Showing posts with label Luc Besson. Show all posts
Showing posts with label Luc Besson. Show all posts

Review: The Transporter Refueled (2015)


Tentu saja kita akan bertanya ketika muncul kabar bahwa sebuah film akan di lakukan remake atau di reboot, karena dua hal tadi bukan sebuah pekerjaan yang mudah, apalagi jika film aslinya sudah punya pesona yang kuat, dan pertanyaan tadi pasti juga di terima oleh The Transporter Refueled. Sebenarnya menghidupkan kembali The Transporter bukan sebuah ide yang buruk, tapi pertanyaan lain yang mungkin akan membuat kamu menaruh rasa ragu adalah bukan pada apa lagi yang akan atau hendak Luc Besson tampilkan disini namun bagaimana film ini kembali dari tidurnya tanpa salah satu kekuatan utamanya: Jason Statham. Well done Audi!

Movie Review: Taken 3 (2015)


"He loves his family, but he has a lot of enemies." 

Bryan Mills merupakan pria dengan dua sosok yang ia cintai, seorang mantan istri dan seorang anak perempuan. Di film pertama ia menelusuri kota Paris untuk menemukan anak perempuannya yang di culik, di film kedua giliran mantan istrinya yang kini menghilang di kepadatan kota Istanbul. Nah, yang kemudian sedikit membingungkan adalah dengan konsep yang sama di dua film sebelumnya siapa lagi yang akan menghilang di film ketiganya ini? Siapa lagi yang akan Bryan coba selamatkan dengan genggaman pistol di tangannya? Uniknya ternyata rasa bingung itu juga dimiliki oleh film ini. Taken 3, trying to look thoughtful but ends dull, an impotent superdad goodbye.

Movie Review: Lucy (2014)


"Ignorance brings chaos, not knowledge."

Film yang mencoba tampil variatif atau berwarna dalam menghibur dan juga bercerita tentu saja merupakan sebuah film yang menyenangkan, namun hal tersebut juga didampingi oleh sebuah syarat yang penting, konsistensi dan fokus mumpuni yang tidak setengah hati. Film ini mengalami hal tersebut, film terbaru dari salah satu ahli dalam menulis film action, Luc Besson. Lucy, sci-fi potensial yang jatuh perlahan.

Review: Lucy (2014)


"There are more connections in the human body than there are stars in the galaxy."

Semoga saja kamu belum bosan melihat wajah Scarlett Johansson tahun ini, karena setelah memberikan suaranya di film dengan sentuhan sci-fi dan fantasy berjudul Her wanita seksi satu ini telah tampil di tiga buah film lainnya, dua diantaranya juga berada di genre tadi dimana ia sukses memberikan penampilan yang mencuri perhatian. Nah, film ini memetik keuntungan dari kemampuan ScarJo kembali melakukan hal tadi, Lucy, pelengkap trilogy science fiction dan fantasy pribadi Scarlett Johansson tahun ini. 

Movie Review: Brick Mansions (2014)


Tentu saja ada sebuah rasa senang ketika selesai menonton sebuah film ada point menarik yang dapat kita bawa pulang. Namun hal tersebut faktanya bukan menjadi sebuah hal yang wajib, harus, dan mesti hadir dalam komposisi yang kuat pada sebuah film, karena memperjuangkan hal tersebut dapat membunuh potensi yang dimiliki untuk dapat menjadi sebuah hiburan bodoh yang menyenangkan. Hal tersebut dialami oleh film ini, Brick Mansions. To make a “good” movie you need a “good” story.

Movie Review: 3 Days to Kill (2014)


"My job is to hunt terrorists. I don't negotiate. Within three days, I will find you. You can start counting."

Pada awalnya ia menyebut dirinya sebagai sebuah film action dan thriller, kemudian setelah jauh berjalan mereka akan ditemani oleh sisi crime dan sedikit misteri, namun semakin jauh lagi ia berjalan kita akan menemukan sebuah twist pada warna cerita yang melengkapi berbagai genre tadi. Yap, warna-warni, tidak masalah jika berhasil dibentuk menjadi sebuah kemasan yang solid, sesuatu yang tidak mampu dicapai oleh film ini. 3 Days To Kill, it’s stupid, it’s messy, it's actually could be a sweet enough story about disposition.

Movie Review: The Family (Malavita) (2013)

 

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Hal tersebut tentu saja menarik, namun jika di lihat dari konteks positif. Lantas bagaimana jika sebuah keluarga terdiri dari Ayah yang pernah berurusan dengan mafia, punya istri sesama pembunuh berdarah dingin, yang kemudian turun ke generasi berikutnya pada anak mereka yang tidak pernah merasa takut untuk bermain dengan masalah. The Family (Malavita), predictable, sempit, ringan, unfocus, yang dapat dirangkum dalam sebuah kata, F.

Movie Review: Taken 2 (2012)

 

"When a dog has a bone the last thing you want to do is take it from him."

Kim (Maggie Grace) sepertinya mulai terbiasa dengan ancaman yang bisa kapan saja menghampirinya. Setelah bersembuyi dibawah tempar tidur di film pertama, Kim kembali melakukan hal tersebut, kali ini didalam almari pakaian, dari penjahat yang sebenarnya tidak menjadikan dia sebagai target utama.  Bryan Mills (Liam Neeson), ayah Kim, masih menjadi sumber utama semua masalah yang kembali melibatkan keluarganya sebagai korban. Murad Krasniqi (Rade Serbedzija), ayah dari salah korban yang dibunuh oleh Bryan di film pertama, menjalankan sebuah misi balas dendam.