Showing posts with label Shailene Woodley. Show all posts
Showing posts with label Shailene Woodley. Show all posts

Movie Review: The Fallout (2021)

“You know, fear makes people act crazy.”

Stres tidak terpisahkan dari kehidupan setiap manusia namun kemampuan dalam menanganinya jelas berbeda-beda. Hal tersebut karena stressor yang harus dihadapi oleh setiap orang berbeda, dapat berasal dari lingkungan sosial, kondisi fisik, hingga perasaan, imajinasi dan psikologis. Jelas trauma yang membekas di dalam diri orang yang jatuh dari sepeda akan berbeda dengan seseorang yang kesulitan untuk move on dari peristiwa penembakan massal. Sulit untuk menentukan tolok ukur di mana garis finish yang menandakan seseorang telah berhasil move on dari trauma yang menghantuinya, kondisi yang digunakan oleh film ini untuk menjadi penggambaran terkait tantangan yang masih harus dihadapi oleh para korban selamat dari sebuah peristiwa mengerikan. ‘The Fallout’: let's sound the alarm louder.


Movie Review: The Last Letter from Your Lover (2021)

“There is never enough time, never enough of you. Let's meet tomorrow. B.”

Memilih pasangan hidup juga bisa salah. Tentu hal tersebut masuk kategori blunder besar jika terjadi dan seringkali akan meninggalkan pihak yang merasa salah tadi di dalam perasaan menyesal. Ada beberapa opsi, kamu bertahan dan menjalani hidup yang sudah kamu pilih, stuck in your disappointment, atau kamu mencoba “keluar” and attempting another shot at happiness, to try again, to feel again? Perselingkuhan adalah jawaban paling umum bagi opsi kedua tadi. Spontanitas merupakan inti dari banyak hal-hal indah namun juga merupakan akar dari banyak ketidakpuasan, dan bukankah hidup adalah tentang bagaimana menjadi bahagia tanpa rasa penyesalan? ‘The Last Letter from Your Lover’ : a safe and sound romantic drama.


Movie Review: The Mauritanian (2021)

“You can't win a case if you don't believe your own shit.”

Tragedi 11 September 2001 meninggalkan tugas berat bagi pemerintah USA kala itu di mana salah satunya tidak hanya tentang bagaimana secepat mungkin menemukan pelaku dari aksi terorisme tersebut namun juga upaya memulihkan situasi negara yang mungkin diselimuti dengan rasa panik dan rasa takut. Salah satu cara yang kala itu diambil oleh George W. Bush sebagai Presiden USA adalah dengan mendirikan The Guantanamo Bay detention camp, berlokasi di negara Kuba dan menjadi tempat “menampung” orang-orang yang dicurigai terlibat terorisme. Celakanya sistem yang berlaku di sana adalah rough justice, penahanan tanpa batas waktu karena memang tidak ada pengadilan. A major breach of human rights. ‘The Mauritanian’ : terms and conditions apply.


Review: Snowden (2016)


"Are they watching us?"

Pada tahun 2013 pria bernama Edward Snowden yang merupakan mantan karyawan CIA dan mantan kontraktor pemerintah USA menciptakan sebuah kehebohan skala besar: membocorkan informasi rahasia serta progam yang dimiliki oleh National Security Agency bersama Five Eyes Intelligence Alliance. Semenjak itu pria yang mengatakan tempat ia kini berada adalah di internet itu tidak hanya menjadi salah satu “most wanted person” bagi pemerintah USA namun juga berhasil menciptakan perdebatan terhadap status yang ia miliki, apakah dia seorang pahlawan, patriot, whistleblower, atau pengkhianat? ‘Snowden’ is a “love story” for Edward Snowden.

Review: The Divergent Series: Allegiant [2016]



"Everyone we know will die."

Ketika muncul dua tahun lalu film Divergent mengusung misi untuk memanfaatkan “panas” dari adaptasi novel young adult ke layar lebar, namun alih-alih berdiri tegak dan bersanding bersama The Hunger Games kala itu yang dialami oleh Divergent justru menyedihkan. Dengan keunikan cerita yang ia miliki Divergent menjadi start yang terlalu lembut, Insurgent meneruskannya dengan eksekusi yang canggung miskin urgensi dan energi, dan film pertama dari dua babak adaptasi buku terakhir, The Divergent Series: Allegiant, seperti sebuah bendera putih tanda menyerah. Seperti sebuah ucapan Four kepada Tris, “We need to leave, RIGHT NOW!” 

