Showing posts with label John Leguizamo. Show all posts
Showing posts with label John Leguizamo. Show all posts

Movie Review: Encanto (2021)

“We can’t hurry the future.”

Disney adalah? Mungkin tidak akan menjadi jawaban tertinggi, bisa saja mayoritas akan menjawab Disneyland, atau Mickey Mouse, atau Cinderella Castle yang akan muncul di bagian pembuka film-filmnya. Tapi salah satu dari jawaban pasti akan ada magic, seperti yang pernah saya mention pada beberapa review sebelumnya bahwa Disney already has their own magic also tried-and-tested ingredients, so tinggal bagaimana para sineas yang mereka tunjuk kemudian meramu dan mengolah materi baru agar dapat “hidup” di dalam formula milik Disney itu. Centered on a Latino family film ini kembali mendorong isu sederhana namun luar biasa, arti penting keluarga, disajikan dalam bentuk musical of course with Disney's magic. ‘Encanto’: enchanting.


Review: John Wick: Chapter 2 (2017)


“You think he will stop now?”

Rilis pada bulan Oktober ‘John Wick’ berhasil menjadi salah satu the biggest surprise of the 2014 film year, sebuah sajian action dengan staging yang terasa stylish berlandaskan formula yang sangat sederhana, yaitu aksi balas dendam. Tidak hanya a lot of fun yang hadir pada show of force dari Jonathan tersebut namun juga berbagai surprises yang sama seperti ‘The Raid’ sukses membuat genre action seperti terasa segar kembali. Masalah ternyata belum selesai bagi Mister Wick, ‘John Wick: Chapter 2’ membawanya kembali ke dalam berbagai masalah yang seolah menjadi escalation dan transisi bagi franchise. It’s still slick, but how about the surprises?

Review: The Infiltrator (2016)


“One wrong move and we’re dead!”

Tidak peduli seberapa sederhana atau klasik materi yang ia miliki selalu menarik menyimak kemana hal tersebut akan dibawa oleh sang sutradara dan penulis naskah. Hal wajib yang harus mereka lakukan adalah tidak hanya membuat penonton mengerti intention atau tujuan yang terkandung di dalam cerita tapi juga mengolah cerita tersebut untuk mencapai hasil akhir sesuai atau setidaknya tidak begitu jauh dari potensi maksimal. Hal tersebut merupakan “impresi” paling kuat yang ditinggalkan oleh film ini, menggunakan upaya penyamaran untuk masuk ke dalam sebuah dunia kriminal yang berbahaya ‘The Infiltrator’ is a “mild” crime drama with award-worthy performances.

Movie Review: Ice Age: Collision Course [2016]


"We look so cool, like a ninja."

Secara logika jika kamu masih berhasil memperoleh keuntungan dari produk atau jasa yang kamu hasilkan atau lakukan sebenarnya wajar jika kamu tidak berniat untuk melakukan sebuah perubahan. Mencoba menjadi lebih baik tapi dengan risiko merugi atau meneruskan formula yang sama dan telah terbukti menguntungkan? Sudah sejak film kedua Blue Sky Studios menerapkan cara opsi pertama, recycling terhadap Ice Age dengan mengandalkan pesona karakter dengan aksi hyperactive mereka. Tiga film penerus Ice Age sebelumnya tidak semuanya terasa kurang menyenangkan, namun mayoritas dari mereka tidak berhasil berada di level yang sama dengan Ice Age. Ice Age: Collision Course?

Review: American Ultra (2015)


"He killed two operatives with a spoon, sir."

Apakah kamu mengakui eksistensi sebuah perasaan yang disebut guilty pleasure? Contohnya ketika selesai menyaksikan sebuah film kamu akan menilai ia sebagai hiburan yang tidak istimewa, konyol, bahkan bodoh, tapi disisi lain kamu juga puas dengan sensasi atau hasil yang diberikan oleh film tersebut. Seperti itulah American Ultra ini, petualangan liar yang konyol, bodoh, tidak istimewa, namun anehnya mampu menghibur dan tidak menyebalkan. An enjoyable mess.

Review: Cymbeline (2015)


“Where is our daughter?”

Membentuk kembali Shakespeare's plays kedalam tampilan baru merupakan sebuah pekerjaan yang tidak mudah apalagi ketika ia tidak hanya dibentuk ulang namun diterjemahkan dan di modifikasi kedalam bentuk yang sedikit berbeda. Perlu sensitifitas yang begitu tinggi untuk dapat berhasil melakukan hal tersebut dengan baik, Kenneth Branagh berhasil melakukan itu di Henry V dan Hamlet, Joss Whedon dengan Much Ado About Nothing, serta Ralph Fiennes juga oke membentuk kembali Coriolanus, meskipun disisi lain tidak sedikit pula yang gagal atau kurang berhasil salah satunya play Romeo and Juliet, dan yang terbaru, Cymbeline.

Movie Review: Chef (2014)


"Starting from scratch never tasted so good."

Meskipun kecil Chef bukan sebuah langkah mundur dari Jon Favreau setelah sebelumnya menjadi sutradara film dengan budget besar seperti Iron Man dan Cowboys & Aliens, serta menjadi bagian dari tim produksi The Avengers. Dapat dikatakan Chef menjadi tempat bagi Jon Favreau untuk sejenak mencari udara segar dari gegap gempita hubungannya dengan Marvel, mengambil tema makanan serta permasalahan utama pada koki untuk menciptakan perjalanan bersenang-senang bersama makanan yang terasa hangat dan santai, tapi juga memiliki isi yang menarik sehingga tidak sekedar menjadi sebuah food eye candy.   
 

Movie Review: Kick-Ass 2 (2013)

 

"The real world had real consequences."

Cara paling tepat untuk menikmati hidup adalah tentu saja dengan melakukan apa yang anda senangi, apa yang mampu menjadikan anda akan melakukannya dengan senang hati, menikmati tiap detik yang berlalu, tanpa ditemani beban yang memberatkan serta mengganggu. Ini yang menjadi fokus utama Kick-Ass 2, sekuel dari Kick-Ass yang sempat menjadi bagian dari kejutan tiga tahun lalu, kumpulan manusia biasa yang berkostum aneh, mampu menghadirkan kekacauan menyenangkan. Sayang, di edisi kedua ini ia hanya punya unsur pertama, karena kekacauan itu tidak lagi menyenangkan. (Warning: review contains strong language)

Movie Review: Ice Age: Continental Drift (2012)


Continental Drift adalah proses pecahnya satu dataran yang sangat luas yang terjadi dimasa purbakala, menjadi beberapa bagian dengan ukuran lebih kecil yang saat ini kita kenal sebagai benua. Lupakan sejenak teori ilmiah tentang penyebab perpecahan itu. Dalang utamanya adalah The Scrat!! The Scrat masih dengan kebiasaan lamanya, mengejar biji pohon ek, yang sejak film pertama memiliki kekuatan magis yang dapat membelah daratan. The Scrat masuk hingga ke inti bumi, yang menjadi awal mula terjadinya continental drift.