Showing posts with label Ralph Fiennes. Show all posts
Showing posts with label Ralph Fiennes. Show all posts

Review: Harry Potter 20th Anniversary: Return to Hogwarts (2022)

“Always.”

Harry Potter adalah salah satu fenomena industri perfilman, selama satu dekade penonton dibawa ikut tumbuh bersama karakter sejak pertama kali mereka masuk dan diterima di sebuah sekolah sihir, menyaksikan mereka tidak hanya berkembang dari segi pendidikan dan pergaulan saja namun juga perjuangan dalam menghadapi rencana jahat dari You-Know-Who bersama pasukannya. Karena itu, sangat layak jika sebuah film dokumenter dibuat untuk merayakan 20 tahun film series dengan total delapan buah film yang kini tergabung di dalam ‘The Wizarding World’ franchise itu, membawa fans dan penonton ke Hogwarts dan bernostalgia meski tidak dipungkiri pula fungsi lainnya untuk membuka pintu bagi kembalinya Fantastic Beasts films di tahun ini, The Secrets of Dumbledore. ‘Harry Potter 20th Anniversary: Return to Hogwarts’: a gift for fans.


Movie Review: The King's Man (2021)

“Let's end this as gentlemen! After all, manners maketh man.”

Istilah dalam bahasa Inggris kuno “Manners Maketh Man” melambung tinggi ketika diucapkan oleh karakter Harry Hart di film ‘Kingsman: The Secret Service’, ia pakai untuk menunjukkan kepada beberapa orang anak muda London pelajaran tentang bagaimana cara bersikap sebagai seorang gentlemen. Momen tersebut terasa sangat berkesan karena hadir dalam bentuk adegan action yang mempertontonkan pesona posh British yang lantas berkembang menjadi sajian action spy comedy stylish serta lucu meskipun di beberapa bagian terasa sedikit over-the-top. Dan yang terpenting adalah film itu sukses secara komersial, and what is profitable must be exploited, that's how Hollywood wants it. Back story sounded like a good idea, which always comes with a certain risk. ‘The King's Man’ : a concentrated nonsense.


Movie Review: No Time to Die (2021)

“I never forget your eyes under the ice.”

James Bond is an icon, tidak diragukan lagi merupakan mata-mata paling terkenal di dunia, pria idaman setiap wanita yang punya aura seksi layaknya Superman, karakter fiksi yang telah menjadi bagian tidak terlepaskan dari pop culture. Sejak pertama kali hadir di tahun 1962 karakter James Bond telah diperankan oleh tujuh orang pria dalam 27 buah film di mana sempat terjadi peristiwa unik di tahun 1967 dan 1983, kala itu dalam satu tahun ada dua buah film James Bond rilis yang diproduksi oleh dua production company berbeda. But the proper function of man is to live, not to exist. Begitupula dengan Daniel Craig’s James Bond, he didn't waste his days trying to prolong it. He has used his time. This is the end, hold your breath and count to ten. ‘No Time to Die’ : a lap of honor for Daniel Craig’s Bond. (Warning: the following post might contains major spoilers)


Review: The Lego Batman Movie (2017)


"Iron Man sucks!"

Tiga tahun lalu ‘The Lego Movie’ berhasil memberi kejutan yang cukup besar bagi genre animation, sebuah kisah tentang “ordinary” guy yang merasa bahwa dirinya “special” itu tidak hanya berhasil menceritakan “everything is awesome” and everybody is special namun dengan cepat langsung membawa dunia Lego menjadi populer dan tampak menjanjikan di industri perfilman. Fictional universe langsung terbentuk dengan salah satunya tentu saja sekuel dari The Lego Movie itu sendiri, but first let’s meet ‘The Lego Batman Movie’ yang tidak hanya sukses “bercerita” seperti 'The Lego Movie' saja namun membawa tranformasi dan penyegaran terhadap DC Comics characters dalam bentuk sebuah blockbuster comedy. Everything is cool when you’re part of a team. Always be yourself, unless you can be Batman!

Movie Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011)


"Always."

Peter Jackson memiliki tempat special dengan The Lord of the Rings film series, and of course you can’t beat James Bond and Star Wars, namun Harry Potter film series berhasil menjadi bagian dari "big giants" itu dengan cara yang tidak kalah special: mereka merupakan kumpulan film di mana penonton ikut bertumbuh bersama karakter dan juga konflik, tidak peduli di usia berapa penonton memulainya. Film ini berhasil menjadi penutup yang manis dari petualangan panjang selama satu dekade itu. It all ends here, berikut adalah film kedelapan dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2: an exciting and emotional closure.

Movie Review: Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 1 (2010)


"I must be the one to kill Harry Potter."

