Showing posts with label Joseph Gordon-Levitt. Show all posts
Showing posts with label Joseph Gordon-Levitt. Show all posts

Movie Review: The Trial of the Chicago 7 (2020)

“The whole world is watching!”

Masa kepimpinan Donald Trump sangat memorable, huh? Slogan kampanye yang ia  gunakan adalah “Make America Great Again” namun banyak orang menilai bahwa di bawah kepimimpinannya kala itu Amerika Serikat justru jatuh ke dalam political and cultural crisis, secara implisit ia menerapkan sistem lèse-majesté sehingga begitu banyak terjadi kerusuhan, bukan tidak mungkin beberapa di antaranya merupakan coup d'état. Tidak ada koneksi langsung memang tapi film ini membuat saya teringat dengan Donald Trump, saat sistem hukum yang eksis justru membuat kamu marah dan tertawa, karena tidak hanya pidana dan perdata saja, juga ada politik di sana. ‘The Trial of the Chicago 7’: this is America, don't catch you slippin' now.


Review: Snowden (2016)


"Are they watching us?"

Pada tahun 2013 pria bernama Edward Snowden yang merupakan mantan karyawan CIA dan mantan kontraktor pemerintah USA menciptakan sebuah kehebohan skala besar: membocorkan informasi rahasia serta progam yang dimiliki oleh National Security Agency bersama Five Eyes Intelligence Alliance. Semenjak itu pria yang mengatakan tempat ia kini berada adalah di internet itu tidak hanya menjadi salah satu “most wanted person” bagi pemerintah USA namun juga berhasil menciptakan perdebatan terhadap status yang ia miliki, apakah dia seorang pahlawan, patriot, whistleblower, atau pengkhianat? ‘Snowden’ is a “love story” for Edward Snowden.

Review: The Night Before (2015)


“Did you just call our baby a cunt?”

The Night Before merupakan percobaan terbaru dari Evan Goldberg dan Seth Rogen untuk menciptakan komedi yang berusaha make you laugh at tragedy, bisa dikatakan pula seperti kelanjutan dari 50/50 di dunia berbeda dengan kembalinya sang sutradara, Jonathan Levine, dan juga pemeran utama, Joseph Gordon-Levitt. Tapi membuat komedi dengan berlandaskan tragedi bukan sebuah pekerjaan yang mudah, itu sama saja seperti menghibur orang yang baru saja putus cinta dan masih berurai air mata dengan menggunakan music electronic dance. Film ini seperti itu, ada hiburan yang fun tapi something is missing. Weird comedy.

Movie Review: Sin City: A Dame to Kill For (2014)


“Death is just like life in Sin City. It always wins.”

Ketika ia muncul hampir satu dekade yang lalu Sin City adalah sebuah kemasan yang mengejutkan, sebuah hiburan style over substance yang seperti namanya mencoba mengajak penonton menyaksikan aksi gila bersama berbagai dosa dari sex & violence yang dikemas secara santai dan seksi dalam dunia hitam dan putih. Sayang sekali istirahat yang lama itu ternyata memberikan efek pada sensasi yang diberikan film keduanya ini. Sin City: A Dame to Kill For, the babe wore blue in lost, lonely, & lethal adventure, exciting and boring almost at the same time.

Review: Sin City: A Dame to Kill For (2014)


“Never let the monster out. Not for one second.”

Sin City itu adalah dunia neo-noir hitam yang juga digambarkan dalam rupa hitam-putih pada visual, dipenuhi kejahatan dan kekerasan, kombinasi antara live action dan animasi yang eksploitatif, dunia yang mengajak mata dan pikiran penontonnya bersenang-senang dalam petualangan nakal dan liar. Sembilan tahun telah berlalu dari film pertamanya, rasa itu masih dimiliki oleh Sin City: A Dame to Kill For, yummy hyper bang-bang-bang anthology. 

Movie Review: Don Jon (2013)


Hasrat akan seks sebenarnya bukanlah hal yang tabu, karena secara ilmiah kehadirannya merupakan sesuatu yang wajar. Jangan naïf, bukan hanya para pria, wanita sesungguhnya juga punya hal tersebut dalam level yang sama, karena ketika energi sedang membara salah satu solusi terbaik adalah dengan melampiaskannya. Don Jon coba bermain di tema itu, namun ini sedikit berbeda, bukan hanya film yang sebatas menggunakan materi pornografi untuk menjadi sebuah crowd-pleasure, ini drama komedi penuh ironi yang menggelitik dan menyenangkan. (Warning: review contains strong language)

Movie Review: Lincoln (2012)


Seseorang pernah berkata kepada saya yang intinya mungkin seperti ini, “Untuk menjadi seorang pemimpin, tidak cukup hanya bermodalkan kecerdasan yang anda miliki. Anda harus punya mental seorang pemimpin, kharisma dari seorang pemimpin.” Dia sangat sangat benar, karena seorang pemimpin harus siap menanggung beban dan tanggung jawab yang jauh lebih berat dari bawahannya, dan menjadi penentu utama kesuksesan yang mereka raih.

Movie Review: Looper (2012)


Ditahun 2044, ketika 10 persen dari populasi manusia dapat melakukan telekinesis, mesin penjelajah waktu masih belum ditemukan. Namun, 30 tahun berselang, mesin tersebut telah ditemukan, masih bersifat illegal dan hanya tersedia di pasar gelap. Alat tersebut digunakan oleh para penjahat dimasa itu, mengirim korban ke 30 tahun sebelumnya, dimana seorang penembak yang disebut "looper" telah bersiap dengan senjatanya. Joe (Joseph Gordon-Levitt) adalah seorang looper. Nah, bagaimana jadinya ketika korban yang dikirim untuk dieksekusi oleh Joe adalah dirinya sendiri, Joe (Bruce Willis) dari tahun 2074.

Movie Review: Premium Rush (2012)


Film dengan tema membuat sebuah kekacauan di Manhattan sepertinya bukan sesuatu yang baru untuk saya. Tapi bagaimana jika sumber dari kekacauan tersebut adalah seorang kurir jasa pengiriman barang, yang menjangkau setiap sudut kota dengan menggunakan alat transportasi andalannya, sepeda. Ya, sepeda. Yang pertama kali terlintas di pikiran saya adalah, menarik.

Movie Review: The Dark Knight Rises (2012)


Batman (Christian Bale) memang telah pensiun dari tugasnya menjaga kedamaian kota Gotham, namun masih dianggap sebagai penyebab utama kematian jaksa Harvey Dent. Karena itu Bruce Wayne lebih memilih berdiam diri di kediamannya bersama pelayan setianya Alfred (Michael Caine). Namun itu semua berubah setelah kedatangan Bane (Tom Hardy), mantan rekan Ra's Al Ghul (Liam Neeson), bersama pasukannya melancarkan terror brutal ke kota Gotham yang telah aman sepeninggal Joker dan Two Face.