perlahan tampak seperti sebuah trend bahkan kewajiban yang berlaku pada banyak ekosistem masyarakat, karena kini melakukan tindakan humanisme sudah jauh dari kesan membanggakan. Hal tersebut akan anda temukan pada karya terbaru dari Bong Joon-Ho, salah satu sutradara terbaik yang dimiliki Korea Selatan. Snowpiercer, sebuah kritik implisit menggunakan bencana apokaliptik yang menakjubkan.   

Movie Review: Smashed (2012)


Meskipun dapat mengandung arti yang positif tergantung dari objeknya, addict akan lebih mudah untuk dikaitkan dengan hal negatif. Jika label addict hadir dan telah melekat pada sebuah kebiasaan yang anda lakukan, maka tingkat kesulitan untuk melepaskan diri dari jeratan yang ia miliki akan semakin sulit. Smashed mencoba memaparkan kepada anda bahaya dari sesuatu bernama addict, menggunakan sesosok wanita cantik yang mencoba untuk berhenti menjadi alcoholic, seorang wanita yang bahkan pernah di juluki sebagai drunk angel.