Showing posts with label Maya Rudolph. Show all posts
Showing posts with label Maya Rudolph. Show all posts

Movie Review: Licorice Pizza (2021)

“I'm not gonna forget you. Just like you're not gonna forget me.”

Ketika berbicara tentang cinta sebenarnya banyak orang yang bingung dan juga ragu pada cinta macam apa yang mereka mau, tidak heran jika kemudian muncul jalan penuh kerikil tajam dalam proses pencarian itu. Seperti karakter utama wanita di film ini, ketika ditanya apakah dirinya punya pacar jawabannya adalah "yes and no”, meski ia sadar bahwa ada pria yang sedang menyukai dirinya. Ya, rasa cemas dalam menentukan arah dan tujuan hidup memang menjadi bagian tak terlepaskan dari fase quarter-life crisis, masa di mana insecurity, ragu, dan kecewa kerap singgah di dalam berbagai hal di hidup manusia, dari karir, keuangan, dan tentu saja cinta. Tapi apakah cinta memang serumit itu? ‘Licorice Pizza’: fantabulous!


Movie Review: Luca (2021)

“Vespa is freedom.”

Untuk pertama kalinya, setelah tahun 2001 tentunya, secara berturut-turut tiga buah film rilisan dari studio animasi Pixar akan menjadi debut penyutradaraan layar lebar bagi tiga Sutradara. Latar belakang mereka memang juga dari Pixar seperti sebagai animator dan story artist tapi keputusan tersebut tampak seperti sebuah sinyal dari Pixar bahwa mereka mencoba melakukan peremajaan dan membawa nafas segar ke dalam line-up film animasi mereka. Settingnya di Italia dan berkisah tentang monster laut yang mencoba untuk mengejar impian mereka dengan MVP yang terasa unik, yaitu Vespa. Ya, motor Vespa. ‘Luca’ : a lovely, understated, and charming animation.


Movie Review: The Mitchells vs. the Machines (2021)

“Families can be hard, but they're so worth fighting for.”

Film animasi terbaru Netflix ini merupakan sebuah kemasan campur aduk beragam jenis isu, konflik, hingga pesan, yang ibarat bubur ayam dibumbui dengan merata sehingga ketika tiap bahan dimakan bersama satu sama lain (tidak diaduk, sorry) maka terasa sedap di lidah. Menggunakan petualangan sebuah keluarga yang dengan bangga menyebut diri mereka sebagai “worst family of all time” film ini menyajikan pengisahan tentang teknologi, kekuasaan, pubertas, coming-of-age, serta tentu saja jantung utamanya yakni keluarga, dikemas unik dan mengingatkan pada kesan segar yang dulu pernah dihadirkan oleh The Lego Movie. ‘The Mitchells vs. the Machines’ : a neatly made oddball parade sci-fi comedy.


Review: Popstar: Never Stop Never Stopping (2016)


“Sometimes you’re up, sometimes you’re down.”

Saya tidak tahu bagaimana kehidupan seorang bintang besar lengkap dengan power dan tekanan yang mereka punya namun berdasarkan berbagai berita yang beredar sangat mudah untuk memahami bahwa kehidupan seorang superstar tidak selamanya indah. Kehidupan seperti roda yang berputar dan usaha mempertahankan sesuatu lebih sulit jika dibandingkan dengan usaha ketika kamu hendak meraihnya. Dibantu oleh Judd Apatow hal tersebut coba ditampilkan oleh The Lonely Island di Popstar: Never Stop Never Stopping, sebuah mockumentary comedy dengan nafas musical dan parodi, sebuah satir terhadap budaya modern yang tampil dengan energi menular. Breaking News from CMZ: Taylor Swift was arrested for murder. Beware, Bieber.

Review: Maggie’s Plan (2016)


"Good luck with that, bossypants."

Siapa yang tidak bahagia ketika rencana yang telah ia susun dan lakukan berhasil memberinya kehidupan di zona yang aman dan nyaman. Mayoritas dari penduduk bumi pasti memimpikan hal tersebut untuk terjadi pada mereka, namun pasti ada pula yang lebih mencintai tantangan dalam kehidupannya, satu rencana tercapai lalu ia merasa bosan maka ia mulai menyusun rencana baru. Tapi setiap rencana punya “cara” untuk memberimu kejutan yang tidak semuanya dapat kamu kendalikan. Menggunakan usaha mencari kebahagiaan Maggie's Plan coba menggambarkan hal tadi, sebuah romance comedy yang lucu dan manis.

Review: The Angry Birds Movie [2016]


"Time to get angry!"

Cara bermain yang ia tawarkan tidak begitu spesial namun dengan gameplay yang fun, lucu, dan adiktif, Angry Birds sukses menjadi sebuah fenomena tingkat global di tahun 2010, menjadi sahabat dari miliaran pengguna smartphone yang kemudian membantunya meraih predikat sebagai one of the most mainstream games. Tujuh tahun berlalu sejak kemunculan pertamanya Rovio Entertainment mencoba untuk mengangkut konsep dasar yang sederhana tadi kedalam bentuk film animasi yang diberi judul The Angry Birds Movie, sebuah usaha minimalis yang berakhir manis. It's like bird version of Minions.

Review: Sisters (2015)


"Dear diary, today I tried a tampon. No thanks Tom Hanks."

