Showing posts with label Zoe Saldana. Show all posts
Showing posts with label Zoe Saldana. Show all posts

Movie Review: Vivo (2021)

“Love's gonna pick you up, and never put you downs.”

Well, seperti yang sempat saya singgung di review ‘Wish Dragon’ yang lalu di mana studio animasi Sony Pictures Animation tahun ini mendorong ke hadapan penonton tiga buah film animasi yang ketiganya tampak menjanjikan sejak trailer-nya rilis. Di bulan april kemarin ada ‘The Mitchells vs. the Machines’ lalu kemudian disusul oleh dua vaksin kebahagian dari China bernama Din dan Long lantas berakhir di film ini, sebuah musikal yang kembali digawangi Lin-Manuel Miranda, sosok yang sejak film ‘Moana’ semakin mendominasi dunia perfilman sebagai composer. Ceritanya sendiri klasik, tentang kasih sayang dan harapan. ‘Vivo’ : animation with proper planning prevents poor performance.


Review: Live by Night (2016)


"We’re all going to hell."

Jika kamu masih ingat salah satu topik menarik di antara moviegoers pada tiga tahun yang lalu mengandung sutradara film ini di dalamnya, yaitu Ben Affleck. Saat itu Ben terpilih untuk memerankan Batman pada rencana besar DC membangun universe mereka dan kemudian hadir pertanyaan apakah Ben layak untuk memerankan tokoh ikonik tersebut. Tapi hal lain yang juga tidak kalah menarik adalah dengan terpilihnya dia sebagai Batman lalu bagaimana dengan kiprah karir Ben Affleck yang kala itu sedang mekar sebagai sutradara mengingat setahun sebelumnya ia memproduksi Argo. Now he’s back with ‘Live by Night’, but, yeah, he’s back.

Movie Review: Star Trek Beyond (2016)


"We will find hope in the impossible."

Di tangan J.J. Abrams ‘Star Trek’ dan ‘Star Trek Into Darkness’ berhasil menjadi sebuah petualangan ruang angkasa yang menyenangkan, namun di sisi lain juga muncul berbagai opini seperti bahwa dua film tersebut merupakan film Star Trek yang terasa “kurang” Star Trek, ibarat pecinta kopi kelas kakap mereka terasa seperti Latte atau Cappuccino, masih kopi yang nikmat tapi kurang nendang. Mencoba mengubah tone cerita dan membawa sutradara empat film The Fast and the Furious untuk mengisi posisi komandan, di mana posisi akhir Star Trek Beyond? A “proper” Star Trek reboot films? Star Trek Beyond: a sweet rock and roll take on Star Trek.    

Movie Review: The Book of Life (2014)


"Always play from your heart."

Film ini berhasil menjalankan tugas dasarnya sebagai sebuah hiburan animasi, memberikan pengalaman visual yang tentu saja menjadi faktor utama dan terpenting yang penonton cari, serta beberapa pesan tentang kehidupan, cinta, hingga sikap jujur juga tidak ketinggalan ikut menyemarakkan gambar-gambar indah yang memanjakan mata dan imajinasi itu, tapi sebuah sentuhan kecil menghalangi film ini untuk meraih potensi besar yang ia miliki sejak awal. The Book of Life, when stunning visual wounded by inconsistent story charms.

Movie Review: Guardians of the Galaxy (2014)


"We're the fricking Guardians of the Galaxy!"

Jika harus memilih studio di industri perfilman yang memiliki rasa percaya diri sangat tinggi sekarang ini, merupakan sebuah kesalahan besar jika tidak memasukkan Marvel Studios di dalamnya, sejak 2008 berhasil menjadikan Iron Man, Thor, dan Captain America begitu digilai oleh penonton tanpa harus kehilangan misi lain pada sisi finansial. Yap, dibawah komando Kevin Feige mereka kini telah menjadi  one to beat di sektor hiburan superhero yang mulai menjamur itu, dan film terbarunya ini kembali membuktikan serta memperkuat status tersebut. From the studio that brought you The Avengers, behold and please welcome, Guardians of the Galaxy, a Groot summer flick.

Review: Guardians of the Galaxy (2014)


"They call themselves the Guardians of the Galaxy. | What a bunch of a-holes."

Saat pertama kali Marvel mengumumkan akan hadirnya Guardians of the Galaxy yang terlintas di pikiran saya waktu itu adalah pertanyaan “untuk apa?” Mereka sudah punya The Avengers, empat diantara anggota tim itu bahkan sudah punya film mandiri masing-masing. Sempat pesimis pada film ini dengan penilaian ini hanya upaya Marvel untuk meraih keuntungan semata, tapi kalau kamu punya pemikiran yang sama segera buang jauh-jauh hal itu, karena dengan konsep yang jauh lebih ringan Guardians of the Galaxy berhasil menjadi film terbaik Marvel setelah The Avengers, bahkan nearly side by side. 

Movie Review: Blood Ties (2013)


"Some guys, the don't keep their promises." 

There’s no limit for family. Anda boleh bimbang ketika hendak melakukan sesuatu untuk kekasih anda, rasa ragu ketika akan memberikan pertolongan kepada sahabat terbaik anda, namun hal tersebut tidak boleh hadir jika sudah mengikut sertakan masalah terkait keluarga anda didalamnya. Ya, tidak ada kalimat “how far” dalam hubungan keluarga, help each other in sadness and happiness. Hal tersebut yang coba digambarkan oleh film ini, Blood Ties, dark and soft family story.   

Movie Review: Star Trek Into Darkness (2013)


Masihkah tersimpan di memori anda tentang kasus The Mandarin, archenemy Iron Man yang justru menjadi objek utama lelucon dibalik kisah heroik Tony Stark? The Mandarin dapat menjadi bukti bahwa keberhasilan para pahlawan (superhero) untuk tampil memikat tidak hanya bertumpu pada dirinya sendiri, namun juga berkat pertolongan daya tarik dari masalah yang ia hadapi, salah satunya adalah kemampuan musuh utamanya dalam menebar ancaman. Star Trek Into Darkness punya hal penting tersebut.