10 July 2014

Review: Oculus (2013)


"You see what it wants you to see."

Hal sederhana yang terkesan rumit ini tentu saja tidak dilakukan oleh semua orang, tapi pasti ada penikmat film yang memiliki standard pribadi pada tiap genre film yang ditontonnya, sebuah standard yang ikut mempengaruhi hasil yang ditelurkan oleh rekan-rekan satu alirannya yang terbaru. Film ini menjadi salah satu korban dari aturan main tadi, Oculus, just a decent horror.

Seorang wanita muda bernama Kaylie Russell (Karen Gillan) memperoleh kesempatan untuk mewujudkan salah satu ambisi pribadinya yang selama ini terpendam, mencari tahu alasan dari sebuah tragedi yang menimpa kedua orang tuanya, Alan (Rory Cochrane) dan Marie (Katee Sackhoff). Objek yang menjadi sumber rasa penasaran itu adalah sebuah cermin tua berukuran besar yang menurutnya memiliki sebuah kekuatan magis yang dahulu menghadirkan masalah didalam keluarganya.

Momen yang juga bertepatan dengan kehadiran adiknya, Tim (Brenton Thwaites), yang baru keluar dari rumah sakit jiwa dimanfaatkan oleh Kaylie untuk melakukan test menggunakan teknologi terkini, merekam cermin tersebut menggunakan kamera dari berbagai angle dengan harapan dapat memperoleh clue yang mendekatkan mereka pada sebuah jawaban. Celakanya yang terjadi justru sebaliknya, disertai berbagai gesekan mereka perlahan terjebak kedalam masa lalu kelam tadi.


Imo salah satu syarat dari sebuah film yang baik adalah film tersebut mampu menarik penontonnya masuk kedalam cerita dan terlibat bersama karakter dan masalah yang mereka punya, dan Oculus sangat lemah di bagian ini. Sangat disayangkan karena petualangan sederhana yang ditulis oleh sang sutradara Mike Flanagan bersama dengan Jeff Howard ini pada dasarnya juga punya sedikit nafas psychological dalam ceritanya, mengunci karakter dalam luas yang terbatas dan mulai memutar-mutar mereka dengan berbagai hal-hal familiar yang tentu saja dapat dimaafkan dengan sangat mudah. Masalahnya adalah tidak ada sensasi disini.

Bukan berarti ia buruk, saya bahkan suka dengan cara yang digunakan oleh Mike Flanagan dalam memadukan berbagai fomula standard sebuah film horror lengkap dengan kejutan-kejutan yang beberapa diantaranya tidak dapat dipungkiri sukses memberikan kejutan menarik. Permainan gambar bersama dengan score yang efektif, dan memadukan mereka bersama teka-teki yang dilebarkan dengan baik serta disusun dengan cukup rapi yang meskipun terkesan kurang berani berhasil membuat penontonnya tertarik untuk mencari tahu apa yang terjadi didalam cerita. Yang kurang dari Oculus adalah ia terasa lemah pada jualan utama sebuah film horor, rasa takut.


Oculus punya grafik yang menurun, diawal ia punya pesona dengan segala potensi dari sinopsis yang memadukan past dan present, tapi ketika semua masalah bersama dengan karakter sudah terjebak didalam satu arena pesona itu juga ikut terjebak dan mulai terlupakan. Tidak ada dinamika yang bertenaga disini, mulai berputar-putar mencari jalan keluar dengan terus menghadirkan momen-momen yang seolah-olah mencoba menjadi alarm untuk membuat penontonnya waspada namun ketika ia datang mayoritas terasa biasa. Materi yang monoton tentu merupakan hal yang biasa, namun sayangnya Mike Flanagan juga ikut membentuk materi tadi dengan rasa monoton yang sama besarnya. 

Terlalu adem, terlalu tenang, Oculus hampir serupa dengan Insidious: Chapter 2 yang terasa lemah pada kemampuan yang ia punya dalam menebar terror kepada penontonnya. Maksud dari Mike Flanagan untuk menjadikan penonton ikut mengalir dengan tenang bersama cerita dan kemudian menyuntikkan surprise kedalamnya tidak banyak yang berhasil. Fokus dari Mike Flanagan seperti terpecah untuk menjaga agar cerita terbentuk dengan baik, hasilnya kualitas dari atmosfir cerita yang ia bentuk terasa campur aduk dan tumpang tindih, terlebih dengan kurang menariknya bagian present pada cerita sehingga perlahan menggerus makna utama dari pencarian yang dilakukan karakter.

Kurang mampunya Mike Flanagan memanfaatkan ruang sempit yang ia ciptakan untung saja tidak dimiliki oleh divisi akting. Tidak kuat memang tapi kinerja para aktor terasa efektif terutama pada kemampuan mereka menjadikan misteri pada cerita memiliki sebuah pertanyaan yang menarik. Karen Gillan mampu menjalankan tugasnya sebagai penggerak utama cerita meskipun kurang sukses menjaga daya tarik dari pencarian yang ia lakukan. Rory Cochrane dan Katee Sackhoff  juga tampil cukup baik karena berhasil menjadikan kisah masa lalu mencuri posisi terdepan cerita, begitupula dengan bantuan efektif dari Garrett Ryan dan Annalise Basso.


Overall, Oculus adalah film yang cukup memuaskan. Oculus adalah sebuah horror ruang sempit yang potensial namun sayangnya harus rela kehilangan pesona yang ia punya karena dinamika cerita yang terasa monoton, ia tidak mampu memberikan terror yang menyenangkan akibat fokus yang terlalu besar dalam menjaga cerita untuk terus mempermainkan pikiran penontonnya. Menakutkan? Tidak. Menjengkelkan? Tidak. Menyenangkan? Cukup.  







0 komentar :

Post a Comment