Showing posts with label Rose Byrne. Show all posts
Showing posts with label Rose Byrne. Show all posts

Movie Review: Spirited (2022)

“Good Afternoon!”

Sejak terbit 179 tahun yang lalu novel ‘A Christmas Carol’ karya Charles Dickens kabarnya tidak pernah out of print, telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa kisah tentang seorang pria tua kikir dan pelit yang kemudian berpetualang ke masa lalu dan juga masa depan itu juga telah diadaptasi dan didramatisasi berulang kali dalam bentuk film, stage, opera, dan media lainnya. Versi baru muncul secara teratur dari cerita yang melibatkan campur tangan dari The Ghost of Christmas itu, sehingga tidak heran jika hingga kini pun cerita ‘A Christmas Carol’ masih lekat asosiasinya dengan the Christmas season. Versi terbaru ini mencoba mendaur ulang kembali kisah klasik tersebut menjadi sebuah modern retelling bernafaskan musical comedy, with Will Ferrell and Ryan Reynolds. ‘Spirited’: a nifty Christmas karaoke bar.


Review: X-Men: Apocalypse [2016]


"The world needs the X-Men."

Ketika dua tim superhero lain masih bermain-main dengan mediocrity dan elegant, X-Men terus tampil stabil dengan caranya sendiri tanpa disibukkan dengan dua hal tadi. Meskipun tidak selalu sukses untuk bergerak maju sangat jauh namun X-Men film series (selain Deadpool) selalu lebih mampu menjembatani gelap dan terang dari superhero, ia serius tanpa terkesan gelap yang berlebihan, ia playful namun tidak childish dan menggerus sisi super dari karakter. First Class hadir sebagai upaya restart, Days of Future Past melanjutkan proses, dan X-Men: Apocalypse berhasil meneruskan misi tersebut. It’s another style, substance, and sensation from X-Men. Wake your ass up cause it's time to go beast mode!

Review: Neighbors 2: Sorority Rising [2016]


“They’re using their sexuality as a weapon.”

Ketika sebuah studio mengumumkan produksi sekuel dari sebuah film akan muncul pertanyaan dengan jenis yang begitu familiar, seperti mengapa, untuk apa, bahkan fungsinya apa? Maksud dan tujuan sekuel beragam misalnya untuk membuat lebih banyak lagi uang, tapi ada pula niat yang tidak semurah itu seperti ingin mencoba meneruskan cerita, menjawab pertanyaan yang belum terjawab, hingga membuat kemasan yang lebih baik dengan berusaha memperbaiki kelemahan di film terdahulunya. Dua tahun lalu komedi berjudul Neighbors berhasil meraih box office 15 kali lipat dari budget yang ia punya, tapi menariknya kehadiran Neighbors 2: Sorority Rising (Bad Neighbours 2) ternyata tidak semurah sekedar untuk mencoba mengulangi pencapaian tersebut.

Review: The Meddler (2016)


"Mom, don't talk to my friends."

Apakah kesepian dapat menimbulkan rasa depresi yang mendalam? Jawabannya adalah ya, bisa. Ketika kamu mengalami begitu banyak masalah dan mulai terjebak seolah merasa dirimu tidak lagi berarti salah satu jalan terbaik untuk lepas dari situasi tersebut adalah menemukan “udara segar” di dalam kehidupanmu, mencoba menemukan kebahagiaan yang kemudian akan mengganti dan menghapus rasa sepi tadi. The Meddler menampilkan “proses” tadi, dikendalikan oleh sutradara Seeking a Friend for the End of the World berhasil menjadi sebuah petualangan drama dan komedi yang santai namun tetap berisi. 

Review: Adult Beginners (2015)


"Some people just can't handle growing up."

Saya selalu kesal jika ada orang atau sosok yang dari segi umur lebih dewasa dari saya lalu menganggap remeh pendapat bahkan posisi saya dalam sebuah percakapan misalnya hanya dikarenakan umur saya yang lebih muda. Apakah umur menjadi satu-satunya patokan bagi tingkat kedewasaan seseorang? Tidak, karena kamu juga pasti banyak menemukan orang dewasa yang bertindak dan berpikir tidak sama dewasanya dengan umur mereka, begitupula sebaliknya. Itu isu menarik dari film ini, Adult Beginners, bagaimana orang dewasa tidak selamanya otomatis lepas dari status pemula.

