Showing posts with label Tom Hanks. Show all posts
Showing posts with label Tom Hanks. Show all posts

Movie Review: Elvis (2022)

“That skinny boy in the pink suit, transform into a superhero.”

Dijuluki sebagai the "King of Rock and Roll", Elvis Aaron Presley, atau Elvis, dianggap sebagai salah satu tokoh budaya yang paling signifikan abad ke-20, dan ada banyak alasan (still) the best-selling solo music artist itu masih sangat dipuja hingga kini. Tidak hanya karena musiknya yang energik saja namun pelopor rockabilly itu juga dianggap berperan sebagai ice breaker yang memulai social and cultural revolution, mendorong rock and roll tidak hanya sebatas sebuah musical genre bagi kalangan tertentu saja tapi juga memiliki pengaruh besar pada lingkup yang lebih luas, salah satunya memadukan the styles of white country, black rhythm, and blues. Mencoba mengikuti kesuksesan ‘Bohemian Rhapsody’ and well, ‘Rocketman’, kini Sutradara film ‘Romeo + Juliet’ mencoba menunjukkan bahwa Elvis’s life is a story worth telling. ‘Elvis’: high-gloss and horny biopic.


Movie Review: Finch (2021)

“I wish I'd done more with the time I had.”

Setelah season kedua ‘See’ Apple TV+ langsung menambah daftar serial sci-fi milik mereka dengan Foundation, Invasion dan Dr. Brain, di mana judul terakhir menjadi the first Korean-language show produced for Apple TV+. Dan kurang dari tiga bulan film ini menjadi entri terbaru daftar tersebut, sebuah science fiction drama yang sebelumnya dikenal dengan judul ‘BIOS’, mencoba bercerita tentang sesuatu yang kurang umum di film post-apocalyptic science fiction: humanity, the meaning of life. From the Director of 'Game of Thrones' comes the best "low-key" sci-fi after 'Ex Machina'. ‘Finch’ : a touching science fiction fable. (Warning: the following post might contains mild spoilers)


Movie Review: News of the World (2020)

“This child is not for sale.”

Jason Bourne tentu sangat mudah untuk disebut sebagai sahabat dekatnya, dan dari tangannya pula kita dapat menyaksikan film yang berkisah tentang pembajakan pesawat yang menabrak gedung WTC di 11 September 2001 serta pembajakan kapal oleh bajak laut Somalia. Paul Greengrass dan image yang lekat dengan Sutradara satu ini adalah thrill oktan tinggi bersama shaky cam sehingga tidak heran kejutan yang ia tampilkan di film terbarunya ini terasa sangat memorable, penonton tidak ia pacu namun berhasil ia paku sejak awal hingga akhir menyaksikan perjalanan dua orang yang “hilang” itu. ‘News of the World’ : a loosely dry but casually charming drama.


Movie Review: Greyhound (2020)


“Aye, aye, sir. Captain has the conn.”

Film ini memiliki durasi yang terhitung cukup kecil untuk ukuran film bertemakan peperangan dan mengangkat kisah perjuangan di medan perang, dari prolog hingga berakhir di epilog secara kasar berada di kisaran 80 menit. Padahal ceritanya sendiri tidak sederhana, ini adalah tentang pertempuran paling lama di saat Perang Dunia II, yaitu Pertempuran Atlantik, menaruh fokus pada perjalanan 37 buah kapal menuju Liverpool di dalam sebuah konvoi (convoy HX-25) yang dipimpin sebuah kapal dengan radio call sign: Greyhound. Hasilnya? Menarik. ‘Greyhound’: a “wise as a serpent, harmless as a dove” war film.

Movie Review: A Beautiful Day in the Neighborhood (2019)


“There is no normal life that is free from pain.”

Tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang setiap manusia pasti akan berada pada kondisi di mana mereka tidak dapat mengatur atau mengendalikan emosi maupun tekanan yang berasal dari berbagai hal yang mereka temui di dalam kehidupan. Terkadang kita dapat emosi lalu kemudian merasa kesal pada satu hal sederhana, terkadang kita juga merasa angkuh atau egois untuk mengalah atau sekedar meminta maaf karena merasa terlalu gengsi misal. ‘A Beautiful Day in the Neighborhood’ : an uplifting therapy.

Movie Review: Toy Story 4 (2019)


“To infinity...and beyond.”

Salah satu rasa cemas terbesar dari ide kemunculan ‘Toy Story 4’ yang mencoba kembali menyapa para penonton adalah: apakah perlu? Tiga film sebelumnya telah berhasil menjadi sebuah rangkaian yang sangat baik bagi kisah para mainan tersebut, dari kisah tumbuh menjadi dewasa hingga rasa sakit dari sebuah perpisahan. Namun ternyata dengan cerdik ‘Toy Story 4’ berhasil diramu menjadi sebuah proses lanjutan dari “kehidupan” Woody dan kawan-kawannya. ‘Toy Story 4’ : another "beautiful" goodbye.

Movie Review: Inferno (2016)


"We're a minute to midnight."