Review: Insurgent (2015)



"Once a stiff, always a stiff."

Ketika saya hendak menonton film ini saya bertanya pada teman yang sudah terlebih dahulu menyaksikan Insurgent dan juga sebelumnya juga telah membaca novel karya Veronica Roth itu. Jawaban darinya adalah: “apakah layak berharap banyak dari Insurgent?”  Sebuah jawaban yang sederhana memang namun bukan hanya 50 atau 70 persen namun saya setuju sepenuhnya dengan pernyataannya teman saya tadi. Insurgent, baik itu dari sisi novel maupun film, merupakan korban dari masalah yang bukan hanya sekarang namun mungkin akan kita saksikan beberapa tahun kedepan, sebuah trilogi dengan bagian kedua yang hanya menjadi sebuah jembatan penghubung dengan daya tarik yang lemah.

Movie Review: The Divergent Series: Insurgent (2015)


“Mankind wait for you, with hope, beyond the wall.”

Tahun lalu saya menyebut Divergent sebagai film tentang pemberontakan yang terlalu lembut, kurang bergairah, monoton, dan sedikit membosankan. Tidak hanya itu ia juga tidak memiliki petualangan dalam gerak cekatan sehingga tampak seperti membangun drama dengan bumbu adegan sci-fi dan action, ketimbang menjadi kodratnya sebagai sebuah film sci-fi action dengan dukungan drama. Well, hal tersebut yang kemudian meninggalkan saya speechless ketika melangkah keluar sesaat setelah kejutan dari Naomi Watts yang berdiri dibelakang Kate Winslet. The Divergent Series: Insurgent: when kids from Nickelodeon start a rebellion.

Review: The Fault in Our Stars (2014)


"I'm in love with you, and I'm not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things."

Ada sebuah rasa takjub ketika saya menutup lembaran terakhir novel karya John Green kala itu, bagaimana ketika sebuah hal sempit dan sederhana yang dimanipulasi sedemikian rupa membawa pembacanya hanyut kedalam sebuah kisah cinta serta perjuangan penyakit kronis yang mampu bermain-main dengan manis bersama realitas antara kehidupan serta kematian. Film ini berhasil mentransfer kenikmatan tadi ke dunia nyata, The Fault in Our Stars, a sweet and sour story about some infinities are bigger than other infinities. Pain demands to be felt. Always.

Movie Review: The Fault in Our Stars (2014)


"Some infinites are bigger than other infinites."

I’m in love with you, and I’m not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things. I’m in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we’re all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we’ll ever have, and I am in love with you. Okay? Okay. Bring your tissues!  

Movie Review: Divergent (2014)


"The future belongs to those who know where they belong."

Tidak dapat dipungkiri bahwa Divergent merupakan sebuah kombinasi dari apa yang pernah eksis di dunia young adult, ada nafas Harry Potter, kemudian The Hunger Games, dan kisah romansa dengan nada Twilight. Namun rasa ragu yang muncul ketika pertama kali membacanya perlahan sirna karena meskipun tidak megah Veronica Roth piawai dalam menciptakan sebuah petualangan menyenangkan berisikan kompleksitas yang menegangkan. But poorly, a movie officially makes Divergent looks like The Hunger Games clone which built up with Twilight system. I’m Divergent btw, a soul with more than one faction, and now I’ll use my Chandor and Dauntless side to telling you this one: a bit boring, and absolute bland.  

Movie Review: The Spectacular Now (2013)


"You're all that matters to me."

Ada sebuah quote dari Paulo Coelho yang simple namun sangat menarik dan kuat, “Be brave. Take risks. Nothing can substitute experience.” Kalimat tadi sebenarnya juga merupakan jawaban sederhana dari pertanyaan "bagaimana cara bertumbuh menjadi dewasa." Jatuh dan bangkit, baik dan buruk, suka dan duka, semua pasti akan hadir, yang perlu anda lakukan hanya berani agar dapat terus melangkah maju. The Spectacular Now coba menyajikan hal tersebut, kombinasi natural antara manis dan pahit yang, menarik.