Showing posts with label Kristen Stewart. Show all posts
Showing posts with label Kristen Stewart. Show all posts

Movie Review: Crimes of the Future (2022)

“Surgery is the new sex.”

Berjoget tipis-tipis sendiri di dalam kamar bisa menghasilkan banyak uang mungkin sebuah ide yang tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang di beberapa dekade lalu, sekalipun kala itu mereka juga punya imajinasi bahwa di masa depan segala sesuatu mungkin akan lebih canggih. Hal yang sama juga kita alami kini, definisi masa depan kelak seperti apa masih tidak pasti walaupun sama seperti orang-orang tadi bahwa kita juga memiliki imajinasi, kini bahkan dengan analisa data jadi semakin mudah bagi beberapa orang untuk diprediksi. Film mengeksplorasi potensi masa depan yang masih jadi misteri, menggunakan premis yang terasa aneh yakni bagaimana jika kelak rasa sakit merupakan cara baru untuk merasakan sensasi bahagia? ‘Crimes of the Future’: a medium rare body horror.


Movie Review: Spencer (2021)

“Beauty is useless. Beauty is clothing.”

Di bagian awal film yang dibuka dengan tulisan “a fable from a true tragedy” ini ada satu scene seekor burung yang telah mati dan menjadi bangkai tergeletak di jalan satu arah, disorot dari sudut close-up dengan mengambil fokus pada bangkai tadi kemudian dari arah kejauhan perlahan lima buah mobil milik pasukan Britania Raya bergerak mendekat ke bangkai tersebut. Dari arah bawah kamu melihat mobil-mobil tersebut satu per satu melintas, tiga mobil tidak melindas bangkai tadi namun tidak ada yang tahu bagaimana nasib bangkai burung tadi setelah dua mobil tersisa telah melintas. Bangkai burung tersebut seolah menggambarkan situasi karakter utama film ini, Lady Diana, istri pertama Pangeran Charles, pewaris takhta kerajaan Britania Raya. ‘Spencer’: she set fire to the rain.


Review: Billy Lynn's Long Halftime Walk (2016)


"It’s really good to have you back, little brother."

Kurang lebih empat tahun lalu Peter Jackson mencoba menciptakan gebrakan baru dengan The Hobbit: An Unexpected Journey yang menggunakan frame rate shooting dan proyeksi 48 fps, teknologi “High Frame Rate” yang juga ingin digunakan oleh James Cameron pada sekuel Avatar. Belum semua bioskop “mampu” mengakomodasi teknologi tersebut sehingga film dikonversi ke 24 fps, namun kemudian muncul Ang Lee yang mencoba melipatkan gandakan pencapaian Peter Jackson tadi dengan Billy Lynn’s Long Halftime Walk yang menggunakan HFR 120 fps in 3D at 4K HD resolution. One day teknologi itu akan menjadi hal yang umum di industri film, but for now? It’s a composed and flashy but flimsy and fake-ish drama.

Review: Cafe Society (2016)


“Life is a comedy, written by a sadistic comedy writer.”

Saya telah menulis dua review di blog ini untuk film yang disutradarai oleh Woody Allen, dan pembuka dua review itu kurang lebih identik, yaitu rasa kagum pada “dedikasi” tinggi Woody Allen terhadap industri film. Tetap berusaha untuk menulis sendiri naskah dari film yang ia sutradarai tentu merupakan sebuah effort yang patut diapresiasi namun akibatnya hasil yang dicapai film-film Woody Allen kerap hit or miss, hollywood "fantasy" hingga romance patah hati dengan dialog “sinis” yang terasa elegan namun ada pula yang terasa outdated. Di mana Café Society berdiri? Sebuah omong kosong yang ompong atau sebuah tragicomedy yang mumpuni?

Movie Review: Equals [2016]


"I can’t stay away from you."

Dunia ini semakin kejam, segala perkembangan teknologi tidak hanya membantu kemampuan setiap manusia untuk berkembang tapi juga membuat sikap “manusiawi” kita semakin berkurang. Manusia berjiwa sosial semakin sulit ditemukan, sikap individualisme semakin populer. Apakah peradaban manusia perlahan akan berubah menjadi layaknya robot dengan segala program yang ditanamkan padanya? Bagaimana jika di masa depan untuk menciptakan dunia yang damai seluruh manusia dipaksa hidup dengan jiwa individualis di mana emosi dan rasa cinta dianggap sebagai sebuah penyakit? Itu isi film ini, ketika “zombie” ingin tetap menjadi manusia, Equals is a dystopian version of Romeo & Juliet when the only crime is, love.

Review: American Ultra (2015)


"He killed two operatives with a spoon, sir."

Apakah kamu mengakui eksistensi sebuah perasaan yang disebut guilty pleasure? Contohnya ketika selesai menyaksikan sebuah film kamu akan menilai ia sebagai hiburan yang tidak istimewa, konyol, bahkan bodoh, tapi disisi lain kamu juga puas dengan sensasi atau hasil yang diberikan oleh film tersebut. Seperti itulah American Ultra ini, petualangan liar yang konyol, bodoh, tidak istimewa, namun anehnya mampu menghibur dan tidak menyebalkan. An enjoyable mess.

Movie Review: Still Alice (2014)


"I find myself learning the art of losing every day."

Sepintas jika hanya menilik sinopsis yang ia tawarkan film ini terasa sangat sederhana, seorang wanita yang mengidap suatu penyakit dan harus berjuang menghadapi rasa sakit tersebut, namun sesungguhnya tugas yang ia emban jauh lebih sulit dari itu. Isu terkait penyakit yang dibawa merupakan sesuatu yang sangat sensitif dan dari sana ia punya banyak kewajiban, dari menjadikan penonton merasakan perjuangan karakter, membentuk agar cerita mampu menawarkan informasi terkait penyakit tersebut, tapi di sisi lain ia juga harus mampu memberi “treat” yang hormat pada isu tersebut agar tidak memberi dampak negatif pada para pasien asli di dunia nyata. Film ini berhasil menggambarkan hal-hal tadi dengan manis. Still Alice, a simple and very understated drama. 

Movie Review: Clouds of Sils Maria (2014)


Semakin besar ambisi yang anda miliki maka semakin besar pula tantangan yang harus anda hadapi dan atasi, begitupula dengan hasil akhir serta masalah yang mungkin akan anda ciptakan. Ada sinkronisasi diantara bagian-bagian tadi, dengan kunci terletak pada bagian tengah tadi, bagaimana itu dihadapi dan diatasi. Film ini sangat besar pada ambisi, namun sayangnya hal tersebut tidak tampil sama persis di bagian lainnya. Clouds of Sils Maria: a disjointed character study about insecurity. For your consideration, in best supporting actress category, Kristen Stewart.

Movie Review: Snow White and the Huntsman (2012)


Snow White (Kristen Stewart), adalah seorang yatim piatu dibawah asuhan Ravenna (Charlize Theron), wanita jahat yang membunuh Ayah Snow White setelah malam pernikahan mereka. Snow ditahan di benteng, sementara Ravenna mulai menguasai Kerajaan yang berhasil direbutnya. Ravenna mendapat info bahwa dengan mengambil nyawa Snow, ia dapat awet muda selamanya. Ravenna memerintahkan Finn (Sam Spruell) untuk membawa Snow kepadanya. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Snow untuk melarikan diri dari benteng, menuju Hutan Gelap.