Di
awal debutnya lewat film ‘Lock, Stock and
Two Smoking Barrels’ sutradara Guy
Ritchie mencuri perhatian dengan “style”
yang ia tampilkan, menaruh crime sebagai genre utama lalu membekali
karakter-karakter menarik dengan dialog cepat dan black humor. Sejak 2009 yang lalu ia sedikit “bergeser” dengan
menyutradarai film-film seperti Sherlock
Holmes, The Man from U.N.C.L.E., hingga yang terbaru Aladdin. Kini Guy Ritchie kembali, menghadirkan crime comedy yang mengingatkan penonton
pada film-filmnya dahulu. ‘The Gentlemen’
: when Guy Ritchie did Guy Ritchie.
Showing posts with label Hugh Grant. Show all posts
Showing posts with label Hugh Grant. Show all posts
Review: Florence Foster Jenkins (2016)
Apakah sikap menyerah
merupakan sebuah pilihan? Mungkin iya, mungkin tidak, semua tergantung pada
seberapa besar dan keras niat serta usaha yang kamu miliki untuk mencapai apa
yang kamu inginkan. Hal tersebut yang coba digambarkan oleh film ini, Florence Foster Jenkins, karya terbaru
dari sutradara Dangerous Liaisons, High
Fidelity, The Queen, dan Philomena dengan
menggunakan sebuah kisah nyata tentang seorang wanita yang kurang paham pada
nada dan irama namun ingin menjadi seorang penyanyi. It’s a good enough boat for Meryl Streep to slaying awards season
later.
Review: The Man from U.N.C.L.E. (2015)
"And remember, take it like a pussy."
Setelah Kingsman: The Secret Service memberikan petualangan energik
yang mempesona penonton dengan aksi “kurang ajar” yang ia miliki, Spy dengan segala kekonyolannya yang
mampu memberikan tawa konstan, serta Mission: Impossible – Rogue Nation yang terus mencoba membawa penontonnya ke dalam
ketegangan, mari sambut satu lagi film bertemakan mata-mata di tahun 2015
sebelum akhirnya di tutup oleh film James
Bond terbaru, Spectre, di akhir
tahun nanti. The Man from U.N.C.L.E.,
punya action dalam visual menyenangkan yang coba ia gabungkan bersama komedi, kombinasi antara James Bond
dan Austin Powers yang, tidak buruk.
Review: The Rewrite (2014)
Film terbaru dari penulis Miss Congeniality ini adalah sebuah hiburan yang licik, ia seperti
tahu apa saja materi yang dapat ia manfaatkan untuk menarik perhatian penonton,
kemudian mempertahankan atensi mereka, semua untuk melindungi berbagai
kelemahan yang ia miliki. Hasilnya tidak begitu buruk, ia standard bahkan
terasa sangat lunak, tapi at least The
Rewrite mampu memberikan sebuah rom-com klise dan klasik yang cukup
menghibur di beberapa bagian kecil.




%2Bposter.jpg)