Jika berbicara tentang petualangan Professor Robert Langdon baik itu di novel maupun dua film sebelumnya, ‘The Da Vinci Code’ serta ‘Angels & Demons’ maka lukisan dan kanvas kosong merupakan dua hal paling identik dengannya, dari misteri, simbol, dan tentu saja Langdon serta karakter lainnya, mereka ibarat kuas dan warna yang digunakan untuk mencoba memberi “kehidupan” pada kanvas yang kosong tadi. Hal tersebut kembali coba dilakukan Langdon di film ini, ‘Inferno’, sebuah usaha mewarnai kanvas kosong dengan berbagai misteri di mana kali ini dia dihadapkan pada sebuah problema yang dapat menciptakan sebuah malapetaka besar. Inferno: a floating, frenetic, plus fun seek and find.

Movie Review: Sully (2016)


"This is the captain, brace for impact."

Salah satu bagian penting dari cerita pada sebuah film adalah seberapa baik atau besar kualitas yang dimiliki oleh konflik atau masalah yang terkandung di dalamnya lalu kemudian bagaimana cara filmmaker menggunakan atau memainkan konflik tersebut untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ya, kualitas di atas kuantitas. So, apa yang dapat dihasilkan oleh sebuah film yang mencoba menggambarkan sebuah insiden jatuhnya pesawat terbang yang melakukan pendaratan darurat di atas sebuah sungai di mana ketika peristiwa tersebut berlangsung pesawat berada di udara hanya selama 208 detik? Tantangan tersebut berhasil dieksekusi dengan baik oleh sutradara Unforgiven, Mystic River, Million Dollar Baby, Letters from Iwo Jima, dan American Sniper. Sully: the art and a triumph of dramatization.

Review: A Hologram for the King (2016)


"I’ve lost direction I think."

Menggoda penonton dengan masalah yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh karakter yang ia punya merupakan hal yang mudah untuk dilakukan semua film. Yang sulit adalah dengan stabil serta dalam komposisi yang tepat terus menggoda penonton sejak awal hingga akhir. Kegembiraan yang diberikan sebuah film tidak hanya berasal dari seberapa menarik dasar masalah yang ia punya di bagian cerita, tapi bagaimana dasar masalah tadi berubah menjadi banyak hal menarik yang bersifat saling melanjutkan bukan saling menggantikan. From the director of Run Lola Run, Perfume: The Story of a Murderer, Cloud Atlas, and Sense8, here comes A Hologram for the King, an engaging journey which feels like a blank space.

Review: Bridge of Spies (2015)


"We have to have the conversations our governments can't."

Bridge of Spies adalah sebuah film “dingin” yang menyenangkan. Seperti judul yang ia gunakan isinya seputar aksi spy tapi ketimbang menghibur kamu dengan ledakan besar ia lebih memilih untuk menjadi sebuah kemasan yang lebih kalem, sebuah drama thriller yang lebih renyah namun tetap menghasilkan punch yang memikat di akhir cerita. Steven Spielberg dinilai sebagai sutradara film terbesar sepanjang masa, dan Bridge of Spies menjadi entry terbaru yang semakin menguatkan penilaian tadi. Personally, for me ini film terbaik Steven Spielberg setelah Schindler's List, a triumph of filmmaking.

Movie Review: Saving Mr. Banks (2013)


"You don't know what she means to me." 

Tidak dapat dipungkiri pasti ada memori kelam dari masa lalu yang masih sangat sulit untuk anda lupakan, kebanyakan dari mereka berasal dari benda-benda kenangan yang masih menyimpan makna dari peristiwa tersebut. Bagaimana cara keluar dari problema tersebut? Saving Mr. Banks coba menggambarkan situasi tersebut, kisah yang bercerita dengan sangat tenang, namun punya salah satu performa paling kuat di tahun ini.     

Movie Review: Captain Phillips (2013)


"They're not here to fish."

Semua genre film tentu saja punya cara sendiri untuk memberikan penontonnya sebuah pengalaman menonton yang menyenangkan, namun jika harus memilih yang terbaik ketika mereka semua berhasil berada di titik tertinggi, maka jawabnya adalah thriller. Ia seperti kesatuan yang terus menyatu sejak awal hingga akhir, dan kesalahan kecil saja bisa berakhir runyam. Captain Phillips punya hal tersebut, dengan sosok dalang dibalik The Bourne Ultimatum dan The Bourne Supremacy, tapi sayangnya justru menjadikan A Hijacking tampak seperti sebuah kemasan sederhana yang megah.  

Movie Review: Cloud Atlas (2012)


“Our lives are not our own. From womb to tomb, we are bound to others. Past and present. And by each crime and every kindness, rebirth our future.” Sebuah kalimat yang sangat menusuk, seolah menjadi tamparan halus dari Cloud Atlas kepada penontonnya ketika ia hadir menjelang akhir dari film ini. Jangan hanya lakukan apa yang bisa anda lakukan hari ini, lakukan yang terbaik untuk anda di esok hari, jika anda percaya ada reinkarnasi setelah anda mati.