Review: Annie (2014)


Ia adalah musikal, ia adalah sebuah film bertemakan keluarga, ia adalah sebuah remake dari film yang sangat dicintai karena rasa imut dan loveable yang ia hasilkan, ia punya jajaran cast yang tampak menjanjikan, ia juga dipilih untuk rilis menjelang liburan akhir tahun yang jelas menjadi periode sangat menjanjikan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan sahabat. So, sangat mudah untuk menilai Annie sebagai sebuah kemasan yang menjanjikan untuk dinikmati, namun hasil yang ia berikan jauh berbeda. Outstanding misfire.

Review: This Is Where I Leave You (2014)


"It's hard to see people from your past when your present is so cataclysmically screwed up."

This is where we bond. This is where we love. This is where we share. This is where we connect. This is where we gossip. This is where we vent. This is where we accept. This is where we remember. This is where we grow up. This is where we trust. So, This Is Where I Leave You.

Movie Review: Neighbors (2014)



"We're throwing a Robert De Niro party."

Neighbors, yang juga dirilis dengan nama Bad Neighbours secara Internasional, adalah film komedi yang ternyata menampilkan keunikan bukan hanya pada jajaran cast yang ia punya. Ada kombinasi yang kasar, Zac Efron yang telah menjadi bagian dari ikon romance di kalangan young adult, Rose Byrne yang mulai klik dengan komedi setelah sebelumnya lebih sering bermain di drama dan juga misteri, dan ada si gila Seth Rogen dengan suara beratnya. Disamping itu Neighbors secara mengejutkan berhasil menggabungkan salah satu hal yang sulit diharapkan dari sebuah film komedi, humor tajam dan total dengan keterlibatan sedikit wawasan didalamnya.    

Movie Review: Insidious: Chapter 2 (2013)


"In my line of work things tend to happen when it gets dark."

Berhasil meraih pendapatan 60 kali lipat dari budget yang ia miliki, hanya orang bodoh dalam dunia industri perfilman yang tidak mau meneruskan film tersebut, dengan opsi lain ia mungkin sudah kehilangan cinta. Yap, mungkin ini adalah alasan dimana Paranormal Activity series yang selalu sukses melakukan sulap tersebut memutuskan absen tahun ini, mereka sudah mulai kehilangan cinta dari penonton, memberikan ruang atau mungkin menyerahkan tongkat estafet kepada Insidious: Chapter 2, another financial success, tidak berhasil mengulangi apa yang pendahulunya pernah lakukan dalam hal kualitas.

Movie Review: The Internship (2013)


Apakah anda pernah berpikir bahwa Tuhan memasukkan anda kedalam dunia tanpa membekali anda satu kemampuan sama sekali? Syukurlah jika jawabnya adalah tidak, karena semua individu penghuni bumi yang berjumlah tujuh milyar lebih itu pasti punya kemampuan ataupun keahlian. Sumber dari semua masalah yang ada sebenarnya apakah skill yang mereka miliki dipergunakan dengan tepat? The Internship, cukup menghibur, bukti dari prinsip manajemen untuk meraih kesuksesan, the right man in the right place.

Movie Review: The Place Beyond the Pines (2012)

 
“If you ride like lightening, you’re gonna crash like thunder.”
Hal ini memang tidak ada kaitannya dengan film yang saya review sebelumnya, namun dengan nama yang sedikit lebih panjang The Place Beyond the Pines ternyata punya tujuan yang secara garis besar sama saja dengan apa yang disampaikan oleh Side Effects, sebuah efek samping yang dihasilkan dari sesuatu yang tidak baik. Punya pesan menarik yang sederhana, diulas dalam tiga buah cerita dengan rentang waktu satu setengah dekade, lebih luas, lebih tenang, dan tentu saja lebih panjang.