Showing posts with label Vin Diesel. Show all posts
Showing posts with label Vin Diesel. Show all posts

Movie Review: F9 (2021)

“Be precise in life.”

Saya merupakan salah satu penggemar franchise ini dan menganggap bahwa film ke enam merupakan puncak terbaik mereka, yang tentunya akan terasa manis jika niat closing di film ketujuh yang lalu itu benar-benar terjadi. Tapi sayangnya sejak itu muncul jargon “one last ride” yang lantas menjadi titik awal berkembangnya the Fast & Furious franchise jadi semakin luas dan besar. Secara komersial kesuksesan masih konsisten diraih, film ketujuh bahkan sempat menempati posisi empat dalam daftar film dengan penghasilan kotor tertinggi sepanjang masa, tapi jika berbicara tentang kualitas resep baru justru membuat aksi yang dipimpin Dominic Toretto itu menjadi semakin absurd. F9 : an overstep quasi-superhero blockbuster.


Review: xXx: Return of Xander Cage [2017]


"Damn, it feels good to be back."

Ketika ia membintangi ‘XXX’ hampir satu setengah dekade yang lalu mungkin karakter Xander Cage tampak kurang potensial sehingga tidak berada di dalam daftar prioritas yang Vin Diesel miliki. Alhasil pada sekuel yang rilis pada tahun 2005 karakter Xander Cage tidak kembali di mana posisi Vin digantikan oleh Ice Cube. Ya, mungkin setelah posisinya yang kini dapat dikatakan sedang hot setelah sukses besar Fast & Furious dan menjadi bagian dari Marvel Cinematic Universe Vin Diesel kemudian berpikir untuk kembali mencoba peruntungannya dengan karakter Xander Cage. Hasilnya, the return of Xander Cage! Pertanyaannya adalah is there still some magic left with xXx franchise?

Review: Billy Lynn's Long Halftime Walk (2016)


"It’s really good to have you back, little brother."

Kurang lebih empat tahun lalu Peter Jackson mencoba menciptakan gebrakan baru dengan The Hobbit: An Unexpected Journey yang menggunakan frame rate shooting dan proyeksi 48 fps, teknologi “High Frame Rate” yang juga ingin digunakan oleh James Cameron pada sekuel Avatar. Belum semua bioskop “mampu” mengakomodasi teknologi tersebut sehingga film dikonversi ke 24 fps, namun kemudian muncul Ang Lee yang mencoba melipatkan gandakan pencapaian Peter Jackson tadi dengan Billy Lynn’s Long Halftime Walk yang menggunakan HFR 120 fps in 3D at 4K HD resolution. One day teknologi itu akan menjadi hal yang umum di industri film, but for now? It’s a composed and flashy but flimsy and fake-ish drama.

Movie Review: Fast & Furious 7 (2015)


"This time it ain't just about being fast."

Sebagai pembuka mari simak beberapa kalimat dari bintang utama Fast & Furious berikut ini: “Universal is going to have the biggest movie in history with this movie”, “It will probably win best picture at the Oscars, unless the Oscars don’t want to be relevant ever”, “This will win best picture”, “There is nothing that will ever come close to the power of this thing.” Well, cara yang sangat baik untuk membangun hype Mister Vin, tapi jika pernyataan tersebut anda kemukakan pada tanggal 1 April mungkin “boomerang” yang hadir akan dengan sangat mudah untuk anda tangkap kembali. Fast & Furious 7: one last ride who love to be rushing, and love to be dragging.

Movie Review: Guardians of the Galaxy (2014)


"We're the fricking Guardians of the Galaxy!"

Jika harus memilih studio di industri perfilman yang memiliki rasa percaya diri sangat tinggi sekarang ini, merupakan sebuah kesalahan besar jika tidak memasukkan Marvel Studios di dalamnya, sejak 2008 berhasil menjadikan Iron Man, Thor, dan Captain America begitu digilai oleh penonton tanpa harus kehilangan misi lain pada sisi finansial. Yap, dibawah komando Kevin Feige mereka kini telah menjadi  one to beat di sektor hiburan superhero yang mulai menjamur itu, dan film terbarunya ini kembali membuktikan serta memperkuat status tersebut. From the studio that brought you The Avengers, behold and please welcome, Guardians of the Galaxy, a Groot summer flick.

Review: Guardians of the Galaxy (2014)


"They call themselves the Guardians of the Galaxy. | What a bunch of a-holes."

Saat pertama kali Marvel mengumumkan akan hadirnya Guardians of the Galaxy yang terlintas di pikiran saya waktu itu adalah pertanyaan “untuk apa?” Mereka sudah punya The Avengers, empat diantara anggota tim itu bahkan sudah punya film mandiri masing-masing. Sempat pesimis pada film ini dengan penilaian ini hanya upaya Marvel untuk meraih keuntungan semata, tapi kalau kamu punya pemikiran yang sama segera buang jauh-jauh hal itu, karena dengan konsep yang jauh lebih ringan Guardians of the Galaxy berhasil menjadi film terbaik Marvel setelah The Avengers, bahkan nearly side by side. 

Movie Review: Riddick (2013)


“You keep what you kill.”

Vin Diesel adalah aktor yang menyandang status sulit. Sulit untuk membencinya, ia mampu menjadikan Xander Cage, Toretto, hingga Riddick menjadi karakter yang ikonik, namun sulit pula untuk benar-benar mencintai kualitas aktingnya karena ia seperti tidak mampu untuk mencoba naik ke level yang lebih tinggi dari yang telah ia raih sekarang, seperti terjebak dalam tiga karakter tadi. Hal tersebut yang kemudian menimbulkan pertanyaan kehadiran Riddick, sudah tertidur Sembilan tahun, apakah masih penting? Atau sebagai tanda bahwa Vin Diesel sudah kehabisan karakter? 

Movie Review: Fast & Furious 6 (2013)

 

"You don't turn your back on family, even when they do"

Hal ini tentu saja bersifat subjektif, dimana setiap orang akan memiliki penilaian yang berbeda tergantung pada sudut pandang yang mereka gunakan hingga selera yang mereka punya. Bagi saya, Fast and the Furious adalah salah satu film series yang sejauh ini terus menampilkan sebuah perkembangan kearah positif di tiap film terbarunya. Fast & Furious 6 bahkan seolah menjadi sebuah pion yang digunakan oleh series ini untuk menunjukkan bahwa upaya mereka belum berhenti untuk mencoba menuju titik puncak.