Ketika telah diciptakan Tina Fey dulu mungkin Tuhan merasa bahwa ada sesuatu yang kurang, maka satu tahun kemudian Ia ciptakan Amy Poehler. Dua wanita yang pasti tidak asing lagi bagi penikmat program TV dari USA seperti 30 Rock, Parks and Recreation, dan tentu saja Saturday Night Live ini menjadi idola banyak penonton berkat chemistry yang unik di antara mereka, punya banter yang tajam dan on point. Hal tersebut mereka tampilkan di film ini, Sisters, meskipun kamu juga pasti tahu bahwa kesuksesan sebuah film juga bergantung pada banyak elemen penunjang lain yang ia miliki. Teen movie for adult.

Review: Inherent Vice (2014)


"Chotto, Kenichiro, Dozo! Motto panukeiku. Motto panukeiku!!"

Inherent Vice ini secara keseluruhan kurang lebih seperti karakter Freddie Quell di film Paul Thomas Anderson dua tahun lalu, The Master, berjalan dengan kesan penuh kebingungan, ada misteri dengan karakter yang terus mencari, terasa liar dan juga aneh, tapi ketika ia selesai ada klimaks yang memikat yang ia tinggalkan buat penontonnya. Celakanya Inherent Vice melakukan hal tersebut dengan level yang setingkat diatas, rasa bingung kental, kesan aneh dan liar juga kental, dan celakanya ini seperti berjalan-jalan bersama seorang teman dalam kondisi mabuk, unik dan lucu.

Movie Review: Big Hero 6 (2014)


“They say we are what we are, but we don't have to be.”

Hadir sedikit rasa pesimis kala itu ketika mendapatkan kabar bahwa Pixar akan absen dari pertarungan di kategori animasi tahun ini, seolah merasa semuanya akan monoton meskipun Toothless akan melakukan comeback. Tapi kejutan demi kejutan hadir sejak awal tahun, dan ketidakhadiran one-to-beat justru menjadikan kategori ini terasa seperti sebuah pertarungan liar. Film terbaru dari Disney ini semakin menambah rasa bingung pada siapa yang layak menjadi film animasi terbaik tahun ini, Big Hero 6: prepare to be amazed by an adventure with heart, smarts, and an adorable big marshmallow.

Movie Review: The Way Way Back (2013)


“You’ve got to go your own way.”

Tentu ada alasan dibalik banyak pernyataan yang mengatakan bahwa setiap manusia pada level usia berapapun itu punya arti bagi orang lain disekitarnya. Orang dewasa menjadi patokan para remaja untuk bertumbuh, sedangkan remaja menjadi objek yang menjadi alarm bagi kaum dewasa untuk mempertahankan kualitas kedewasaan mereka. Ya, itu siklus yang berlandaskan pemahaman untuk terus membawa setiap manusia bertumbuh. Secara sederhana dan efektif itu coba digambarkan oleh The Way Way Back, coming-of-age dengan kombinasi putih dan hitam yang memikat, bersinar sejak awal hingga akhir.

Movie Review: Grown Ups 2 (2013)

 

Adam Sandler adalah aktor yang serba bisa. Ia bisa menjadi ayah angkat yang jobless, pria penderita penyakit psikologis, tentara yang kemudian menjadi penata rambut, memaksa Jennifer Aniston untuk mau menjadi istri palsunya, bahkan menjadikan Al Pacino jatuh cinta padanya. Masuk ke level produser, tidak heran Sandler tetap eksis, dan kerap kali mampu memperoleh penghasilan dua kali lipat budget yang ia punya. Tapi ia standard, apakah wujud kesetiaan dengan cara yang ia punya, atau justru karena rasa takut, yang kemudian menjadikan kehadiran film ini cukup mengejutkan. Yap, Grown Ups 2, film sekuel pertama Sandler, sukses di box office, masih dengan materi bodoh yang bodoh.

Movie Review: Turbo (2013)

 

“No dream is too big, and no dreamer is too small.”

There can be miracles when you believe. DreamWorks kembali membuktikan makna dari nama yang mereka pakai, salah satu studio animasi yang mampu membawa para penontonnya untuk tidak pernah berhenti bermimpi. Kali ini mereka menggunakan para siput, hewan yang dikenal memiliki gerak yang sangat lambat, dan memasukkan mereka kedalam dunia balap mobil Indy 500. Sederhana, predictable, manis, dengan eksekusi yang tidak sebesar ambisi.

Movie Review: Friends With Kids (2012)


Friends with kids, memiliki anak dengan seorang teman. So what?? Jelas hal yang lumrah, jatuh cinta kepada teman dan akhirnya memutuskan untuk menjalin cinta, menikah, dan memiliki anak. Tapi tunggu dulu, kondisi itu tidak sepenuhnya berlaku di film ini. Suatu ketika timbul keinginan dari Julie Keller (Jennifer Westfeldt), yang merupakan sahabat dekat Jason Fryman (Adam Scott), untuk memiliki anak. Namun setelah melihat kondisi rumah tangga dari keempat teman dekat mereka yang telah memiliki anak, Ben (Jon Hamm) – Missy (Kristen Wiig) dan Alex (Chris O'Dowd) – Leslie (Maya Rudolph), muncul keraguan dalam diri Julie. Tetapi Jason memiliki ide yang lebih baik bagi mereka berdua.