20 September 2014

Movie Review: The Longest Week (2014)


Orang-orang yang tidak puas dengan limit pada kemampuan yang mereka miliki, dan kemudian berupaya untuk menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar dari batas tadi tentu saja layak diberikan apresiasi. Tapi yang menjadi masalah mampu atau tidak mereka mengendalikan dan menangani segala permasalahan yang otomatis jauh lebih besar yang akan menghampiri mereka. Film ini menjadi contoh dari hal tersebut, dalam konteks filmmaking. The Longest Week, an uncompelling rom-com.

Conrad Valmont (Jason Bateman) merupakan pria yang selama ini hidup dalam kemewahan, ia punya supir pribadi, hidup makmur tanpa beban dimana ia dapat saja mengelilingi Manhattan seharian bersama anjing kesayangannya tanpa  rasa takut pada kehidupannya. Tapi suatu ketika pria yang masih belum menemukan arah dalam kehidupannya ini dihadapkan pada sebuah kabar mengejutkan dimana kedua orangtuanya sedang berada dalam tahap perceraian, dan keduanya sepakat untuk berhenti membiayai Conrad Valmont, yang memaksanya untuk merubah gaya dan mulai membangun kembali kehidupannya sendiri.

Tapi ternyata pilihan pertama Conrad berbeda, ketimbang menyewa tempat tinggal dan mulai mencari pekerjaan ia justru menumpang dengan temannya, Dylan (Billy Crudup), sosok yang justru membawa masalah baru bagi mereka. Adalah wanita bernama Beatrice (Olivia Wilde) yang menjadi penyebabnya, seorang model yang telah lama dikagumi oleh Dylan, namun dengan mudahnya justru jatuh kedalam pelukan pria playboy yang tidak dewasa dan sedang berada dalam kebangkrutan, Conrad Valmont.


Dimulai dengan prolog dan diakhiri oleh epilog, selama 86 menit kita akan memperoleh sebuah kisah romansa kota New York yang seperti menjadi upaya untuk menggabungkan Woody Allen dan Wes Anderson. Ya, itu yang pertama kali terlintas di benak saya dimana cerita yang ditulis oleh sang sutradara, Peter Glanz, ini terasa ingin bercerita dengan cara menenggelamkan mood anda lewat penceritaan yang santai dan ringan, tapi disisi lain ia juga berupaya menjadikan kisah cinta yang klasik dan sangat standard itu seolah bergelora luar biasa di balik ketenangan tadi, caranya dengan tanpa henti berusaha memberikan pergerakan visual layaknya sebuah orchestra ditemani dengan narasi serta dentingan piano dan suara biola yang melengkapi gambar-gambar yang tampil cukup mumpuni.

Perpaduan dua hal tadi tentu saja merupakan sesuatu yang menarik, asalkan mereka mampu di kombinasikan dengan tepat untuk kemudian secara bergantian mempermainkan penonton dengan dinamika cerita yang terasa hidup. Nah, itu dia yang tidak dimiliki film ini, dan dapat dikatakan menjadi sumber malapetaka luar biasa yang menarik jatuh potensinya untuk sekedar menjadi rom-com standard yang manis diawal itu. Menyaksikan The Longest Week ibarat menjadi seorang pengendara motor yang terjebak traffic jam, kemudian memutar arah untuk mencari jalan alternative lain, tapi pada akhirnya kembali terjebak didalam kemacetan, terus berulang hingga akhirnya merasa bingung, bosan, dan jengkel.

Ya, macet, ini adalah film yang penuh percaya diri bahwa apa yang ia berikan akan mampu berjalan dan mengalir dengan baik, tapi sayangnya apa yang dirasakan penonton justru sebaliknya, segala kesibukan bersama permainan palet pada visual itu tidak pernah membawa penonton untuk lebih dekat dengan sasaran yang ingin ia capai. Script menjadi masalah utama disini, secara konsisten ia tampak malas untuk memperindah upaya sophomore yang ia bawa dengan memberikan konflik dan karakterisasi yang mumpuni, mayoritas dari mereka terasa seperti dilempar bebas begitu saja dan membiarkan penonton untuk menangkap sendiri makna dari permasalahan cinta itu. Celakanya tidak ada irama yang mampu membuat kita terombang-ambing dengan cara yang menyenangkan bersama karakter.


Jadi bukan sesuatu yang mengherankan ketika penonton mulai tenggelam dalam rasa bosan, karena tidak ada penceritaan yang menarik disini, hanya sebuah rom-com yang ingin sukses tanpa mau berusaha lebih keras, petualangan sederhana yang ingin tampak pintar dan lucu tapi tidak berhasil menciptakan materi yang dapat mendukung ia untuk mencapai hal tersebut, dengan berani menempatkan penonton untuk berjalan bersama permainan suasana hati tapi tidak mampu untuk terus memupuk pesona karakter yang menjadi faktor kunci keberhasilan sektor tersebut, karakter yang mampu membuat penonton merasakan apa yang mereka rasakan, serta masalah yang mereka hadapi mempunyai kepentingan yang besar bagi kehidupan mereka.

Andai saja Peter Glanz tidak berupaya terlalu keras untuk tampil beda di debutnya ini, sedikit menekan kesan eksperimental dan menjadikan kombinasi antara visual dan cerita terasa lebih padat, ini dapat menjadi sebuah rom-com yang sederhana dan manis, bukannya petualangan selama satu minggu yang bergerak liar, tergesa-gesa, dan berbelit-belit  tanpa sebuah tujuan yang kuat. Ia bahkan membuang percuma potensi dari divisi akting, Jason Bateman miskin pesona karena yang ia lakukan kebanyakan memberika ekspresi bingung yang hambar, tugasnya untuk menjadi objek bagi kritik juga berakhir mentah. Olivia Wilde yang semestinya mejadi pendamping justru terasa seperti tempelan, hal yang juga dialami oleh Billy Crudup yang dibiarkan berputar-putar tanpa sesuatu yang menarik.


Overall, The Longest Week adalah film yang tidak memuaskan. Drama yang melelahkan, sederhana mungkin seperti itu, sebuah rom-com yang berupaya agar hiburan yang ia berikan terlihat serius, tapi dibalik itu ia tidak manganggap serius hal-hal "serius" dari sebuah rom-com ketika membangun hiburan tersebut. The Longest Week mencoba terlalu keras untuk menjadi sebuah komedi romantis yang pintar, tapi ia tidak pintar dalam membentuk berbagai elemen wajib dari sebuah rom-com untuk bekerja dengan baik, cerita yang macet, karakter yang minim pesona, dan berakhir menjadi sebuah drama yang datar.






0 komentar :

Post a Comment