Keputusan memecah novel terakhir dari petualangan Harry Potter dan teman-temannya di dunia sihir menjadi dua bagian film sebenarnya memiliki dampak positif dan juga negatif. Positifnya adalah dengan begitu terdapat kesempatan yang lebih besar bagi materi dari novel untuk hadir di layar lebar, namun dari sana pula dampak negatif kemudian dapat lahir, jika kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan baik salah satu dari dua part tersebut punya potensi besar untuk kurang berhasil menjadi sebuah sajian yang padat. The beginning of the end, berikut adalah film ketujuh dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1, another puzzle solving journey with accio and one cute but depressing little dance.

Movie Review: Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007)


"You're a fool, Harry Potter."

Dua film pertama sangat faithful terhadap sumber cerita, kemudian dua film selanjutnya berhasil untuk tidak berakhir dengan status yang sama seperti dua film pertama, dan film kelima ini take the liberties naik satu level lebih tinggi terhadap petualangan Harry Potter pada media film, hal yang kemudian membuat respon terhadap output yang ia hasilkan menjadi split terutama pada lovers of the book yang kecewa karena berbagai “aspek” di dalam novel tidak hadir di dalam film. Berikut adalah film kelima dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Order of the Phoenix, a darker and better metaphors about a growing up hero.

Movie Review: Harry Potter and the Goblet of Fire (2005)


"Lord Voldemort has returned!"

Lewat ‘Harry Potter and the Prisoner of Azkaban’ sutradara Alfonso Cuaron berhasil melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam “perkenalan” tone yang lebih darker ke dalam petualangan Harry Potter dan teman-temannya di dunia sihir, sebuah start yang kini coba diekspansi pada film keempat, menaruh fokus pada isu terkait adolescence dan tentu saja menjadi arena bagi perkenalan dari the one and only, Lord Voldemort. Berikut adalah film keempat dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Goblet of Fire, a good welcome to dark and difficulty.

Review: Kubo and the Two Strings (2016)


“If you must blink, do it now.”

Sejak ikut ambil bagian di feature film 'Corpse Bride' sebelas tahun yang lalu Laika konsisten menghasilkan animasi yang mampu meninggalkan kesan “unik” yang membedakan mereka dari para kompetitor, menjaga tradisi stop-motion dan memadukannya dengan kecanggihan animasi untuk menciptakan sebuah family movie yang “halus” sebagai entertainment yang mampu menghibur berbagai golongan usia meskipun tema yang mature menjadi bagian di dalam cerita. Karya terbaru mereka, ‘Kubo and the Two Strings’, mencoba melakukan hal yang sama dan kali ini dengan mencampur budaya Jepang ke dalam sebuah petualangan berlandaskan magic. When ‘Kung Fu Panda’ meets Hayao Miyazaki, ‘Kubo and the Two Strings’ is one of the best animated films this year. Beware 'Zootopia'!

Review: A Bigger Splash [2015]


"We're all obscene. Everyone's obscene. That's the whole point."

Konsep koleksi, seleksi, dan resepsi dalam hubungan asmara mungkin memang sulit untuk diterima oleh banyak orang tapi sesungguhnya itu merupakan sesuatu yang baik. Ya, selalu akan ada rumput tetangga yang lebih “hijau” dari rumput milikmu, dan tugas kamu adalah tetap teguh untuk yakin bahwa rumput yang kamu punya adalah yang terbaik untukmu. Dasar dari sistem rumput yang lebih hijau tadi digunakan oleh A Bigger Splash, di bawah kendali sutradara I Am Love (io sono l'amore) menggambarkan persaingan cinta yang dingin dan hangat, lucu dan sensual. Lord Voldemort tampil rock 'n' roll di sini.

Review: Hail, Caesar! (2016)


"Would that it were so simple?"

Hail, Caesar! merupakan sebuah usaha dari Coen Brothers menggabungkan dua keahlian mereka dalam tampilan yang lebih kearah style. Keahlian Coen Brothers bukan hanya menciptakan kisah yang terasa “manusia” dengan menggunakan kesan nihil yang konsisten, mereka juga ahli dalam membuat yang sederhana tampak kompleks, dan yang kompleks tampak sederhana. Berikan sebuah kisah kejahatan di panggung utama, temani dengan berbagai warna lain termasuk lelucon tepat guna, Hail, Caesar! merupakan komedi, melodrama, noir, epic, serta sebuah showbiz yang cepat dan cerdas, nakal dan sinting.

Review: Spectre [2015]


"You are a kite dancing in a hurricane, Mr Bond."

