Berhasil mencetak hit lewat ‘The Sixth Sense’ serta ‘Signs’ selama kurang lebih satu dekade M. Night Shyamalan seperti bertemu dengan tembok besar yang menghalangi setiap karyanya untuk bersinar, ‘Lady in the Water’ punya pencapaian box office setara dengan budget sedangkan the one and only ‘The Last Airbender’ punya score mentereng sebesar 6% di Rotten Tomatoes. Dua tahun lalu sutradara yang terkenal dengan plot twists itu berhasil kembali menciptakan hit lewat ‘The Visit’ dan tahun ini ia telah berada di jalan untuk kembali mengulangi pencapaian tersebut bersama dengan ‘Split’, sebuah psychological horror thriller tentu saja dengan kental rasa M. Night Shyamalan.
Showing posts with label Bruce Willis. Show all posts
Showing posts with label Bruce Willis. Show all posts
Movie Review: Sin City: A Dame to Kill For (2014)
“Death is just like life in Sin City. It always wins.”
Ketika ia muncul hampir satu dekade yang lalu Sin City adalah sebuah kemasan yang
mengejutkan, sebuah hiburan style over substance yang seperti namanya mencoba
mengajak penonton menyaksikan aksi gila bersama berbagai dosa dari sex & violence yang dikemas secara
santai dan seksi dalam dunia hitam dan putih. Sayang sekali istirahat yang lama
itu ternyata memberikan efek pada sensasi yang diberikan film keduanya ini. Sin City: A Dame to Kill For, the babe wore
blue in lost, lonely, & lethal adventure, exciting and boring almost at the
same time.
Review: Sin City: A Dame to Kill For (2014)
“Never let the monster out. Not for one second.”
Sin City itu adalah dunia neo-noir
hitam yang juga digambarkan dalam rupa hitam-putih pada visual, dipenuhi
kejahatan dan kekerasan, kombinasi antara live action dan animasi yang
eksploitatif, dunia yang mengajak mata dan pikiran penontonnya bersenang-senang
dalam petualangan nakal dan liar. Sembilan tahun telah berlalu dari film
pertamanya, rasa itu masih dimiliki oleh Sin
City: A Dame to Kill For, yummy hyper
bang-bang-bang anthology.
Movie Review: Red 2 (2013)
RED
(Retired, Extremely Dangerous), merupakan sebuah
kejutan yang hadir tiga tahun lalu. Masuk dalam nominasi Golden Globes, meraih pendapatan tiga kali lipat dari budget, namun
disisi lain tidak mendapatkan respon positif dari banyak kritikus. RED 2 berupaya untuk meneruskan
“kesuksesan” yang telah diciptakan pendahulunya tersebut, masih dengan formula
yang sama bersama unsur kejutan yang sangat jauh lebih kecil jika dibandingkan
dengan berita kehadirannya dua tahun lalu.
Movie Review: G.I. Joe: Retaliation (2013)
Ketika 110 menit itu
berakhir, saya menjadi paham dan semakin yakin pada alasan dari Paramount Pictures menunda tanggal rilis
film ini yang awalnya berada di akhir juni 2012, menjadi akhir bulan maret
tahun ini. Well, beragam alasan mereka pakai, dari penambahan efek 3D, untuk
meningkatkan daya tarik penonton, menghindari bentrok dengan Katy Perry: Part of Me, hingga dua
alasan lainnya yang terkait dengan Channing
Tatum. Pfftt, mereka sebenarnya cuma tidak yakin dengan kualitas film ini.
Movie Review: A Good Day to Die Hard (2013)
John
McClane (Bruce Willis) tampaknya masih belum lelah
diusianya yang sudah layak menyandang panggilan kakek. Celakanya, sahabat
karibnya yang bernama “masalah” juga masih setia mendampingi McClane. Sebuah
gedung (check), bandar udara (check), bahkan sebuah kota telah pernah menjadi
lahan bermainnya. Kali ini McClane menaikkan levelnya, terbang untuk berlibur
ke Rusia, tanpa lupa membawa sahabat karibnya.
Movie Review: Looper (2012)
Ditahun 2044, ketika 10 persen dari populasi manusia dapat melakukan telekinesis, mesin penjelajah waktu masih belum ditemukan. Namun, 30 tahun berselang, mesin tersebut telah ditemukan, masih bersifat illegal dan hanya tersedia di pasar gelap. Alat tersebut digunakan oleh para penjahat dimasa itu, mengirim korban ke 30 tahun sebelumnya, dimana seorang penembak yang disebut "looper" telah bersiap dengan senjatanya. Joe (Joseph Gordon-Levitt) adalah seorang looper. Nah, bagaimana jadinya ketika korban yang dikirim untuk dieksekusi oleh Joe adalah dirinya sendiri, Joe (Bruce Willis) dari tahun 2074.
Movie Review: Moonrise Kingdom (2012)
"I love you, but you don't know what you're talking about."
Selalu ada masalah dalam cinta, dan
akan ada cinta jika anda berusaha. Tidak heran banyak orang berkata “cinta itu
perlu perjuangan”, “cinta tak bisa dipaksa”, karena fakta yang ada memang begitu.
Moonrise Kingdom, akan membawa anda kepada kisah perjuangan cinta, dengan
berbagai masalah yang menghadang, melalui sosok dua remaja berusia 12 tahun
yang berhasil memberikan daya magisnya untuk rasa cinta yang mereka miliki.
Movie Review: The Expendables 2 (2012)
Sylvester Stallone ternyata
belum puas dengan “pesta” yang telah dia dan teman-temannya lakukan dua tahun
yang lalu. Kali ini, dengan mengemban tugas yang diberikan oleh Mr. Church
(Bruce Willis), Barney Ross (Sylvester Stallone) serta Lee Christmas (Jason Statham),
Gunnar Jensen (Dolph Lundgren), Toll Road (Randy Couture), Yin Yang (Jet Li),
dan Hale Caesar (Terry Crews) berkumpul kembali, ditambah kehadiran anggota
baru Bill The Kid (Liam Hemsworth). Misi mereka sebenarnya sangat mudah,
menemukan sebuah paket yang berisikan data tentang keberadaan lima ton
plutonium, yang harganya bisa menjadikan sang pemilik menguasai dunia. Hal
tersebut semakin mudah dengan kehadiran Maggie (Yu Nan), sebagai pemandu utama
mereka. Namun semua berubah ketika mereka bertemu The Sangs, kelompok yang
dipimpin Jean Vilain (Jean-Claude Van Damme).


%2Bposter.jpg)
%2Bpicture%2Bposter.jpg)
+poster.jpg)



.jpg)
