Showing posts with label Chris O'Dowd. Show all posts
Showing posts with label Chris O'Dowd. Show all posts

Movie Review: Miss Peregrine's Home for Peculiar Children (2016)


"These children must be as crazy as their headmaster."

Sebelum dipoles oleh Christopher Nolan dan kemudian dibawa bertemu berbagai “kebisingan” oleh Zack Snyder karakter Batman dan dunia yang ia punya di layar lebar pernah identik dengan gloomy but artsy, a wicked world of misfits and psycho yang bergembira layaknya sebuah fashion show, style over substance di tangan Tim Burton yang gemar bergembira bersama horror, playfulness, dan tentu saja visual. Mengacu pada tiga hal terakhir tadi dapat dikatakan kombinasi novel ‘Miss Peregrine's Home for Peculiar Children’ dan Tim Burton merupakan match made in heaven, sebuah fantasy berisikan tragedi dan simpati dipenuhi karakter unik dan aneh seperti kombinasi antara Harry Potter dan X-Men. Apakah ini “match” atau“miss”? Miss Peregrine's Home for Peculiar Children: a robotic fantasy.

Review: The Program [2015]


"Attack without mercy, keep your head down and don't look back."

Dari kesuksesan mengalahkan kanker ganas hingga menjadi juara dunia balap sepeda dengan pencapaian tujuh gelar bergengsi Tour de France secara berturut-turut, sulit untuk tidak mengagumi sosok bernama Lance Armstrong, ikon besar di dunia balap sepeda yang sama seperti Michael Phelps di olahraga renang prestasi yang ia capai begitu mudah meninggalkan impresi “too good to be true” bagi penonton dan mulai mempertanyakan bakat miliknya. The Program mencoba menggambarkan sosok yang berhasil mengubah rasa kagum menjadi shock besar di tahun 2012 yang lalu ini, saint to sinner, sebuah "kecurangan" besar dalam sejarah olahraga.

Review: St. Vincent (2014)


"Some people get better with age. Vincent is not one of them."

Dari judulnya saja film ini mungkin telah berhasil memberikan kesan aneh dan unik pada penontonnya, St. Vincent, Vincent sosok yang suci? Celakanya hal tersebut seperti sebuah sentilan manis yang sejak kehadirannya di bagian awal tidak pernah berhenti membuat penontonnya tersenyum hingga akhir, kemasan yang tidak mencoba terlalu kuat untuk terasa pintar namun dengan cara yang pintar berhasil memberikan sebuah hiburan komedi yang kuat. Another Golden Globe nomination for Peter Venkman? I gotta feeling.

Movie Review: Calvary (2014)


"Not everyone can carry the weight of the world!"

Selalu ada keunikan dari sebuah film yang di awal melemparkan sebuah konflik utama dan kemudian memberikan penontonnya banyak masalah-masalah skala kecil baru untuk datang menyokong atau menemani main issue tadi. Menjadi variatif dan berwarna, film ini mampu menghadirkan hal tersebut dalam sebuah petualangan sederhana yang sayangnya terasa sedikit “gemuk”. Calvary, haunting soul and faith destruction in a good & weird way.

Movie Review: The Double (2013)


"I'm like Pinocchio. I'm a wooden boy."

Keberhasilan itu datang dari usaha kita sendiri, bukan dari pemberian orang lain. Terkadang rasa ragu dan takut yang sering kali menjadi penghalang terwujud kalimat tadi, sikap tidak berani mengambil aksi yang justru menciptakan ruang dan kesempatan yang dapat dimanfaatkan oleh orang lain, dan memberikan dampak buruk bagi kita. Isu tersebut yang coba dibawa oleh film ini dengan mengandalkan mitologi doppelganger yang konon menjadi pertanda sebuah bad luck, dikemas dengan serius dan santai bersama komedi dan drama percintaan. The Double, a creepy and funny psychological (and maybe love) story.

Movie Review: Epic (2013)


Film ini seperti tidak perlu sebuah upaya yang begitu besar untuk meyakinkan para calon penontonnya. Trailer yang dibentuk cukup menjanjikan, jajaran pengisi suara yang dengan mudah akan mencuri perhatian dari Pitbull hingga Steven Tyler, hingga judul yang ia usung, seperti menunjukkan sebuah rasa percaya diri yang begitu tinggi pada kualitas paket yang ia miliki. Namun Epic bukan karya DreamWorks, apalagi Pixar. Blue Sky Studios, mereka (hanya) punya Rio yang menarik, selain itu hanya ada Ice Age series yang kita tahu bersama kualitasnya.

Movie Review: The Sapphires (2012)


90% of all recorded music is shite, the other 10% is soul. Di tahun 1968, sebuah kelompok terdiri dari tiga orang wanita Aborigin Australia membuktikan hal tersebut. Berasal dari keluarga dengan perekonomian yang rendah, mereka mencoba peruntungan dengan memanfaatkan skill utama yang mereka miliki, bernyanyi. Diluar ekpektasi awal, mereka justru mendapatkan sebuah perjalanan luar biasa, yang bahkan membawa mereka menuju Vietnam.

Movie Review: Friends With Kids (2012)


Friends with kids, memiliki anak dengan seorang teman. So what?? Jelas hal yang lumrah, jatuh cinta kepada teman dan akhirnya memutuskan untuk menjalin cinta, menikah, dan memiliki anak. Tapi tunggu dulu, kondisi itu tidak sepenuhnya berlaku di film ini. Suatu ketika timbul keinginan dari Julie Keller (Jennifer Westfeldt), yang merupakan sahabat dekat Jason Fryman (Adam Scott), untuk memiliki anak. Namun setelah melihat kondisi rumah tangga dari keempat teman dekat mereka yang telah memiliki anak, Ben (Jon Hamm) – Missy (Kristen Wiig) dan Alex (Chris O'Dowd) – Leslie (Maya Rudolph), muncul keraguan dalam diri Julie. Tetapi Jason memiliki ide yang lebih baik bagi mereka berdua.