Kabar bahwa Daniel Craig akan mundur sebagai James Bond setelah selesai bertugas di Spectre sebenarnya sangat mengejutkan buat saya. Alasannya? Karena di film sebelumnya, Skyfall, saya baru benar-benar merasa Daniel Craig sebagai seorang James Bond yang "tangguh", karakteristik dan karisma miliknya sebagai Agent 007 mencapai titik tertinggi, ia bersinar. Itu semakin disayangkan karena Skyfall sesungguhnya juga seperti sebuah transisi yang hendak membawa kita bertemu kembali Bond dengan rasa klasik, dan Spectre terhitung berhasil melanjutkan baton yang ia terima.

Movie Review: The Grand Budapest Hotel (2014)


"The beginning of the end of the end of the beginning has begun."

Jika cara anda berekspresi masih belum memberikan rasa bosan bagi anda, maka belum ada alasan bagi anda untuk berubah demi memuaskan pendapat orang lain. Terdengar egois memang, namun yang mengerti cara agar anda dapat merasa bahagia adalah anda sendiri, itu yang masih diterapkan oleh Wes Anderson, namun uniknya ia kembali tidak hanya bergembira seorang diri bersama ide-ide miliknya, ia juga mampu mengajak penonton untuk bersenang-senang dalam fantasi penuh warna. The Grand Budapest Hotel, 2014 yummy orchestra.

Review: The Grand Budapest Hotel (2014)


"There are still faint glimmers of civilization left in this barbaric slaughterhouse that was once known as humanity."

Ketika selesai menyaksikan film ini ada satu pertanyaan aneh yang terlintas di pikiran saya, apa jadinya ya kalau Wes Anderson diminta untuk jadi sutradara film horror? Bisa atau tidak? Dia seperti punya aturan main bahwa filmnya harus colorful tentu saja dengan keunikan gambar simetris miliknya itu, tapi disisi lain ia juga ahli dalam menciptakan narasi yang tampak rumit bahkan kacau dan bergerak gegabah tapi dengan cepat mampu menjerumuskan penontonnya untuk terbuai kedalam mood dari imajinasi miliknya tersebut. Sebagai imajinasi terbarunya The Grand Budapest Hotel masih punya hal-hal tadi, keindahan yang rumit dalam petualangan yang bergerak cepat, super sweet and eye-catching a box of cakes. Two thumbs up.  

Movie Review: The Invisible Woman (2013)


“You have been the embodiment of every graceful fancy that my mind has ever become acquainted with.”

Jika suatu saat ketika kisah cinta yang anda miliki telah berjalan dalam hitungan dekade, namun perlahan mulai merasakan bahwa kekuatan cinta itu telah pudar, apa yang akan anda lakukan? Terus memaksakan diri sekalipun faktanya sudah tidak lagi merasakan bahagia, atau justru mengambil langkah berani dengan berlayar dan berlabuh pada sosok baru yang dapat memberikan rasa bahagia tersebut kepada anda. Simple system but seems complicated. Hal tersebut coba digambarkan oleh The Invisible Woman, film kedua Lord Voldemort sebagai sutradara, a sad love story in effective and elegant way. This is a tale of woe. This is a tale of sorrow.

Movie Review: Skyfall (2012)


Dendam tentu saja adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dihapuskan dari memori yang anda miliki. Hanya ada dua opsi, melupakannya dengan ikhlas, atau membalas. M (Judi Dench), dahulu telah melakukan sebuah kesalahan yang merugikan salah satu mantan agennya, Raoul Silva (Javier Bardem). Silva memilih kembali, untuk menghancurkan semua hal yang masih terkait dengan M, termasuk MI6. Sang agen terbaik, James Bond (Daniel Craig), keluar dari tempat peristirahatannya, untuk menyelamatkan M dari ancaman yang dapat menghancurkan dunia.

Movie Review: Coriolanus (2011)


Caius Martius (Ralph Fiennes), seorang Jendral Roma, bersama pasukannya berhasil mengalahkan Volscian yang dipimpin oleh Tullus Aufidius (Gerard Butler). Atas keberhasilannya, Caius diberi gelar kehormatan "Coriolanus”, dan mengajukan diri menjadi konsul. Namun atas skenario yang telah disusun oleh dua pejabat parlemen Roma, Sicinius (James Nesbitt) dan Brutus (Paulus Jesson), Caius justru dimusuhi oleh rakyat. Berjanji akan melakukan nasihat dari Ibunya Volumnia (Vanessa Redgrave) serta istrinya Virgilia (Jessica Chastain) untuk bersikap “manis” terhadap rakyat, Caius justru menyerang pemerintah Roma karena tekanan yang ia terima ketika memberikan pidato. Akibatnya, Caius diasingkan dari Roma, dan di cap sebagai pengkhianat. Merasa tidak dihargai atas perjuangannya selama ini, Caius memutuskan bergabung dengan Volscian, dalam misi menyerang Roma.